Jadwal Kegiatan

<< November 2014 >> 
 Se  Se  Ra  Ka  Ju  Sa  Mi 
       1  2
  3  4  5  6  7  8  9
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Pilih Artikel

Statistik


Kunjungan hari ini:86
Kunjungan kemarin:95
Kunjungan bulan ini:1721
Kunjungan bulan lalu:1973
Kunjungan tahun ini:20518
Kunjungan total73318
Jadwal : Klik tanggal yang ditandai pada kalender JADWAL KEGIATAN di sebelah kiri
Al-Karim PDF Cetak E-mail
Bahasa Arab - Bahasa Arab Umum
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Rabu, 26 November 2014 20:33

Dalam bahasa Arab, sangat mulia disebut Al-Karim atau Al-‘Aziz. Tetapi lafal Al-Karim sering dipergunakan menyatakan sangat sopan atau Maha Sopan. Contoh: Yusuf putra Yaqub putra Ishaq putra Ibrahim AS. Beliau, ayah, dan kakek-kakeknya, kaum yang sangat sopan. Maka dalam Al-Hadits diistilahkan Al-Karim. Nabi SAW bersabda, “(Al-Karim) Orang sangat sopan, putra (al-karim) orang sangat sopan, putra (al-karim) orang sangat sopan, putra (al-karim) orang sangat sopan, adalah ‘Yusuf bin Yaqub, bin Ishaq, bin Ibarhim AS.” [1]

Dalam riwayat lain, ketika nabi SAW bersabda tentang ‘Kesopanan Yusuf AS’, juga dengan lafal karim. Tapi sudah dirubah wazan atau bentuknya:

“Sungguh saya benar-benar takjub terhadap Yusuf, kesabaran, dan (karomihi) kesopanannya, ketika ditanya tentang (mimpi) beberapa sapi. Semoga Allah mengampuni dia. Kalau aku menjadi dia, tidak mau memberi tahu mereka (tentang takwil mimpi tersebut), kecauli dengan sarat mereka ‘mengeluarkan saya’ dari penjara). Saya juga heran terhadap dia, ketika didatangi oleh utusan raja. Kalau aku menjadi dia, niscaya telah mendahului mereka menuju pintu (keluar), (untuk menghadap raja).”  [2]

 


[1] صحيح البخاري (4/ 151)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «الكَرِيمُ، ابْنُ الكَرِيمِ، ابْنِ الكَرِيمِ، ابْنِ الكَرِيمِ يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ».

[2] تفسير القرطبي (9/ 206)

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:" لَقَدْ عَجِبْتُ مِنْ يُوسُفَ وَصَبْرِهِ وَكَرَمِهِ وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ حِينَ سُئِلَ عَنِ الْبَقَرَاتِ لَوْ كُنْتُ مَكَانَهُ لَمَا أَخْبَرْتُهُمْ حَتَّى أَشْتَرِطَ أَنْ يُخْرِجُونِي وَلَقَدْ عَجِبْتُ مِنْهُ حِينَ أَتَاهُ الرَّسُولُ وَلَوْ كُنْتُ مَكَانَهُ لَبَادَرْتُهُمُ الْبَابَ".

 

 
Semangat Nis PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Hadits
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Selasa, 25 November 2014 12:52

 

Semangat Nis

Jangan pesimis

Jangan menyangka Allah tak mampu membuat kau kaya

Hingga berjaya seperti huwa wahiya

Bahkan Allah justru nggak tega pada anti wa anta

Memberikan semua yang kalian minta

Justru dunia ini hampir

Diberikan pada kaum kafir

Jika tak khawatir

Kalian terpengaruh jadi kafir

Niscaya semua kaum kafir dibuat kaya raya

Oleh Allah yang Maha Mulia

Makanya kalau hanya

Membuat kalian kaya di dunia

Allah justru nggak tega

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2013/11/dunia-bagai-berak.html

 
Raja Kuno Beriman pada Nabi PDF Cetak E-mail
Kisah Islam - Kisah Lainnya
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Selasa, 25 November 2014 10:58

Raja Tubak dari Yaman yang pertama kali memberi selambu Ka’bah. Di bernama As’ad yang mengurungkan ‘niat menyerang’ kota Madinah, karena diberi tahu oleh dua ilmuannya, “Jangan tuan. Karena tempat hijrah nabi Muhammad SAW nanti, di sini.”

Menurut sejarahwan Islam bernama Assuhaili, “Raja Tubak menulis surat untuk nabi SAW. ‘Aku bersaksi bahwa Ahmad adalah Utusan dari Allah yang jalur keturunannya bersih. Kalau umur dipanjangkan hingga saya bertemu beliau, niscaya saya menjadi pendamping dan anak paman beliau. Dan niscaya musuh-musuhnya telah kuperangi dengan pedang. Dan segala yang membuat beliau susah, aku singkirkan untuk melonggarkan hatinya’.” [1]

 


[1] البداية والنهاية (2/ 204)

قَالَ السُّهَيْلِيُّ وَقَدْ قَالَ تُّبَّعٌ حِينَ أَخْبَرَهُ الْحَبْرَانِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شِعْرًا: شَهِدْتُ عَلَى أَحْمَدَ أَنَّهُ * رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ بَارِي النَّسَمْ فَلَوْ مُدَّ عُمْرِي إِلَى عُمْرِهِ * لَكُنْتُ وَزِيرًا لَهُ وَابْنَ عَمْ وَجَاهَدْتُ بِالسَّيْفِ أَعْدَاءَهُ * وَفَرَّجْتُ عَنْ صَدْرِهِ كُلَّ هَمْ قَالَ وَلَمْ يَزَلْ هَذَا الشِّعْرُ تَتَوَارَثُهُ الْأَنْصَارُ وَيَحْفَظُونَهُ بَيْنَهُمْ وَكَانَ عِنْدَ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ.

 

 
Keluarga Fakir Berbahagia PDF Cetak E-mail
Kisah Islam - Kisah Lainnya
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Senin, 24 November 2014 13:15

Berdasarkan riwayat, Abu Ayub Al-Anshori, termasuk sahabat nabi SAW yang sangat fakir, tapi paling bahagia. Kisah ini dimulai dari, nabi singgah di kampung Bani Amer hanya selama lima hari. Padahal penduduk berharap nabi tingga di kalangan mereka selamanya. Di tengah perjalanan, ketika nabi SAW akan masuk kota Madinah, dalam rangka mencari tempat tinggal, dijumpai oleh keluarga besar Banu Salim bin Auf. Mereka berkata, “Silahkan baginda menjadi tetangga kami, untuk memperbanyak, melengkapi, dan memperkuat penduduk kami. Bertempatlah di pertengahan kami.”

Nabi menjawab, “Biarkan unta ini! Jangan ditahan! Dia ada yang memerintah!.”

Setelah unta yang dikendarai berjalan sampai perkampungan yang dihuni oleh keluarga besar Bayadhoh, masarakat setempat juga melakukan kelakuan yang sama. Ingin memberi tempat tinggal untuk Rasulullah SAW. Namun Rasulullah SAW menjawab mereka dengan jawaban yang sama. Setelah sampai perkampungan yang dihuni oleh keluarga besar Saidah, masarakat setempat melakukan kelakuan yang sama. Memohon agar nabi mau tinggal di pertengahan mereka. Namun nabi menjawab mereka seperti jawaban sebelumnya. Ketika nabi sampai perkampungan yang dihuni oleh paman-paman dari jalur ibunya, masarakat juga melakukan kelakuan yang sama. Mereka yang disebut Bani Adi (keturunan Adi). Mereka berkata, “Tinggallah bersama kami. Kami paman-paman baginda.”

Nabi menjawab seperti jawaban untuk kaum sebelumnya. Unta berjalan membawa nabi SAW, hingga masuk perkampungan Bani Malik bin Najar. Unta berhenti lurus di depan Masjid Nabawi. Setelah menoleh, unta berdiri lagi untuk berjalan. Namun kembali lagi menuju tempat semula. Unta mendekam dan bergerak mencari tempat paling nyaman, lalu diam istirahat. Rasulullah SAW turun dari untanya. Barang bawaannya dibawakan oleh Abu Ayub untuk dimasukkan kerumahnya.

Rasulullah SAW perintah agar dibangun Masjid Nabawi. [1]

Umat Islam banyak yang sedih karena nabi tidak menjadi tetangga mereka. Dengan berbahagia, Abu Ayub memanggil ibunya, “Ibu. Bukakan pintu. Tuan besar manusia SAW datang. Beliau keluarga besar Robiah dan Mudhor paling mulia. Bernama Muhammad Musthofa (hebat). Utusan pilihan.”

Dengan tergesa-gesa, Ibu Abu Ayub bergerak membukakan pintu. Wanita buta itu berkata, “Betapa bahagia jika saya bisa melihat wajah tuanku Rasulillah SAW.”

Awal Mukjizat yang ditunjukkan di Madinah, Rasulillah SAW meletakkan tangan di depan wajah Ibu Abi Ayub. Sontak dua matanya terbuka dan melihat. [2]

Walau tida ada riwayat yang menjelaskan, diperkirakan Ibnu Abi Ayub menangis karna terlalu bahagia:

1.     Sembuh dari kebutaannya.

2.     Bisa melihat wajah Rasulillah SAW.

3.     Rumahnya dihuni oleh Rasulillah SAW, sementara waktu.

Ada lagi yang melengkapi kebahagiaan keluarga Abi Ayub dan penduduk Madinah. Saat itu, surat raja Tubak berbentuk sajak untuk Rasulillah SAW, dibacakan. Surat ditulis seribu tahun yang lalu, ketika raja Tubak singgah di Madinah.

 


[1] أسد الغابة (2/ 121)

(370) أخبرنا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيٍّ، بِإِسْنَادِهِ إِلَى يُونُسَ بْنِ بُكَيْرٍ، عن ابْنِ إِسْحَاقَ، قَالَ: فَأَقَامَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ ظَهْرَانِيهِمْ خَمْسًا، يَعْنِي بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ، وَبَنُو عَمْرٍو يَزْعُمُونَ أَنَّهُ أَقَامَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، وَخَرَجَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ فَاعْتَرَضَهُ بَنُو سَالِمِ بْنُ عَوْفٍ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلُمَّ إِلَى الْعَدَدِ وَالْعُدَّةِ وَالْقُوَّةِ، أَنْزِلْ بَيْنَ أَظْهُرِنَا، فَقَالَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " خَلُّوا سَبِيلَهَا فَإِنَّهَا مَأْمُورَةٌ "، ثُمَّ مَرَّ بِبَنِي بَيَاضَةَ فَاعْتَرَضُوهُ، فَقَالُوا مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ مَرَّ بِبَنِي سَاعِدَةَ، فَقَالُوا مِثْلَ ذَلِكَ، فَقَالَ: " خَلُّوا سَبِيلَهَا فَإِنَّهَا مَأْمُورَةٌ " ثُمَّ مَرَّ بِأَخْوَالِهِ بَنِي عَدِيِّ بْنِ النَّجَّارِ، فَقَالُوا: هَلُمَّ إِلَيْنَا أَخْوَالَكَ فَقَالَ مِثْلَ ذَلِكَ، فَمَرَّ بِبَنِي مَالِكِ بْنِ النَّجَّارِ فَبَرَكَتْ عَلَى بَابِ مَسْجِدِهِ، ثُمَّ الْتَفَتَتْ ثُمَّ انْبَعَثَتْ، ثُمَّ كَرَّتْ إِلَى مَبْرَكِهَا الَّذِي انْبَعَثَتْ مِنْهُ، فَبَرَكَتْ فِيهِ، ثُمَّ تَحَلْحَلَتْ فِي مُنَاخِهَا وَرَزَمَتْ، فَنَزَلَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا، فَاحْتَمَلَ أَبُو أَيُّوبَ خَالِدُ بْنُ زَيْدٍ رَحْلَهُ، فَأَدْخَلَهُ بَيْتَهُ، وَأَمَرَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبِنَاءِ الْمَسْجِدِ.

[2] اول معجزة للنبي محمد في المدينة المنورة

قال سلمان :
لما قدم النبي صلى الله عليه وآله المدينة تعلق الناس بزمام الناقة فقال النبي (صلى الله عليه وآله) :
« يا قوم دعوا الناقة فهي مأمورة، فعلى باب من بركت فأنا عنده »
...

فأطلقوا زمامها وهي تهف[أي تسرع] في السير حتى دخلت المدينة فبركت على باب أبي أيوب الانصاري، ولم يكن في المدينة أفقر منه، فانقطعت قلوب الناس حسرة على مفارقة النبي (صلى الله عليه وآله) ، فنادى أبو أيوب:
يا أماه افتحي الباب، فقد قدم سيد البشر، وأكرم ربيعة ومضر، محمد المصطفى، والرسول المجتبى، فخرجت وفتحت الباب وكانت عمياء فقالت:
واحسرتاه ليت كانت لي عين أبصر بها وجه سيدي رسول الله صلى الله عليه وآله،
فكان أول معجزة النبي صلى الله عليه وآله في المدينة
أنه وضع كفه على وجه أم أبي أيوب فانفتحت عيناها
_____________
اعمل شير او مشاركة ليستفيد منها غيرك ولا تنسى الدال على
الخير كفاعله جعله الله عز وجل فى ميزان حسناتك باذن الله تعالى

 

 

 
Kisah Dalam Surat Yaasiin (3) PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an & Hadits
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Jumat, 21 November 2014 17:38

Terjemahan dari Mafatihul-Ghoib

Dan Al-Kassyaf

In syaa Allah Bersambung

 

Dalam Mafatihul-Ghoib, dijelaskan, “Pembahasan awal FirmanNya ‘dari ujung kota, datang lelaki dengan bergegas’. Lelaki (rojul) di sini dibuat isim nakiroh, padahal dia di sisi Allah, jelas telah diketahui (makrifat). Karena:

1.     Sebagai pernyataan bahwa lelaki sempurna tersebut orang hebat. Karena membela kebenaran yang disampaikan oleh para Utusan. Dia bernama Habib Annajar, pekerjaannya memahat patung. Namun dia telah beriman pada Nabi Muhammad sebelum lahirnya SAW. Dia tergolong Ulama dalam bidang Kitab Allah. Melalui Kitab, dia tahu sifat-sifat dan setatus Muhammad SAW sebagai Utusan Allah.

2.     Firman ‘yas’aa - dengan bergegas’ sebagai penjelasan dan petunjuk, agar kaum iman mau memberikan nasehat dengan serius. Kami jelaskan faedah dari FirmanNya ‘min aqshol madiinah – dari ujung kota’, yakni ujung kota Anthokiah. Tiga Utusan menyampaikan Risalah hingga ujung kota. [1]

 

Al-Bagowim menjelaskan, “Habib Annajar penderita lepra ini, bergegas dari ujung kota, karena mendengar berita, ‘tiga Utusan akan dirajam dan disiksa’.” [2]

 

Dalam Al-Kassyaf, Azzamakhsyari menjelaskan, “Lelaki yang oleh Allah dijelaskan ‘datang dengan bergegas’ Habib bin Israil Annajar. Pekerjaannya memahat patung. Dia tergolong orang yang beriman pada Rasulillah SAW. Padahal jarak antara dia dengan Nabi SAW, 600 tahun. Seperti Tubak Al-Akbar, Waraqah dan lainnya, juga telah beriman pada Nabi SAW sebelum diutus. Padalah umunya orang beriman pada Nabinya, setelah diutus. ada yang berkata ‘tadinya dia sedang beribadah di dalam gua. Setelah mendengar berita tiga Utusan akan dirajam atau disiksa oleh masa, dia datang untuk menjelaskan agamanya, dan membantah kaum kafir’. Mereka membentak ‘masyak kau menyelisihi agama kami?!’. Mereka mengeroyok untuk membunuh dia.

Ada yang berkata ‘dengan kaki mereka menginjak-injak Habib Annajar. Hingga isi perut keluar dari duburnya’.

Ada yang berkata ‘dia dirajam’ dan berdoa ‘ya Allah! Bimbinglah kaumku!’. Makam dia di pasar Anthokiah. Setelah dia tewas, Allah murka hingga mereka dibinasakan melalui ‘teriakan Jibril AS’. [3]

 


[1] تفسير الرازي = مفاتيح الغيب أو التفسير الكبير (26/ 263)

الْمَسْأَلَةُ الْأُولَى: قَوْلُهُ: وَجاءَ مِنْ أَقْصَا الْمَدِينَةِ رَجُلٌ فِي تَنْكِيرِ الرَّجُلِ مَعَ أَنَّهُ كَانَ مَعْرُوفًا مَعْلُومًا عِنْدَ اللَّهِ فَائِدَتَانِ الْأُولَى: أَنْ يَكُونَ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ أَيْ رَجُلٌ كَامِلٌ فِي الرُّجُولِيَّةِ/ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ مُفِيدًا لِظُهُورِ الْحَقِّ مِنْ جَانِبِ الْمُرْسَلِينَ حَيْثُ آمَنَ رَجُلٌ مِنَ الرِّجَالِ لَا مَعْرِفَةَ لَهُمْ بِهِ فَلَا يقال إنهم تواطؤا، وَالرَّجُلُ هُوَ حَبِيبٌ النَّجَّارُ كَانَ يَنْحِتُ الْأَصْنَامَ وقد آمن بمحمد صلى الله عليه وآله وَسَلَّمَ قَبْلَ وُجُودِهِ حَيْثُ صَارَ مِنَ الْعُلَمَاءِ بِكِتَابِ اللَّهِ، وَرَأَى فِيهِ نَعْتَ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عليه وآله وَسَلَّمَ وَبَعْثَتَهُ.

[2] تفسير البغوي - طيبة (7/ 14)

فَلَمَّا بَلَغَهُ أَنَّ قَوْمَهُ قَصَدُوا قَتْلَ الرُّسُلِ جاءهم {قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ}.

[3] تفسير الزمخشري = الكشاف عن حقائق غوامض التنزيل (4/ 10)

رَجُلٌ يَسْعى هو حبيب بن إسرائيل النجار، وكان ينحت الأصنام، وهو ممن آمن برسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، وبينهما ستمائة سنة كما آمن به تبع الأكبر وورقة بن نوفل وغيرهما، ولم يؤمن بنبي أحد إلا بعد ظهوره. وقيل: كان في غار يعبد الله، فلما بلغه خبر الرسل أتاهم وأظهر دينه وقاول الكفرة، فقالوا: أو أنت تخالف ديننا، فوثبوا عليه فقتلوه وقيل: توطئوه بأرجلهم حتى خرج قصبه من دبره. وقيل: رجموه وهو يقول: اللهم اهد قومي، وقبره في سوق أنطاكية، فلما قتل غضب الله عليهم فأهلكوا بصيحة جبريل عليه السلام.

 

 

 
« MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir »

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Latest News

Popular


Diperkuat dengan Joomla!. Designed by: joomla themes movie stars Valid XHTML and CSS.