Jadwal Kegiatan

<< Februari 2012 >> 
 Se  Se  Ra  Ka  Ju  Sa  Mi 
    1  2  3  4  5
  6  7  8  9101112
131416171819
20212223242526
272829    

Pilih Artikel

Statistik


Kunjungan hari ini:61
Kunjungan kemarin:65
Kunjungan bulan ini:1500
Kunjungan bulan lalu:2094
Kunjungan tahun ini:3594
Kunjungan total7311
Jadwal : Klik tanggal yang ditandai pada kalender JADWAL KEGIATAN di sebelah kiri
Allah yang Terkuat PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam   
Selasa, 21 Februari 2012 09:55

Perang terbesar sepanjang sejarah adalah Perang Badar yang terjadi pada hari Jumah tanggal 17 Ramadlan tahun 2 Hijriyah. Karena kaum Muslimiin dan para malaikat yang ikut dalam perang tersebut, dari kalangan yang paling mulia.

Perang Badar terdiri dua kubu: kaum Muslimiin dipimpin oleh Rasulallah SAW didukung oleh Allah yang terkuat dan para malaikatNya; kaum Musyrik dipimpin Abu Jahl didukung oleh Syaitan dan pasukannya.

 

Sebetulnya perang itu telah direncanakan oleh kaum Musyrik. Abu Sufyan telah menarik saham dari seluruh kaum Musyrik di Makkah untuk modal berdagang ke Syam yang labanya akan dipergunakan sebagai berbekalan memerangi kaum Muslimiin.

Nabi SAW tahu bahwa Abu Sufyan dan kafilahnya dari Syam akan lewat, sehingga bersbda pada para sahabatnya; “Saya mendapatkan laporan bahwa kafilah Abu Sufyan akan lewat. Bukankah kalian mau? Saya ajak menghadang mereka dengan harapan semoga Allah memberikan rampasan perang dari mereka untuk kita?.”

Nabi SAW dan para sahabat berbondong-bondong akan menyongsong kafilah Abu Sufyan. Ternyata Abu Sufyan tahu kalau rombongannya akan dihalang-halangi, karena laporan dari mata-mata. Abu Sufyan berbelok untuk menyusuri jalan pantai, menghindari serangan nabi SAW dan para sahabatnya.

 

Melalui teriakan seorang utusan, Abu Jahl dan pasukannya tahu bahwa sahabat mereka bernama Abu Sufyan dan rombongannya yang membawa harta berjumlah banyak, dihalang-halangi oleh Muslimiin. Abu Jahl segera memberangkatkan pasukannya untuk melindungi kafilah Abu Sufyan dari serangan Muslimiin.

Di tengah perjalanan Abu Jahl tahu bahwa kafilah Abu Sufyan telah selamat dan telah kabur melalui pantai, namun dia bersikeras memberangkatkan pasukannya menuju Badr. Dia berkata, “Tidak! Saya takkan pulang sebelum datang ke mata-air Badr untuk berpesta daging unta dan arak, sambil menikmati nyanyian biduanita kita.”

Lalu mengarak pasukannya dengan menabuh genderang perang, dengan congkak dan sombong. Dan yakin bahwa mereka pasti akan menjadi pemenang. 

 

Ketika kaum Muslimiin tahu bahwa Abu Sufyan dan rombongan telah kabur, dan bahwa Abu Jahl yang tidak diperhitungkan ternyata justru telah datang; berdebar-debar ketakutan bahkan yakin bahwa diri mereka akan segera tewas oleh keganasan serangan Abu Jahl dan pasukannya.

 

Perang yang mendebarkan itu berakhir dengan kemenangan Muslimiin atas kaum Musyrik. Kemenangan akbar itu diketahui telah direncanakan oleh Allah, karena setelah itu Allah berfirman:

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ  [الأنفال/7، 8].

Artinya:

Ketika itu Allah menjanjikan ‘salah satu dua golongan’ untuk kalian: “Sungguh itu untuk kalian.” Namun kalian senang bahwa sungguh selain yang memiliki senjata (kafilah Abu Sufyan) yang untuk kalian. Padahal Allah menginginkan menghakkan kebenaran dengan KalimatNya, dan menumpas akar kaum kafir. Untuk menghakkan kebenaran dan membatalkan barang batal, walaupun kaum yang berdosa benci. [Qs Al-Anfal 7-8].

 

Maksud penulis sederhana: “Di balik kehidupan yang nyata ini ada kehidupan yang tidak tampak: Allah yang terkuat, para malaikat, dan para syaitan. Allah terkuat yang selalu disembah oleh para malaikat selalu mendukung para hambaNya yang mentaatiNya; sedangkan syaitan selalu menggoda agar hamba-hamba Allah menetang Allah dan Rasulallah SAW.”

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2012/02/allah-yang-terkuat.html

 
KW 189: Yuqana Bersiasat PDF Cetak E-mail
Kisah Islam - Kholid Bin Walid
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam   
Senin, 20 Februari 2012 09:38

 (Bagian ke-189 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

 

Ketika Abu Ubaidah telah membaca surat, maka berbahagia atas berita selamatnya Amer dan pasukan yang dipimpin. Lalu menulis surat jawaban:

“Jika suratku telah kau baca, segeralah kembali ke Qaisariyah! Saya akan segera memberangkatkan pasukan untuk menggempur kaum Shaur (صور), Akka (عَكّاءَ), Tharabulus (طرابُلُس), dan Qaisariyah (قَيْسارِيَةَ), yang tidak mau mentaati Allah.”

 

Abu Ubaidah perintah agar pasukannya bersiap untuk berangkat ke Sachil. Abdullah Yuqana raja Chalab (Aleppo) berdiri untuk berkata, “Yang mulia, Allah telah menggulingkan kekufuran dan menjayakan ketauhidan. Saya ingin berangkat mendahului menuju kesana, dengan harapan bisa mendahului berperang sebelum lainnya.”

Abu Ubaidah menjawab, “Ya Abdallah! Kalau memang tujuanmu untuk mendekat pada Allah, pasti Allah juga akan mendekatimu. Silahkan!.”

Abdullah Yuqana bergegas menyiapkan pasukannya yang terdiri dari kaum Chalab. Mereka berjumlah 4.000 pasukan berkuda. Derap kaki kuda mereka membahana dan debu-debu beterbangan. Mereka mendahului Abu Ubaidah dan pasukannya.

 

Di antara pasukan Abu Ubaidah yang dibawa oleh Abdullah Yuqana, ada 3.000 bathriq yang telah Islam dan telah bertekat ikut berjihad dibawah pimpinan Jufas (جوفاس). Mereka telah menyadari bahwa agama Islam adalah kelanjutan dari agama Isa bin Maryam AS. Dan telah sadar bahwa Allah lah satu-satunya Tuhan yang harus disembah yang mutlak tidak berputra dan diputrakan.

 

Setelah Filasthin dan 80.000 pasukanya kabur dari Jabiyah menuju kerajaan Qaisariyah, lalu perintah agar 3.000 pasukan berkuda dari kota Tharabulus datang untuk memperkuat pertahanan kerajaan. Arak-arakan pasukan berkuda dari Tharabulus berbondong-bondong mengabulkan undangan Filasthin. Dalam perjalanan yang panjang itu, mereka istirahat di hutan dan mengikat kuda mereka.

Tiba-tiba Raja Yuqana dan pasukannya muncul. Di dalam pasukan Yuqana ada raja Romawi bernama Filanthinus dan Jirfas pimpinan para bathriq yang telah Islam. Tadinya Filanthinus bertemu di jalan lalu bergabung pada pasukan Muslimiin di bawah pimpinan Yuqana.

Jirfas memacu kudanya untuk mendekati pasukan dari Tharabulus, lalu mengucapkan salam dan bertanya, “Siapa kalian?.”

Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tadinya berlindung pada kaum Arab karena kami menyangka mereka baik. Ternyata mereka jahat dan agamanya jelek. Kami kaum Chalab (Aleppo), Qinasrin, Izaz, Darim, dan Anthakiyah, yang akan menghadap pada Raja Hiraqla.”

Jirfas lega ketika mendengar jawaban mereka. Lalu berkata dengan lembut: “Istirahatlah di sisi kami sejenak untuk menghilangkan lelah. Kalian pasti khawatir pada serangan kaum Arab.”

Jirfas yakin mereka tidak curiga bahwa dirinya telah Islam.

Yuqana juga bertanya pada mereka: “Kalian akan diutus kemana?.”

Mereka menjawab, “Raja Filasthin perintah agar kami ke Tharabulus.”

Yuqana berkata, “Hati-hati! Setahu kami Abu Ubaidah berencana pergi ke Sachil.”

Jirfas berkata, “Kekuasaan kita telah hilang dan hari-hari indah kita tinggal kenangan. Ternyata Salib yang kita sembah tidak bisa menolong kita.”

 

Arak-arakan kaum Romawi itu mau istirahat di sisi kaum Muslimiin yang dipimpin oleh Yuqana. Setelah capeknya hilang dan telah diberi makanan oleh pasukan Muslimiin, mereka pergi meneruskan perjalanan. Hampir saja Jirfas mengejar mereka, tetapi dihalang-halangi oleh Yuqana: “Jangan! Suruhlah pasukanmu agar mengenakan busana terbaik, agar orang-orang sungkan pada kalian.”

 

Setelah rencana muslihatnya matang, Yuqana membawa pasukan menuju Sachil (pantai) untuk menangkap sejumlah orang di bawah pimpinan Al-Charits bin Sulaim. Tangan mereka diikat erat hingga belikat. Ketika malam tiba, mereka dikumpulkan untuk diberi tahu, “Maaf saudara sekalian! Ini hanya siasat. Saya tidak murtad dari Islam, dan takkan mencelakai kalian. Ini siasat agar kaum Romawi menyangka saya telah menyerbu dan menangkap kalian kaum Arab.”

Setelah tahu maksud Yuqana, Al-Charits dan tawanan lainnya menjadi tenang. Mereka berkata, “Kalau tujuan kau bersiasat untuk menegakkan Agama Allah maka Allah akan menolong kau mengalahkan musuh-musuh.”

Beberapa pria disuruh oleh Yuqana agar berpura-pura membawa harta rampasan. Jirfas merasa tenang pada Yuqana karena para tawanan dan binatang para tawanan hanya dikumpulkan tidak dirampas.

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2012/02/kw-189-yuqana-bersiasat.html

 
Khaulah Wanita Hebat PDF Cetak E-mail
Kisah Islam - Kisah Lainnya
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam   
Selasa, 14 Februari 2012 14:09

Wanita shalihat adalah simpanan kekayaan paling berharga bagi suami. Dialah wanita yang menempa anak dan suami hingga menjadi orang hebat. Perhatikanlah! Tiap ada lelaki hebat, pasti di sisinya ada wanita hebat yang berpengaruh dalam kehidupannya. Itulah yang dimaksud menempa lelaki. Dan orang hebat seperti: Maryam, Bukhari dan lainnya juga anak wanita hebat.

Wanita yang telah taat namun suami mengacuhkannya, pasti dikasihani oleh Allah Taala. Zaman nabi SAW ada wanita shalihah bernama Khaulah binti Tsalabah (خَوْلَة بِنْت ثَعْلَبَة) yang dianiaya oleh suami (Aus bin Asshamit/أَوْسُ بْنُ الصَّامِتِ) sehingga melaporkan pada nabi SAW dan pada Allah. Allah mendengarkan laporannya dan berfirman:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ  [المجادلة/1].

Artinya:

Sungguh Allah telah mendengar wanita yang melaporkan padamu mengenai suaminya, dan melaporkan pada Allah. Allah mendengar perbincangan kalian berdua. Sungguh Allah Maha mendengar Maha melihat.

Tentu saja Firman itu membuat para sahabat kagum pada kehebatan Khaulah adik ipar sahabat dekat nabi SAW bernama Ubadah bin Asshamit (عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ). Di antara mereka yang pantas ditulis mengenai kekagumannya pada Khaulah adalah Umar bin Al-Khatthab dan Aisyah (عَائِشَةُ) RA:

  • Umar pernah naik himar bersama rombongan dan bertemu Khaulah. Khaulah minta agar Umar berhenti untuk dinasehati dalam waktu cukup lama. Perkataan Khaulah di antaranya: “Hai Umar, ketika kau masih kecil panggilanmu ‘Umar kecil’. Setelah dewasa dipanggil ‘Umar’. Setelah dibaiat dipanggil ‘Amiral mukminiin’. Kini bertaqwalah pada Allah ya Umar! Orang yang yakin akan mati pasti rajin beribadah. Orang yang tahu bahwa amalannya akan dihisab, pasti takut disiksa.”

Umar RA berhenti lama untuk mendengarkan nasehat Khaulah.

Ada orang bertanya, “Ya Amiral mukminiin, masyak kau mau berhenti lama hanya untuk mendengarkan wanita tua ini?.”

Mereka mendengarkan dan heran pada jawaban Umar RA: “Demi Allah! kalau dia menahanku mulai pagi hingga sore untuk menceramahiku, pasti saya berhenti dan mendengarkan terus. Saya akan pergi hanya untuk shalat wajib. Tak tahukah kalian siapa wanita tua ini? Dialah Khaulah binti Tsalabah yang ucapannya didengarkan oleh Allah. Masyak Tuhan seluruh alam mendengarkan ucapan dia; Umar justru tak mau mendengarkannya?.”

  • Aisyah (عَائِشَةُ) RA, istri nabi SAW juga kagum pada Khaulah. Dia berkisah, “Maha Barakah zat yang pendengarannya bisa menangkap segala sesuatu. Sungguh saya mendengar sebagian capan Khalah binti Tsalabah, dan tidak mampu mendengar sebagian. Saat itu dia melaporkan suaminya pada Rasulallah SAW: ‘ya Rasulallah, dia telah menghabiskan masa mudaku. Rahim saya telah melahirkan anak-anaknya. Setelah saya tua dan tidak melahirkan lagi, dia justru mendlihar saya.[1] Ya Allah, saya laporan padaMu. Dia berdoa demikian terus hingga Jibril AS menurunkan ini ayat: قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ  [المجادلة/1].

Artinya:

Sungguh Allah telah mendengar wanita yang melaporkan padamu mengenai suaminya, dan melaporkan pada Allah. Allah mendengar perbincangan kalian berdua. Sungguh Allah Maha mendengar Maha melihat.

 

Kesimpulan: Khaulah dan wanita yang senasib dengannya pasti diperhatikan dan doanya dikabulkan oleh Allah. Dan wanita dinikah untuk dicintai dan disayang. Rasulullah SAW bersabda, “Nasehatlah pada wanita secara baik-baik! Sebab mereka adalah tawanan di sisi kalian. Kalian tidak berwenang kecuali sebatas itu, kecuali jika mereka melakukan penyelewengan yang nyata.”

 


[1] Dlihar adalah talak model Jahiliyyah.

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2012/02/khaulah-wanita-hebat.html

Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 14 Februari 2012 14:32
 
KW 188: Raja Filasthin dan Pasukannya Kabur PDF Cetak E-mail
Kisah Islam - Kholid Bin Walid
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam   
Selasa, 14 Februari 2012 06:46

 (Bagian ke-188 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

 

Tewasnya Bathriq Qidamun membuat Filasthin dan pasukannya terkejut dan lemas, karena kehilang ahli perang andalan mereka. Hujan lebat mengguyur bumi; dua kubu menarik pasukan mereka masing-masing untuk berteduh. Arak-arakan 80.000 pasukan Filasthin memacu kuda secepat-cepatnya menuju Jabiyah untuk berteduh. Termasuk yang perasaannya paling kacau dan ketakutan adalah Filasthin raja mereka.

Filasthin menganjurkan, “Sebaiknya kita kembali ke kerajaan. Kalian tahu sendiri pasukan kita di Yarmuk dan di Anthakiyah jauh lebih banyak daripada pasukan ini. Ternyata disapu oleh pasukan Arab hingga kebanyakan mereka tewas. Ayah kabur menuju Qusthanthiniyah (القسطنطينية/Costantinople) hingga kaum Arab menguasai seluruh negri Syam, yang tersisa hanya kota ini. Saya takut jika mereka mengalahkan kita lalu merebut negri ini. Lebih baik kita pergi daripada harus berperang dengan kaum Arab.” Pasukan Filasthin semua setuju.

Di malam yang mendebarkan itu arak-arakan 80.000 pasukan berkuda menembus hujan lebat meninggalkan negri Jabiyah. Empat hari hujan lebat itu baru berhenti. Di pagi yang indah itu mentari bersinar terang benderang menghangati bumi. Burung-burung di hutan berkicau bersaut-sautan seakan-akan mengucapkan syukur dan bertasbih pada penguasa alam semesta.

Amer menulis surat untuk Abu Ubaidah bin Al-Jarrach:

بسم الله الرحمن الرحيم

Dari amer bin Al-Ash untuk panglima pasukan Muslimiin, Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrach.

سلام عليك ورحمة الله وبركاته

Amma bakd: Wahai sahabat Rasulillah SAW sungguh Filasthin putra Hiraqla telah mengerahkan 80.000 pasukan berkuda untuk menyerang kami. Kami bertemu mereka di daerah Nakhl (نخل). Syurachbil berkelahi melawan tokoh besar mereka bernama Qidamun putra bibi Hiraqla. Syurachbil telah ditindih untuk disembelih oleh Qidamun, namun Thalchah datang untuk menyerang Qidamun. Qidamun bergerak cepat untuk menghindari serangan Thalchah; Syurachbil meloloskan diri dan bergerak cepat sekali menebaskan pedangnya hingga leher Qidamun putus dan kepalanya terlempar. Kini Thalchah saya perintah mengantar surat pada Umar RA. Dan semua pasukan Filasthin telah kabur jauh pulang ke kerajaan. Kini saya menunggu jawaban kau.

والسلام عليك وعلى من معك من المسلمين ورحمة الله وبركاته

 

Yang diperintah mengantar surat pada Abu Ubaidah, Jabir bin Said Al-Chadhrami. Jabir memacu kuda secepat-cepatnya menyusuri jalan panjang dan berliku.

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2012/02/kw-188-raja-filasthin-dan-pasukannya.html

 
KW 187: Thalchah diterima oleh Umar PDF Cetak E-mail
Kisah Islam - Kholid Bin Walid
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam   
Senin, 13 Februari 2012 07:34

 (Bagian ke-187 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

 

Thalchah menangis dengan bersuka-cita; Suyurachbil mau menerima dirinya sebagai saudara Muslim. Thalchah ingat ketika dirinya mengaku sebagai nabi hingga dia dan pasukannya diserang oleh Khalid dengan pasukanya yang ganas. Sahabat dia bernama Musailamah yang mengaku nabi, dan pasukannya, tewas dalam peperangan itu. Al-Aswad Al-Absi yang mengaku nabi juga tewas bersama pasukannya oleh pasukan Khalid yang sangat kuat.

Thalchah kabur bersama istrinya menuju Syam untuk minta perlindungan pada lelaki dari Kaleb. Lelaki itu mengabulkan permohonan dan mempersilahkan Thalchah dan istrinya menginap di rumahnya. Beberapa hari setelah itu Thalchah ditanya tentang kenapa kabur dan ketakutan?. Setelah Thalchah menjelaskan tentang dirinya yang mengaku sebagai nabi hingga diperangi oleh Khalid dan pasukannya; lelaki itu marah dan mengusir, “Pergi! Saya tak sudi melindungimu di sini!.”

Thalchah dan istrinya pergi ke Syam dan bertobat pada Allah. Ketika berita wafatnya Abu Bakr sampai padanya, dia berkata, “Lelaki yang menegakkan jihad itu telah wafat. Siapakah yang menggantikannya?.” Beberapa orang menjawab, “Umar!.”

Thalchah terkejut dan berkata, “Dia sangat tegas dan ganas.” Dan takut menghadap Umar untuk menyatakan telah bertobat. Rasa takut bertemu Khalid yang terlalu ganas juga selalu menghantui dirinya. Dia takut Khalid tahu bahwa dirinya tinggal di Syam.

Thalchah berpinah ke Qaisariyah (Caesarea) untuk bersembunyi di suatu Jazirah. Ketika arak-arakan pasukan Filasthin datang, dia berkata, “Saya akan menyelinap pada pasukan ini untuk berupaya menebus dosa dan mendekat pada Allah dan pada Muslimiin.”

Ketika Syurachbil hampir disembelih oleh Bathriq Qidamun, Thalchah memacu kuda secepat-cepatnya untuk menyerang Bathriq Qidamun. Ternyata Syurachbil bergerak cepat untuk meloloskan diri dari tindihan yang merenggang, lalu mengayunkan pedang sekuat tenaga hingga leher Bathriq Qidamun tertebas putus dan darahnya tumpah.

 

Ketika Amer bin Al-Ash menyatakan, “Semoga tobatmu diterima oleh Allah,” tangisan Thalchah meledak lagi karena suka-cita. Dengan mata berlinang Thalchah berkata, “Tapi saya takut Khalid, ya Amer. Dia akan membunuh saya.”

Dengan berwibawa namun sejuk, Amer berkata, “Saya akan melakukan sesuatu agar kau selamat di dunia dan akhirat.” Lagi-lagi airmata Thalchah meleleh karena terhibur. Lalu bibirnya melafalkan, “Apa yang kau maksud?.”

Amer berkata, “Saya akan menulis surat untuk Umar mengenai jasa dan kebaikanmu dan bahwa pasukan Muslimiin telah menyaksikan hal itu. Antarkanlah surat itu nanti pada Umar bin Al-Khatthab RA. Katakan pada beliau ‘saya benar-benar telah bertobat’ pasti dia akan menerimamu, in syaa Allah. Saya yakin beliau akan mengutusmu agar bergabung pada pasukan Muslimiin di medan perang, agar dosamu yang telah kau lakukan terhapus.”

Thalchah mengirup nafas panjang dan merasa lega. Dan berkata, “Saya akan segera mengantar surat yang kau maksud pada Umar RA.” Amer menulis surat untuk Umar RA. Surat diberikan pada Thalchah yang segera membawanya menuju Madinah untuk diberikan pada Umar RA.

Di Madinah tidak ada Umar RA karena sedang pergi ke Makkah. Thalchah menyusul dan menjumpai Umar sedang menggelayut pada selambu Ka’bah di Makkah. Thalchah menirukan menggelayut dan berkata, “Ya Amiral mukminiin, saya telah bertobat pada Allah azza wajalla.” Umar bertanya, “Siapa kau?.” Dia menjawab, “Saya Thalchah bin Khuwailid.” Umar terkejut lalu mengindar dan lari cepat sambil berkata, “Saya akan celaka jika memaafkanmu. Saya akan berkata apa besok di sisi Allah azza wajalla, karena kaulah yang telah membunuh Ukasyah bin Michshan Al-Asadi.”

Thalchah menangis dan mengejar sambil berdoa, “Ya Amiral mukminiin, Ukasyah gugur karena seranganku hingga Allah memuliakan dia dan saya jadi celaka. Saya telah beramal baik karena berharap Allah mengampuni saya.”

Umar iba melihat Thalchah menangis. Lalu bertanya, “Amalan baik apa yang telah kau lakukan?.” Thalchah memberikan surat Amer pada Umar RA yang segera membuka dan membacanya. Wajah Umar menjadi cerah setelah memahami isinya. Perkataan Umar, “Berbahagialah! Sungguh Allah Maha pengampun Maha penyayang,” membuat tangisan Thalchah meledak karna bahagia.

Umar perintah, “Kau di sini saja hingga saya pulang ke Madinah. Beberapa hari kemudian Thalchah pergi ke Madinah mengikuti Umar RA. Di Madinah Umar perintah agar Thalchah pergi ke medan perang di Persia.

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2012/02/kw-187-thalchah-diterima-oleh-umar.html

 
« MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir »

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Latest News

Popular


Diperkuat dengan Joomla!. Designed by: joomla themes movie stars Valid XHTML and CSS.