Jadwal Kegiatan

<< Juli 2014 >> 
 Se  Se  Ra  Ka  Ju  Sa  Mi 
   1  2  3  4  5  6
  7  8  910111213
14151617181920
21222324252627
28293031   

Pilih Artikel

Statistik


Kunjungan hari ini:28
Kunjungan kemarin:53
Kunjungan bulan ini:1359
Kunjungan bulan lalu:1712
Kunjungan tahun ini:12676
Kunjungan total65476
Jadwal : Klik tanggal yang ditandai pada kalender JADWAL KEGIATAN di sebelah kiri
Anak Dibuang Jadi Raja PDF Cetak E-mail
Kisah Islam - Kisah Lainnya
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Minggu, 20 Juli 2014 05:10

Sifat Allah, sifat manusia dan syaitan pada umumnya, harus dikenalkan pada anak, sejak dini. Demikian yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub pada Yusuf kecil AS, yang akhirnya menjadi nabi dan raja Mesir. Ada lagi yang membuat mental Yusuf AS, hebat. Diberi pelajaran Husnudzon (memperbaiki persangkaan) pada Allah, mengenai yang akan terjadi. [1]

Sabda Ya’qub pada Yusuf AS kecil, adalah Dalil Pernyataan di atas:

“Hai Anakku sayang, jangan kau ceritakan! Mimpimu pada saudara-saudaramu! Mereka nanti akan bermakar padamu secara nyata! Sungguh syaitan musuh nyata bagi manusia!.” Dan seterusnya.

 

Semua orang cenderung ingin mengungguli lainnya. Sifat itulah yang membuat dengki. Maka sebaiknya yang memiliki kelebihan, jangan menonjolkan pada orang lain, kecuali pada saat yang tepat. Untuk menjaga perasaan dan akibat jelek yang akan timbul. Mimpi baik termasuk kelebihan yang bisa membuat dengki pada orang lain. Maka Ayah Yusuf melarang Yusuf SA, menceritakan mimpinya pada para kakaknya. Musuh manusia bernama Syaitan selalu berusaha agar manusia tidak rukun, melakukan kejahatan dan kemaksiatan, melalui segala cara.

 

 

Ribuan tahun silam, ada sebuah keluarga yang dikepalai oleh Nabi Ya’qub AS. Tempat tinggal mereka sangat subur, bernama Kan’an. Di situlah Yusuf AS dilahiran oleh wanita sholihat bernama Rachil, istri Nabi Ya’qub AS.

Dalam usia tujuh tahun, Yusuf AS bermimpi melihat sebelas tongkat panjang, tertancap kedalam tanah, membentuk lingkaran. Tiba-tiba muncul tongkat kecil untuk mendekat, dan menghabisi sebelah tongkat tersebut. Setelah dikisahkan, ayahnya melarang, “Jangan kau ceritakan mimpi ini, pada kakak-kakakmu!.” [2]

 

Di keindahan Lailatul-Qadar, malam Jumah, Yusuf AS bermimpi, “Sebelas bintang turun dari langit. Didampingi oleh matahari dan bulan. Semua bersujud homat padanya.” [3]

 

Yusuf AS berkata, “Ayah, sungguh saya telah bermimpi melihat sebelas bintang; matahari; dan bulan, bersujud pada saya.”

Dengan khidmat, Yusuf mendengarkan sabda Ayahnya AS, “Anakku sayang. Mimpi ini jangan kau ceritakan pada saudara- saudaramu! Karena mereka nanti, akan melancarkan makar atas dirimu. Syaithan adalah musuh nyata bagi manusia.” [4]

 

Ajaran Ya’qub AS yang menjadi acuan hidup Yusuf AS, Husnudzon Billah, yakni menyangka baik pada Allah, mengenai yang akan terjadi:

  1. Itulah, Tuhanmu, akan:
  2. Memilih kau.
  3. Mengajar kau, sebagian takwil mimpi.
  4. Memberi kenikmatan sempurna pada kau dan keluarga Ya’qub AS. Seperti dulu sebelum ini, memberi nikmat sempurna pada dua kakekmu, Ibrahim dan Ishaq AS. Sungguh Tuhanmu Maha Alim Maha Bijak.” [5]

 

Sabda Ya’qub AS benar. Setelah mendengar berita Mimpi Yusuf, kakak-kakak Yusuf AS dengki. Mereka: Rubil, Syamun, Lawi, Yahudza, Zabulun, Yasjur, Dan, Naftali, Jad, Asyir. [6]

Yusuf tabah, karena sudah diajar oleh Ayahnya AS, “Allah Maha Alim, artinya akan selalu menindak hamba, berdasaarkan ilmu. Maha Hakim, artinya selalu menqodar dengan hikmah, yakni bertujuan baik dan benar. Dan syaitan selalu berusaha agar manusia tidak rukun, melakukan kemaksiatan dan kejahatan.”

 

Allah berfirman, “Niscaya (kisah) mengenai Yusuf dan para saudaranya, merupakan  Ayat-Ayat (Mukjizat), bagi kaum yang bertanya.”

Maksudnya, ketika kaum Yahudi menanyakan kisah Yusuf, pada Rasulallah SAW. Saat itu ada yang berkata, “Tanya dia! Kenapa Anak-Cucu Ya’qub AS, berpindah dari Kan’an menuju Mesir?.”

Melalui Al-Qur’an, Rasulullah SAW berkisah tentang Yusuf AS. Ternyata kisahnya sama dengan yang dijelaskan di dalam kitab Taurat. Kaum Yahudi heran. [7]

 

Dengan perasaan mendongkokol, kakak-kakak Yusuf AS berkata, “Sungguh Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh Ayah, daripada kita. Padahal kita kumpulan berjumlah banyak. Sungguh Ayah kita dalam kesalahan yang nyata.”

Sebagian mereka menjawab, “Bunuh dia! Atau buanglah ke suatu tempat! Niscaya perhatian Ayah kita akan tercurah pada kita! Setelah itu, kita menjadi kaum Shalih.”

Yahudza atau Rubil mencegah, “Yusuf jangan dibunuh! Masukkan kedalam sumur gelap! Agar diambil oleh Musafir! Jika kalian akan bertindak!.” [8]

Sumur gelap yang dimaksud, tidak berdinding, dan sangat dalam, di daerah Yordan. Berjarak tiga farsakh, dari rumah Ya’qub AS. (Satu farsakh, tiga hingga enam mil). [9]

 

Beruntung, ‘Pembunuhan atas Yusuf AS’ dibatalkan. Karena Allah memberi rahmat pada mereka. Kalau pembunuhan dilakukan, pasti mereka tewas terkena adzab. [10]

 

Di depan Nabi Ya’qub AS, mereka merayu, “Ayah kami? Kenapa Ayah tidak mempercayai kami untuk Yusuf? Padahal kami akan berbuat baik padanya? Bebaskan dia bersama kami! Agar bersenang-senang dan bermain-main. Kami pasti akan berbuat baik pada dia.”

Ya’qub AS menjawab, “Sungguh jika dia kalian bawa pergi, akan membuat saya susah. Lagian saya takut, jika dia dimakan oleh kawanan srigala, di saat perhatian kalian pada dia, lengah.”

Mereka merayu, “Kalau dia dimakan oleh srigala, padahal kami kelompok berjumlah banyak, berarti kami kaum yang rugi.”

 

Kejadian paling pahit dan menyedihkan, melanda Yusuf AS. Mereka berhasil membawa dia pergi, dan telah sepakat akan memasukkan dia kedalam sumur gelap. Namun Allah memberi wahyu padanya:

“Sungguh kau nanti, akan menceritakan pada mereka, mengenai perlakuan mereka. Saat itu mereka tidak menyadari.”

 

Kelengkapan kisah yang semuanya menurut Waheb:

  1. Kakak-kakak Yusuf merayu, “Bukankah kau akan bahagia? Jika ikut kami menggembala? Di sana nanti kita akan berburu dan berlomba-lomba?.” Yusuf menjawab, “Ya.” Mereka berkata, “Apa sebaiknya kami minta agar Ayah memberi ijin kau? Agar pergi bersama kami?.” Setelah menjawab, “Silahkan” Yusuf bergabung bersama mereka, menghadap Nabi Ya’qub AS. Mereka berkata, “Ayah. Sungguh Yusuf ingin keluar bersama kami, untuk menggembala.” Ya’qub bertanya Yusuf, “Apa betul?.” Yusuf menjawab, “Betul Ayah. Saya merasakan kakak-kakak lembut dan sayang pada saya. Semoga Ayah memberi saya ijin.” Sebetulnya Ya’qub tak mau berpisah dari Yusuf AS, namun ingin putranya berbahagia. Maka memutuskan Yusuf AS Diberi Ijin, agar bergabung pada mereka. Ya’qub bahagia saat melihat Yusuf AS digendong bergantian, di atas pundak, oleh kakak-kakaknya. Ketika perjalanan telah jauh, Yusuf dijatuhkan ketanah. Mereka mulai menampakkan kebencian. Beberapa orang membentak-bentak; beberapa lainnya memukul. Tiap berlari pada seorang yang diharap akan mengasihani, justru Yusuf AS dipukul. Ketika menyadari bahwa akan dibunuh, Yusuf menangis, “Ayah! Kalau kau melihat saya dikeroyok, pasti sedih dan menangis! Mereka telah melupakan janji yang mereka berikan pada Ayah! Mereka telah menyia-nyiakan pesan Ayah!.” Yusuf menangis sedih. Namun disergap dan dibanting ketanah, oleh Rubil. Dadanya diduduki dan akan dibunuh. Yusuf menangis, “Sabar! Saya jangan dibunuh!.” Rubil membentak, “Hai Anak Rahil! Kau yang telah bermimpi itu kan? Katakan pada mimpimu! Agar melepaskan kau dari tangan kami!.” Di saat leher hampir tercekik, Yusuf minta tolong pada Yahudza, “Takutlah Allah, untukku! Halang-halangi orang yang akan membunuh saya!.” Yahudza iba dan tidak tega. Dan berkata, “Hai saudara semuanya! Janji kalian pada saya ‘bukan untuk berbuat demikian’. Maukah saya beri tahu ‘tindakan’ yang lebih ringan dan lebih manusiawi?.” Mereka bertanya, “Bagaimana?.” Yahudza menjawab, “Masukkan kedalam sumur gelap! Agar mati di dalamnya, atau diambil oleh Musafir yang datang!.” Mereka bergerak membawa Yusuf, tidak melewati jalan yang ada. Di sumur dalam yang berdasar luas itu, mereka menceburkan Yusuf. Ketika tangannya berpegangan bibir sumur, diikat oleh mereka. Gamis (baju) Yusuf dilepas dengan paksa. Yusuf menangis, “Kakak! Kembalikan gamisku! Agar saya tidak telanjang!.” Mereka menjawab, “Panggil matahari, bulan, dan bintang-bintang! Agar menolong dan melindungi kau!.” Yusuf menangis, “Di sini tidak ada yang bisa menolong!.” Mereka menceburkan Yusuf kedalam sumur. Di dalam sumur, Yusuf menangis, “Kakak! Masyak saya ditinggalkan sendirian di sini?.”
  2. Mereka memasukkan Yusuf kedalam sumur, dengan tali. Diturunkan kebawah. Tali dilepas, ketika Yusuf di pertengahan, agar jatuh dan tewas. Setelah tubuh menghantam permukaan air, Yusuf naik di atas batu besar, di dalamnya.
  3. Malaikat turun untuk melepas tali pengikat tangan Yusuf AS. Lalu mengeluarkan batu besar agar digunakan duduk oleh Yusuf AS.
  4. Ketika dimasukkan kedalam sumur, Yusuf menangis; kakak-kakaknya memanggil. Karena menyangka mereka masih punya rasa kasihan, Yusuf menjawab. Beberapa orang bergerak untuk menjatuhkan batu besar. Tapi dihalang-halangi oleh Yahudza.
  5. Ketika Yusuf pergi bersama kakak-kakaknya, Ya’qub memberi kalung berliontin peti kecil dari perak. Di dalamnya ada gamis warisan dari Ibrahim AS. Gamis Surga itu pemberian Allah, ketika Ibrahim dibakar (oleh Raja Namrud). Malaikat mengeluarkan gamis dari liontin, yang menggelayut leher, agar dipakai oleh Yusuf AS. Gamis bersinar menerangi dasar sumur. [11]

 

Semua kisah yang ada adalah pelajaran untuk kita, bahwa Segala Sesuatu Dijaga oleh malaikat, agar berjalan sesuai dengan Kodrat Allah. Bagi yang:

  1. Menjalani kehidupan dengan penuh perhitungan, karena takut Adzab Allah.
  2. Sabar dan tabah dalam menjalani cobaan, dan beramal sesuai dengan Kehendak Allah.

Dipastikan akan dibimbing oleh Allah, menuju Kejayaan Surga, dan Kejayaan Dunia.

 

In syaa Allah bersambung

 


[1] {قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ () وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ()} [يوسف: 5، 6].

[2] مراح لبيد لكشف معنى القرآن المجيد (1/ 522)

قال وهب: رأى يوسف عليه السلام وهو ابن سبع سنين أن إحدى عشرة عصا طوالا كانت مركوزة في الأرض كهيئة الدائرة وإذا عصا صغيرة وثبت عليها حتى ابتلعتها، فذكر ذلك لأبيه فقال: إياك أن تذكر هذا لإخوتك، ثم رأى وهو ابن ثنتي عشرة الشمس والقمر والكواكب تسجد له فقصها على أبيه فقال: لا تذكرها لهم فيبغوا لك الغوائل.

 

[3] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 511)

قال أهل التفسير: رأى يوسف في منامه كأن أحد عشر كوكبا نزلت من السماء ومعها الشمس والقمر فسجدوا له وكانت هذه الرؤيا ليلة الجمعة وكانت ليلة القدر وكان النجوم في التأويل إخوته وكانوا أحد عشر رجلا يستضاء بهم كما يستضاء بالنجوم والشمس أبوه والقمر أمه في قول قتادة.

[4] Pengamalan dari kisah dalam ayat di atas, “Jangan menceritakan Mimpi Menyenangkan! Kecuali pada orang yang cinta. Jika bermimpi menakutkan, maka hendaklah meludah kekiri 3X. Dan berlindung pada Allah dari Syaitan yang dirajam.” تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 512)

عن أبي قتادة قال: كنت أرى الرؤيا تمرضني حتى سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول «الرؤيا الصالحة من الله والرؤيا السوء من الشيطان فإذا رأى أحدكم ما يحب فلا يحدث بها إلا من يحب وإذا رأى أحدكم ما يكره فليتفل عن يساره ثلاثا وليتعوذ بالله من الشيطان الرجيم وشرها فإنها لن تضره».

[5] {وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ} [يوسف: 6].

[6] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 513)

 وأسماؤهم روبيل وهو أكبرهم وشمعون ولاوى ويهوذا وزبولون ويشجر وأمهم ليا بنت ليان وهي ابنة خال يعقوب وولد يعقوب من سريتين اسم إحداهما زلفة والأخرى بلهة أربعة أولاد وأسماؤهم دان ونفتالي وجاد وآشر، ثم توفيت ليا فتزوج يعقوب أختها راحيل، فولدت له يوسف وبنيامين فهؤلاء بنو ليعقوب وهم الأسباط.

[7] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 513)

 وذلك أن اليهود لما سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن قصة يوسف وقيل سألوه عن سبب انتقال ولد يعقوب من أرض كنعان إلى أرض مصر ذكر قصة يوسف مع إخوته فوجدوها موافقة لما في التوراة فعجبوا منه فعلى هذا تكون هذه القصة دالة على نبوة رسول الله صلى الله عليه وسلم لأنه لم يقرأ الكتب المتقدمة ولم يجالس العلماء والأحبار، ولم يأخذ عن أحد منهم شيئا فدل ذلك على أن ما أتي به وحي سماوي وعلم قدسي أوحاه الله إليه وشرفه به.

[8] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 514)

قالَ قائِلٌ مِنْهُمْ لا تَقْتُلُوا يُوسُفَ يعني قال قائل من إخوة يوسف وهو يهوذا، وقال قتادة: هو روبيل وهو ابن خالته وكان أكبرهم سنا وأحسنهم رأيا فيه فنهاهم عن قتله.

[9] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 515)

وقال وهب: هو في أرض الأردن وقال مقاتل هو في أرض الأردن على ثلاثة فراسخ من منزل يعقوب.

[10] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 515)

وقال بعض أهل العلم عزموا على قتله وعصمهم الله رحمة بهم ولو فعلوا ذلك لهلكوا جميعا.

[11] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 516)

 قال وهب، وغيره من أهل السير والأخبار: إن إخوة يوسف قالوا له أما تشتاق أن تخرج معنا إلى مواشينا فنصيد ونستبق قال بلى قالوا له أنسأل أباك أن يرسلك معنا، قال يوسف: افعلوا فدخلوا بجماعتهم على يعقوب، فقالوا: يا أبانا إن يوسف قد أحب أن يخرج معنا إلى مواشينا فقال يعقوب: ما تقول يا بني؟ قال: نعم يا أبت إني أرى من إخوتي اللين واللطف فأحب أن تأذن لي، وكان يعقوب يكره مفارقته ويحب مرضاته فأذن له وأرسله معهم فلما خرجوا به من عند يعقوب جعلوا يحملونه على رقابهم ويعقوب ينظر إليهم فلما بعدوا عنه وصاروا إلى الصحراء وألقوه على الأرض وأظهروا له ما في أنفسهم من العداوة وأغلظوا له القول وجعلوا يضربونه فجعل كلما جاء إلى واحد منهم واستغاث به ضربه فلما فطن لما عزموا عليه من قتله جعل ينادي يا أبتاه يا يعقوب لو رأيت يوسف وما نزل به من إخوته لأحزنك ذلك وأبكاك يا أبتاه ما أسرع ما نسوا عهدك وضيعوا وصيتك وجعل يبكي بكاء شديدا فأخذه روبيل وجلد به الأرض ثم جثم على صدره وأراد قتله، فقال له يوسف: مهلا يا أخي لا تقتلني، فقال له: يا ابن راحيل أنت صاحب الأحلام قل لرؤياك تخلصك من أيدينا ولوى عنقه، فاستغاث يوسف بيهوذا وقال له اتق الله فيّ وحلّ بيني وبين من يريد قتلي فأدركته رحمة الإخوة ورق له فقال يهوذا يا إخوتي ما على هذا عاهدتموني ألا أدلكم على ما هو أهون لكم وأرفق به فقالوا وما هو قال تلقونه في هذا الجبّ إما أن يموت أو يلتقطه بعض السيارة فانطلقوا به إلى بئر هناك على غير الطريق واسع الأسفل ضيق الرأس فجعلوا يدلونه في البئر فتعلق بشفيرها فربطوا يديه ونزعوا قميصه فقال يا إخوتاه ردوا عليّ قميصي لأستتر به في الجب فقالوا ادع الشمس والقمر والكواكب تخلصك وتؤنسك فقال إني لم أر شيئا فألقوه فيها ثم قال لهم يا إخوتاه أتدعوني فيها فريدا وحيدا وقيل جعلوه في دلو ثم أرسلوه فيها، فلما بلغ نصفها ألقوه إرادة أن يموت وكان في البئر ماء فسقط فيه ثم آوى إلى صخرة كانت في البئر فقام عليها وقيل نزل عليه ملك فحل يديه وأخرج له صخرة من البئر فأجلسه عليها، وقيل إنهم لما ألقوه في الجب جعل يبكي فنادوه فظن أنها رحمة أدركته فأجابهم فأرادوا أن يرضخوه بصخرة ليقتلوه فمنعهم يهوذا من ذلك وقيل إن يعقوب لما بعثه مع أخوته أخرج له قميص إبراهيم الذي كساه الله إياه من الجنة حين ألقي في النار فجعله يعقوب في قصبة فضة وجعلها في عنق يوسف فألبسه الملك إياه حين ألقي في الجب فأضاء له الجب.

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/07/anak-dibuang-jadi-raja.html

 

Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 22 Juli 2014 16:17
 
Asal Alimtum Ilmun (Ilmu) PDF Cetak E-mail
Bahasa Arab - Bahasa Arab Umum
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Rabu, 16 Juli 2014 13:08

Kenapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Yusuf AS, pada para saudaranya, menggunakan lafal, “Alimtum maa faaltum?.” Lengkapnya pertanyaan, “Hal alimtum maa faaltum biYuusufa waakhiihi idz antum Jaahiluuun?.” [1]

Jawabannya, “Karena alimtum berasal dari ilmun (ilmu), yakni mashdar (kata dasar)nya. Ini sebagai dalil bahwa Yusuf AS sangat alim (berilmu tinggi). Beliau tergolong Kaum yang meyakini bahwa semua amalan atau pekerjaan harus dilambari ilmu, agar tidak salah langkah. Ini pelajaran dari ayahnya sejak dia masih remaja. Firman Allah, “Inna Robbaka ‘Aliimun Chakiim,” dalam surat Yusuf, cukup sebagai dalil dari uraian ini. [2]

 


[1] {قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ } [يوسف: 89].

[2] {إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ} [يوسف: 6].

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/07/asal-alimtum-ilmun-ilmu.html

 

 
Pahala Taqwa dan Sabar (Ichsan) PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Rabu, 16 Juli 2014 06:50

Berapa dalil bahwa ‘Taqwa dan Sabar, berpahala di dunia dan akhirat.

Dipastikan yang lebih teliti, yang bisa menjawab pertanyaan ini dengan lebih tepat. Penulis hanya menunjuk tiga Firman Allah yang telah diartikan. Bagi yang bisa melengkapi, dipersilahkan. Ini tiga Firman Allah yang telah diartikan:

1.       Sungguh Tuhanmu (Pembuat kau) Maha Alim Maha Bijak. Maksudnya selalu membalas amalan dengan ilmu dan kebijakan. Ilmu dan kebijakan di sini, maksudnya benar. [1]

2.       Dan ketika telah melalui beberapa kedewasaannya, Maka dia Kami beri hukum dan ilmu. Kami akan membalas kaum Muchshin seperti itu. [2]

3.       Sungguh barangsiapa bertaqwa dan bersabar (ihsan), maka Allah takkan menyia-nyiakan pahala kaum Muchshin. [3]

 


[1] {إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ} [يوسف: 6].

[2] {وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ} [يوسف: 22].

[3] {إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ} [يوسف: 90].

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/07/pahala-taqwa-dan-sabar-ichsan.html

 

 
Catatan Dalil PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Minggu, 13 Juli 2014 18:25

قال الله تعالى { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ} [التحريم: 6]. [1]

4597 - حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا صَفْوَانُ، ح وحَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ، حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، قَالَ: حَدَّثَنِي صَفْوَانُ، نَحْوَهُ قَالَ: حَدَّثَنِي أَزْهَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَرَازِيُّ، عَنْ أَبِي عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ، أَنَّهُ قَامَ فِينَا فَقَالَ: أَلَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِينَا فَقَالَ: " أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ». [2]

__________

[حكم الألباني] : حسن.

3169 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ الحَسَنِ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ، قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَتَفَاوَتَ بَيْنَ أَصْحَابِهِ فِي السَّيْرِ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَوْتَهُ بِهَاتَيْنِ الآيَتَيْنِ {يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ} [الحج: 1، 2] فَلَمَّا سَمِعَ ذَلِكَ أَصْحَابُهُ حَثُّوا المَطِيَّ وَعَرَفُوا أَنَّهُ عِنْدَ قَوْلٍ يَقُولُهُ، فَقَالَ: «هَلْ تَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ ذَلِكَ» ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: " ذَلِكَ يَوْمٌ يُنَادِي اللَّهُ فِيهِ آدَمَ فَيُنَادِيهِ رَبُّهُ فَيَقُولُ: يَا آدَمُ ابْعَثْ بَعْثَ النَّارِ، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟ فَيَقُولُ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعُ مِائَةٍ وَتِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ إِلَى النَّارِ وَوَاحِدٌ فِي الجَنَّةِ " فَيَئِسَ القَوْمُ، حَتَّى مَا أَبَدَوْا بِضَاحِكَةٍ، فَلَمَّا رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي بِأَصْحَابِهِ قَالَ: «اعْمَلُوا وَأَبْشِرُوا فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَمَعَ خَلِيقَتَيْنِ مَا كَانَتَا مَعَ شَيْءٍ إِلَّا كَثَّرَتَاهُ، يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ، وَمَنْ مَاتَ مِنْ بَنِي آدَمَ وَبَنِي إِبْلِيسَ» قَالَ: فَسُرِّيَ عَنِ القَوْمِ بَعْضُ الَّذِي يَجِدُونَ، فَقَالَ: «اعْمَلُوا وَأَبْشِرُوا فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا أَنْتُمْ فِي النَّاسِ إِلَّا كَالشَّامَةِ فِي جَنْبِ البَعِيرِ أَوْ كَالرَّقْمَةِ فِي ذِرَاعِ الدَّابَّةِ» : «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ رواه الترمذي». [3]

__________

[حكم الألباني] : صحيح

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ () وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ () وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ () وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ () يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ () وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ } [آل عمران: 102 - 107]. [4]

وَعَنْ أَبِي غَالِبٍ قَالَ: كُنْتُ أَمْشِي مَعَ أَبِي أُمَامَةَ وَهُوَ عَلَى حِمَارٍ لَهُ، حَتَّى إِذَا انْتَهَى إِلَى دَرَجِ مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَإِذَا رءوس منصوبة، فقال: ما هذه الرؤوس؟ قِيلَ: هَذِهِ رُءُوسُ خَوَارِجَ يُجَاءُ بِهِمْ مِنَ الْعِرَاقِ فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ: كِلَابُ النَّارِ كِلَابُ النَّارِ كِلَابُ النَّارِ! شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ ظِلِّ السَّمَاءِ، طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ- يَقُولُهَا ثَلَاثًا- ثُمَّ بَكَى. فَقُلْتُ: مَا يُبْكِيكَ يَا أَبَا أُمَامَةَ؟ قَالَ: رَحْمَةً لَهُمْ، إِنَّهُمْ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ فَخَرَجُوا مِنْهُ، ثُمَّ قَرَأَ" { هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ} [آل عمران: 7]. ثُمَّ قَرَأَ" {وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ () يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ () وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ()} [آل عمران: 105 - 107]" . فَقُلْتُ: يَا أَبَا أُمَامَةَ، هُمْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ نَعَمْ. قُلْتُ: أَشَيْءٌ تَقُولُهُ بِرَأْيِكَ أَمْ شي سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فقال: إنى إذا لجرى إنى إذا لجرى! بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ وَلَا ثَلَاثٍ وَلَا أَرْبَعٍ وَلَا خَمْسٍ وَلَا سِتٍ وَلَا سَبْعٍ، وَوَضَعَ أُصْبُعَيْهِ فِي أُذُنَيْهِ، قَالَ: وَإِلَّا فَصُمَّتَا- قَالَهَا ثَلَاثًا- ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول:" تَفَرَّقَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَائِرُهُمْ فِي النَّارِ وَلَتَزِيدَنَّ عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْأُمَّةُ وَاحِدَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَائِرُهُمْ فِي النَّارِ". [5]

2906 - حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الجُعْفِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ حَمْزَةَ الزَّيَّاتَ، عَنْ أَبِي المُخْتَارِ الطَّائِيِّ، عَنْ ابْنِ أَخِي الحَارِثِ الأَعْوَرِ، عَنْ الحَارِثِ، قَالَ: مَرَرْتُ فِي المَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ يَخُوضُونَ فِي الأَحَادِيثِ فَدَخَلْتُ عَلَى عَلِيٍّ، فَقُلْتُ: يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، أَلَا تَرَى أَنَّ النَّاسَ قَدْ خَاضُوا فِي الأَحَادِيثِ، قَالَ: وَقَدْ فَعَلُوهَا؟ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَ: أَمَا إِنِّي قَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «أَلَا إِنَّهَا سَتَكُونُ فِتْنَةٌ» . فَقُلْتُ: مَا المَخْرَجُ مِنْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: " كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ نَبَأُ مَا قَبْلَكُمْ وَخَبَرُ مَا بَعْدَكُمْ، وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ، وَهُوَ الفَصْلُ لَيْسَ بِالهَزْلِ، مَنْ تَرَكَهُ مِنْ جَبَّارٍ قَصَمَهُ اللَّهُ، وَمَنْ ابْتَغَى الهُدَى فِي غَيْرِهِ أَضَلَّهُ اللَّهُ، وَهُوَ حَبْلُ اللَّهِ المَتِينُ، وَهُوَ الذِّكْرُ الحَكِيمُ، وَهُوَ الصِّرَاطُ المُسْتَقِيمُ، هُوَ الَّذِي لَا تَزِيغُ بِهِ الأَهْوَاءُ، وَلَا تَلْتَبِسُ بِهِ الأَلْسِنَةُ، وَلَا يَشْبَعُ مِنْهُ العُلَمَاءُ، وَلَا يَخْلَقُ عَلَى كَثْرَةِ الرَّدِّ، وَلَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ، هُوَ الَّذِي لَمْ تَنْتَهِ الجِنُّ إِذْ سَمِعَتْهُ حَتَّى قَالُوا: {إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ} [الجن: 2] مَنْ قَالَ بِهِ صَدَقَ، وَمَنْ عَمِلَ بِهِ أُجِرَ، وَمَنْ حَكَمَ بِهِ عَدَلَ، وَمَنْ دَعَا إِلَيْهِ هَدَى إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ " خُذْهَا إِلَيْكَ يَا أَعْوَرُ: «هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الوَجْهِ وَإِسْنَادُهُ مَجْهُولٌ، وَفِي الحَارِثِ مَقَالٌ رواه الترمذي ». [6]

__________

[حكم الألباني] : ضعيف.

 


[1] Artinya:

Allah Taala berfirman, “Hai khusus kaum yang telah beriman! Jagalah diri kalian dan ahli kalian, dari neraka! Yang bahan bakarnya manusia dan bebatuan. Penjaganya para malaikat kejam yang kuat. Mereka tidak menentang Allah mengenai yang diperintahkan pada mereka. Mereka melakukan yang diperintahkan pada mereka.

 

[2] Artinya:

Dari Muawiyah bin Abi Sufyan. Sungguh dia telah berdiri di kalangan kami, untuk berkata, “Ketahuilah, sungguh Rasulullah SAW pernah berdiri di kalangan kami, untuk besabda ‘ketahuilah, sunguh kaum sebelum kalian, telah berpecah atas tujuh puluh dua agama. Dan sungguh agama ini akan pecah atas tujuh puluh tiga; yang tujuh puluh dua, di dalam neraka; yang satu di dalam surga, yaitu Jamaah’.”

 

[3] Artinya:

Imran bin Chushain berkata, “Kami pernah melakukan perjalanan jauh bersama Rasulillah SAW. Ternyata, dalam perjalanan, beliau SAW ketinggalan dari para sahabatnya. Tiba-tiba beliau memekikkan dua ayat ini;

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ () يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ} [الحج: 1، 2].

 

Artinya:

Hai manusia khususnya! Takutlah Tuhan kalian! Sungguh Gempa Kiamat sesuatu yang Maha Dahsyat. Di hari itu kalian akan melihat semua yang menyusui kebingunan dari susuannya, dan semua yang hamil (bunting) melahirkan hamilan (buntingan)nya. Dan kau melihat (secara lahiriah) manusia sama mabuk; namun mereka tidak mabuk. Tetapi karena (pengaruh) Adzab Allah yang sangat dahsyat.

Begitu mendengar bacaan keras tersebut, para sahabat memacu kendaraan mereka. Mereka tahu pasti beliau SAW di arah bacaan keras tersebut. Beliau SAW bersabda ‘apa kalian tahu? Hari kapan akan terjadi kedahsyatan tersebut?’.

Mereka menjawab ‘Allah dan RasulNya yang lebih tahu’.

Beliau SAW bersabda ‘hari itu Allah menyeru Adam’. Tuhan dia menyeru dia ‘hai Adam! Kirimkan kiriman neraka!’.

Adam berdoa ‘ya Tuhan! Berapa kiriman neraka?’.

Allah berfirman ‘tiap seribu orang; yang sembilan ratus sembilan puluh sembilan, keneraka; yang satu kesurga’.

Rombongan sama putus harapan, hingga tak ada lagi yang tertawa.

Ketika menyaksikan mereka berputus asa, Rasulullah SAW bersabda ‘beramal dan berbahagialah! Demi Dzat yang diri Muhammad di TangaNya, sungguh jumlah kalian nanti, bersamaan dua makhluq, yang jika dibandingkan pada sesuatu, maka jumlah mereka unggul:

  1. Kaum Yajuj dan Majuj.
  2. Anak Adam dan Anak Iblis ‘yang telah meninggal dunia’.

Tiba-tiba sebagian kesedihan yang mereka tahan, berangsur hilang. Maka beliau SAW bersabda ‘kalian semua, di pertengahan seluruh manusia, tiada lain kecuali hanya seperti tailalat di lambung unta, atau seperti tompel di lengan binatang kendaraan’.” Hadits ini chasan shohih.

 

[4] Artinya:

Hai khusus kaum yang telah beriman! Bertaqwalah pada Allah dengan hakiki taqwa padaNya. Sungguh jangan mati! Kecuali keadaan kalian Muslimiin. [102]. Dan berpeganglah pada Tali Allah, dengan berjamaah! Jangan berpecah! Ingat Nikmat Allah atas kalian; ketika kalian bermusuhan. (Allah) telah menautkan antar hati kalian, maka kalian telah menjadi saudara, karena NikmatNya. Dulu kalian di atas jurang dari neraka. Allah telah menyelamatkan kalian darinya. Demikian itu, Allah menjelaskan Ayat-AyatNya pada kalian, agar kalian mengambil hidayah. [103]. Dan hendaklah sebagian kalian ada yang menjadi Umat yang amar makruf dan nahi munkar. Mereka kaum yang beruntung. [104]. Jangan seperti kaum yang telah berpecah dan berselisih! Setelah keterangan-keterangan datang pada mereka. Mereka berhak mendapatkan siksa yang sangat dahsyat. [105]. Yaitu di hari wajah-wajah memutih; dan wajah-wajah lainnya menghitam. Adapun yang wajah-wajah mereka menghitam, (akan ditegur), “Apa kalian telah kafir setelah iman kalian? Maka rasakan adzab ini! Karena kalian telah kafir!.” [106]. Adapun yang wajah-wajah mereka memutih, maka di dalam rahmat. Mereka kekal di dalamnya. [107].

[5] Artinya:

Dari Abi Ghalib, “Saya pernah mendampingi perjalanan Abi Umamah. Beliau mengendarai himarnya. Hingga ketika sampai tangga Masjid Dimasyqa (Damaskus), beliau terkejut oleh tumpukan kepala manusia. Dia bertanya ‘kepala siapa saja ini?’.

Ada yang menjawab ‘ini kepala kaum Khawarij. Kiriman dari Iraq’.

Abu Umamah berkata ‘ini anjing-anjing neraka! Anjing-anjing neraka! Anjing-anjing neraka!’. Lalau berkata ‘mereka sejelek-jelek Korban Perang di bawah naungan langit! Beruntung bagi orang yang telah membunuh mereka, dan dibunuh oleh mereka!’ tiga kali. Beliau menangis.

Saya bertanya ‘apa yang membuat tuan menangis? Ya Aba Umamah?’.

Beliau menjawab ‘kasihan pada mereka. Dulu mereka tergolong pemeluk agama Islam (berjamaah), lalu keluar’. Beliau juga membaca:

  1. Dialah yang telah menurunkan kitab atas kau. Sebagaiannya, ayat-ayat yang hukumnya diterapkan, yaitu Induk Al-Kitab; selain itu, mutasyabihat (mirip-mirip). Adapun kaum yang dalam hati mereka ada penyelewengan, maka membahas ayat mutasyabihat, untuk mencari fitnah dan takwilnya. Padahal tidak tahu takwilnya kecuali Allah. Kaum Pandai dalam bidang ilmu, berkata ‘kami beriman padanya’. Semua dari Sisi Tuhan kami. Dan tidak mengambil peringatan kecuali kaum yang memiliki akal sehat (bersih)’.
  2. ‘Jangan seperti kaum yang telah berpecah dan berselisih! Setelah keterangan-keterangan datang pada mereka. Mereka berhak mendapat siksa sangat dahsyat. Yaitu di hari waajah-wajah memutih; dan wajah-wajah lainnya menghitam. Adapun yang wajah-wajah mereka menghitam, (akan ditegur) ‘apa kalian telah kafir setelah iman kalian? Maka rasakan adzab ini! Karena kalian telah kafir!’. Adapun yang wajah-wajah mereka memutih, maka di dalam rahmat. Mereka kekal di dalamnya’.

 

Saya bertanya ‘ya Aba Umamah, apa kepala-kepala mayat ini, yang dimaksud di dalam ayat-ayat tersebut?’.

Beliau menjawab ‘betul!’.

Saya bertanya ‘penjelasan yang tuan katakan ini bersumber rokyu tuan? Ataukah dari Rasulillah SAW?’.

Beliau menjawab ‘sungguh jika saya berani mengarang cerita, berarti terlalu lancang! Sungguh jika saya berani mengarang cerita, berarti terlalu lancang! Bahkan penjelasan ini saya dengar dari Rasulillah SAW. Tidak hanya sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali, atau tujuh kali!’. Abu Umamah menyumbatkan dua jari pada dua telinganya. Lalu berkata pada dua telinganya ‘kalau dulu kalian tidak mendengar! Tulilah!’. Tiga kali. Lalu berkata ‘saya pernah mendengar’ Rasulallah SAW bersabda ‘agama Bani Israil telah berpecah menjadi tujuh puluh satu pecahan. Yang satu golongan kesurga; yang lainnya keneraka. Sedangkan pecahan umat ini akan bertambah satu. Yang satu kesurga; lainnya keneraka’.”  

 

 

[6] Arti (selain isnad)nya:

Al-Charits berkata, “Saya pernah menyeberang dalam Masjid. Ternyata orang-orang di situ, sedang asyik membicarakan beberapa Hadits. Saya masuk kerumah Ali RA, untuk berkata ‘ya Amiral Mukminiin! Tak tahukan kau bahwa orang-orang telah asyik membicarakan beberapa Hadits?’.

Beliau bertanya ‘betulkah mereka melakukan demikian?’.

Saya menjawab ‘betul!’.

Beliau berkata ‘ingat! Sungguh akan ada kerusakan!’.

Saya bertanya ‘apa jalan keluarnya? Ya Rasulallah?’.


Nabi SAW bersabda ‘Kitab-Allah:

  1. Di dalamnya ada cerita yang telah ada sebelum kalian.
  2. Khabar yang akan terjadi setelah kalian.
  3. Hukum terapan di antara kalian.

Dialah pasal yang bukan main-main:

  1. Barangsiapa meninggalkan dia karena sombong; Allah mematahkan dia.
  2. Barang siapa mencari petunjuk pada lainnya; Allah menyesatkan padanya.
  3. Dialah Tali Allah yang sangat kuat.
  4. Dialah peringatan sangat berhikmah.
  5. Dialah jalan yang lurus.
  6. Dengan dia hawa nafsu takkan belok, dan takkan tercampur oleh bahasa (makhluq).
  7. Ulama takkan kenyang dalam menikmati kajiannya.
  8. Takkan rusak karena sering diulang.
  9. Keajaiban-keajaibannya takkan habis.
  10. Dia (menakjubkan), hingga jin yang mendengar, berkata ‘sungguh kami telah mendengar bacaan menakjubkan, yang menunjukkan pada kebenaran. Kami beriman padanya.’
  11. Barangsiapa berbicara berdasarkan Kitab-Allah, maka benar.
  12. Barangsiapa mengamalkan maka diberi pahala.
  13. Barangsiapa menghukumi berdasarkan Kitab-Allah, maka adil.
  14. Barangsiapa mengajak padanya, maka diberi petunjuk pada jalan yang lurus’.”

 

Abu Isa (Tirmidzi) berkata, “Ini Hadits gharib. Kami tidak mengenal riwayat ini kecuali dari ini arah. Isnadnya juga majhul (tidak dikenal). Juga ada kritik untuk Al-Charis (Akwar).”

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/07/catatan-dalil.html

 

 
Jenazah Abu Lahab Terbengkelai PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Hadits
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Jumat, 11 Juli 2014 17:10

Dari Rafi RA, kekasih Rasulillah SAW:

Dulu saya budak Abbas bin Abdil-Mutthallib. Saat itu saya, Ummul-Fadhl, dan Abbas RA telah Islam. Namun Abbas RA tidak terang-terangan dalam Islamnya, karena takut kaumnya.

Saat itu Abu Lahab (keluarga Abbas RA) sengaja tidak ikut Perang Badar. Dia mengutus Al-Ash bin Hisyam, agar mewakili dirinya. Al-Ash berhutang cukup banyak pada Abu Lahab.

Abu Lahab perintah, “Wakili saya membereskan perang ini! Semua hutangmu padaku, saya bebaskan!.”

Al-Ash mengabulkan perintahnya.

 

Ketika berita Muslimiin Menang Perang Badar; Allah telah memulai menghina Abu Lahab; saat itu saya orang lemah, sedang meraut anak panah di dalam kamar. Di dalam rumah, Abu Lahab lewat di dekat saya yang sedang duduk di dalam kamar, meraut anak panah. Ummul-Fadhl di sisi saya. Tiba-tiba dia muncul lagi dengan menyeret kaki. Di sisi tali melintang yang terhubung tenda, dia berhenti untuk duduk. Punggung dia lurus pungung saya.

 

Beberapa orang berkata, “Ini dia Abu Sufyan bin Al-Charits datang.”

Abu Lahab memanggil Abu Sufyan, “Hai Putra saudaraku! Kemari!.”

Setelah Abu Sufyan datang dan duduk di sisinya, orang-orang berdatangan untuk berdiri di depan mereka berdua.

Abu Lahab bertanya, “Hai Putra saudaraku! Bagaimana keadaan orang-orang kita di medan perang?.”

Dia menjawab, “Demi Allah, tidak ada apa-apa. Di sana, kami lari hingga banyak yang tertawan dan terbunuh. Demi Allah saya tidak mau mencela orang-orang kita yang telah berjuang.”

Abu Lahab bertanya, “Kenapa?.”

Dia menjawab, “Saya melihat sejumlah lelaki berkulit putih, mengendarai beberapa kuda kelabu. Demi Allah serangan mereka dahsyat tidak ada yang membandingi. Yang mampu melawan mereka juga tidak ada.”

Saya segera membuka korden dan berkata, “Demi Allah! Mereka malaikat!.”

Dengan cepat, Abu Lahab mengayunkan tangan untuk menampar wajah saya. Dia saya tabur dengan debu, namun saya diangkat untuk dibanting ketanah. Dia menindih saya, namun ditarik oleh Ummul-Fadhl.

Dengan cepat, saya mengambil tongkat untuk saya pukulkan pada dia. Saya berhasil melukai dia dengan serius.

Ummul-Fadhl membela saya, “Hai Musuh Allah! Dia kau remehkan karena tuannya pergi!.”

Abu Lahab berdiri dan pergi dengan kesakitan dan hina.

Demi Allah tidak lebih dari tujuh hari setelah itu, dia meninggal. Allah mengirimkan penyakit Adasah padanya. Hampir seperti cacar air, berwarna merah. Hingga dia meninggal.

Jenazah dibiarkan terbengkelai oleh dua putranya, hingga dua atau tiga hari. Hingga membusuk.

Seorang Quraisy berkata pada dua putra Abu Lahab, “Masyak kalian tidak malu? Ayah kalian membangkai di rumahnya?.”

Mereka berdua menjawab, “Kami takut tertular oleh penyakitnya.”

Memang sejak dulu kaum Quraisy takut pada penyakit Adasah. Mereka menganggap bahaya, seperti penyakit Thaun.

Lelaki itu berkata, “Ayo mayatnya segera diberangkatkan! Saya akan menemani kalain!.”

Demi Allah mayat itu tidak dimandikan. Hanya diguyur air sekali, dari kejauhan. Mereka mengusung untuk meletakkan mayat di dataran tinggi kota Makkah. Diletakkan di sisi dinding, lalu ditutupi bebatuan. [1]

 


[1] المعجم الكبير للطبراني (1/ 308)

912 - حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ هَارُونَ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ، حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، قَالَ: سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ، يَقُولُ: حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " كُنْتُ غُلَامًا لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَكُنْتُ قَدْ أَسْلَمْتُ، وَأَسْلَمَتْ أُمُّ الْفَضْلِ، وَأَسْلَمَ الْعَبَّاسُ، وَكَانَ يَكْتُمُ إِسْلَامَهُ مَخَافَةَ قَوْمِهِ، وَكَانَ أَبُو لَهَبٍ قَدْ تَخَلَّفَ عَنْ بَدْرٍ وَبَعَثَ مَكَانَهُ الْعَاصَ بْنَ هِشَامٍ، وَكَانَ لَهُ عَلَيْهِ دَيْنٌ، فَقَالَ لَهُ: اكْفِنِي هَذَا الْغَزْوَ، وَأَتْرُكُ لَكَ مَا عَلَيْكَ، فَفَعَلَ، فَلَمَّا جَاءَ الْخَبَرُ، وَكَبَتَ اللهُ أَبَا لَهَبٍ، وَكُنْتُ رَجُلًا ضَعِيفًا أَنْحِتُ هَذِهِ الْأَقْدَاحَ فِي حُجْرَةٍ، وَمَرَّ بِي، فَوَاللهِ إِنِّي لَجَالِسٌ فِي الْحُجْرَةِ أَنْحِتُ أَقْدَاحِي وَعِنْدِي أُمُّ الْفَضْلِ، إِذِ الْفَاسِقُ أَبُو لَهَبٍ يَجُرُّ رِجْلَيْهِ - أُرَاهُ قَالَ: حَتَّى جَلَسَ عِنْدَ طُنُبِ الْحُجْرَةِ - فَكَانَ ظَهْرُهُ إِلَى ظَهْرِي، فَقَالَ النَّاسُ: هَذَا أَبُو سُفْيَانَ بْنُ الْحَارِثِ، فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ: هَلُمَّ إِلَيَّ يَا ابْنَ أَخِي، فَجَاءَ أَبُو سُفْيَانَ حَتَّى جَلَسَ عِنْدَهُ، فَجَاءَ النَّاسُ فَقَامُوا عَلَيْهِمَا، فَقَالَ: يَا ابْنَ أَخِي كَيْفَ كَانَ أَمْرُ النَّاسِ؟ قَالَ: لَا شَيْءَ، وَاللهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ لَقِينَاهُمْ فَمَنَحْنَاهُمْ أَكْتَافَنَا يَقْتِلُونَنَا كَيْفَ شَاءُوا، وَيَأْسِرُونَنَا كَيْفَ شَاءُوا وَايْمُ اللهِ، لَمَا لُمْتُ النَّاسَ، قَالَ: وَلِمَ؟ فَقَالَ: رَأَيْتُ رِجَالًا بِيضًا عَلَى خَيْلٍ بُلْقٍ لَا وَاللهِ مَا تَلِيقُ شَيْئًا وَلَا يَقُومُ لَهَا شَيْءٌ، قَالَ: فَرَفَعْتُ طُنُبَ الْحُجْرَةِ، فَقُلْتُ: تِلْكَ وَاللهِ الْمَلَائِكَةُ، فَرَفَعَ أَبُو لَهَبٍ يَدَهُ فَلَطَمَ وَجْهِي، وَثَاوَرْتُهُ فَاحْتَمَلَنِي، فَضَرَبَ بِيَ الْأَرْضَ حَتَّى نَزَلَ عَلَيَّ، فَقَامَتْ أُمُّ الْفَضْلِ فَاحْتَجَزَتْ، فَأَخَذْتُ عَمُودًا مِنْ عُمُدِ الْحُجْرَةِ فَضَرَبْتُهُ بِهِ، فَفَلَقْتُ فِي رَأْسِهُ شَجَّةً مُنْكَرَةً، وَقَالَتْ: أَيْ عَدُوَّ اللهِ، أسْتَضْعَفْتَهُ إِنْ رَأَيْتَ سَيِّدَهُ غَائِبًا عَنْهُ؟ فَقَامَ ذَلِيلًا، فَوَاللهِ مَا عَاشَ إِلَّا سَبْعَ لَيَالٍ حَتَّى ضَرَبَهُ اللهُ بِالْعَدَسَةِ فَقَتَلَتْهُ، فَلَقَدْ تَرَكَهُ ابْنَاهُ لَيْلَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةً مَا يَدْفِنَاهُ حَتَّى أَنْتَنَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ لِابْنَيْهِ: أَلَا تَسْتَحِيَانِ، إِنَّ أَبَاكُمَا قَدْ أَنْتَنَ فِي بَيْتِهِ؟ فَقَالَا: إِنَّا نَخْشَى هَذِهِ الْقُرْحَةَ، وَكَانَتْ قُرَيْشٌ يَتَّقُونَ الْعَدَسَةَ كَمَا يُتَّقى الطَّاعُونُ، فَقَالَ رَجُلٌ: انْطَلِقَا فَأَنَا مَعَكُمَا، قَالَ: فَوَاللهِ مَا غَسَّلُوهُ إِلَّا قَذْفًا بِالْمَاءِ عَلَيْهِ مِنْ بَعِيدٍ، ثُمَّ احْتَمَلُوهُ فَقَذَفُوهُ فِي أَعْلَى مَكَّةَ إِلَى جِدَارٍ، وَقَذَفُوا عَلَيْهِ الْحِجَارَةَ ".

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/07/jenazah-abu-lahab-terbengkelai.html

 

 
« MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir »

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Latest News

Popular


Diperkuat dengan Joomla!. Designed by: joomla themes movie stars Valid XHTML and CSS.