Jadwal Kegiatan

<< Agustus 2014 >> 
 Se  Se  Ra  Ka  Ju  Sa  Mi 
      1  2  3
  4  5  6  7  8  910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pilih Artikel

Statistik


Kunjungan hari ini:23
Kunjungan kemarin:41
Kunjungan bulan ini:23
Kunjungan bulan lalu:1750
Kunjungan tahun ini:13090
Kunjungan total65890
Jadwal : Klik tanggal yang ditandai pada kalender JADWAL KEGIATAN di sebelah kiri
Kaum Sesat Menuduh Sesat PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an & Hadits
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Jumat, 01 Agustus 2014 10:29

(Kajian surat Al-Muthaffifiin dan Sunan Abi Dawud)

 

Ketika para Sahabat nabi SAW menyembah Allah, merujuk Al-Qur’an (Wahyu) dan Petunjuk Rasul Allah; Kaum Kafir yang benci mereka mengatakan, “Mereka ini Kaum Sesat,” dengan nada sinis.

Tentu saja ucapan itu membuat para Sahabat benci, susah, dan terhina. Allah menurunkan Wahyu yang akhirnya disebut Surat Al-Muthaffifiin, sebagai kepedulian-Nya pada para Hamba-Nya. Karena Kearifan, Kemurahan, dan Kealiman-Nya, maka dalam Firman itu Allah tidak hanya menghibur Kaum Iman, tetapi juga mengajarkan bagaimana seharusnya seorang Adil Dalam Menilai, meskipun pada dirinya sendiri. Dan keberuntungan seorang diukur dari Derajat Surganya, di akhirat:

 

بسم الله الرحمن الرحيم

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3) أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (4) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (5) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (6) كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ (7) وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ (8) كِتَابٌ مَرْقُومٌ (9) وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ (10) الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (11) وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ (12) إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (13) كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (14) كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ (15) ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ (16) ثُمَّ يُقَالُ هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ (17) كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ (18) وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ (19) كِتَابٌ مَرْقُومٌ (20) يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ (21) إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (22) عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (23) تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ (24) يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ (25) خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (26) وَمِزَاجُهُ مِنْ تَسْنِيمٍ (27) عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ (28) إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ (29) وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ (30) وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ (31) وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ (32) وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ (33) فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ (34) عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (35) هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (36)

 

 

Artinya:

Celaka bagi Kaum Curang: yang ketika minta takaran pada manusia, minta ditepati, namun ketika menentukan takaran atau menentukan timbangan pada mereka, mereka mengurangi (curang). Apakah mereka tidak meyakini bahwa sungguh mereka akan dibangkitkan untuk Hari yang Sangat Besar: Hari Manusia Berdiri untuk Tuhan seluruh alam?.

Ingat! Sungguh catatan Kaum Durhaka niscaya di dalam Sijjin. Apa yang memberi tahu padamu tentang Sijjin?. Yaitu Catatan yang diselesaikan (tidak akan ditambah atu dikurangi). Celaka hari itu bagi kaum yang mendustakan: yang sama Mendustkan tentang Hari Pembalasan. Dan takkan mendustakan itu, kecuali semua yang Melampau Batas lagi Suka Berbuat Dosa: jika Ayat-Ayat Kami dibacakan pada mereka, mereka berkata, “Tulisan-tulisan Kaum Awal (Kuno).”

Ingat! Justru yang telah mereka lakukan, telah mengotori atas beberapa Hati mereka. Ingat! Sungguh mereka di hari itu niscaya dihalang-halangi, jauh dari Tuhan mereka. Lalu niscaya sungguh mereka masuk neraka Jachim. Lalu dikatakan, “Ini yang dulu kalian dustakan!.”

Ingat! Sungguh catatan Kaum Abrar (Baik) niscaya di dalam Iliyyiin. Apa yang memberi tahu padamu mengenai Iliyyiin?. Yaitu catatan yang diselesaikan (takkan ditambahi atau dikurangi). Yang akan disaksikan oleh Kaum yang didekatkan (pada Tuhan). Sungguh Kum Abrar niscaya di dalam kenyamanan: di atas kursi mereka memandang. Kau lihat sinar kebahagiaan di wajah-wajah mereka. Minuman yang dihidangkan pada mereka berasal dari Rachiq yang disegel. Minuman penutupnya Misik. [1] Mengeni itu, Kaum yang berlomba-lomba, hendaklah tetap berlomba-lomba. Perisa (minuman itu), Tasnim: Mata Air (istimewa) yang diminum oleh Kaum yang didekatkan (pada Tuhan). Sungguh dulunya, Kaum yang berdosa menertawakan pada Kaum yang telah beriman. Dan ketika bertemu pada mereka, menunjuk-nunjuk. Dan ketika telah kembali pada ahli, mereka kembali dengan berbahagia. Dan ketika menyaksikan pada mereka, berkata, “Sungguh mereka ini Kaum Sesat.”

Padahal mereka tidak diperintah menjadi penilai mereka. Maka di hari itu Kaum yang telah beriman, menertawakan pada Kaum Kafir. Mereka memandang di atas kursi-kursi. Bukankah Kaum Kafir dibalas sesuai yang telah mereka amalkan?.   

 

Termasuk mutiara yang diajarkan dalam surat di atas, bisa jadi orang yang ‘menuding sesat’, justru orang yang tersesat. Yang di dunia dihina bisa jadi di akhirat justru berbahagia, berwajah ceria, bersuka-ria, tersenyum dan tertawa, di dalam surga yang istimewa.

 

Dalam Sunan Abi Dawud juga diriwayatkan mengenai orang iman yang salah menilai, karena lupa bahwa sebetulnya Allah lah yang berhak menghukumi Hamba-Nya :

 

4903 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ بْنِ سُفْيَانَ أَخْبَرَنَا عَلِىُّ بْنُ ثَابِتٍ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ قَالَ حَدَّثَنِى ضَمْضَمُ بْنُ جَوْسٍ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « كَانَ رَجُلاَنِ فِى بَنِى إِسْرَائِيلَ مُتَآخِيَيْنِ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالآخَرُ مُجْتَهِدٌ فِى الْعِبَادَةِ فَكَانَ لاَ يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ فَيَقُولُ أَقْصِرْ. فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ لَهُ أَقْصِرْ فَقَالَ خَلِّنِى وَرَبِّى أَبُعِثْتَ عَلَىَّ رَقِيبًا فَقَالَ وَاللَّهِ لاَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَوْ لاَ يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ. فَقُبِضَ أَرْوَاحُهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ أَكُنْتَ بِى عَالِمًا أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِى يَدِى قَادِرًا وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِى وَقَالَ لِلآخَرِ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ ». قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ..”

 

 

Arti (selain isnadnya):

Abu Hurairah berkata, “Saya pernah mendengar Rasulallah SAW bersabda ‘dulu pernah ada dua lelaki bersaudara di kalangan Bani Isra’il. Yang satu (sering) berbuat dosa; yang saudaranya rajin dalam beribadah.

Yang rajin beribadah, tak henti-henti melihat yang lain melakukan dosa. Dia berkata ‘hentikan!’.

Suatu hari, saat melihat saudaranya melakukan dosa lagi, dia berkata ‘hentikan’.

Saudaranya menjawab ‘biarkan saya, apa kau diperintah agar meneliti perbutanku?’.

Dia bersumpah ‘demi Allah! Allah takkan mengampuni padamu’, atau ‘Allah takkan memasukkan kamu ke surga’.

 

Ruh mereka berdua dicabut untuk dikumpulkan di sisi Tuhan seluruh alam. Allah berfirman pada ini yang rajin beribadah ‘masyak kau tahu mengenai Aku?’, atau ‘masyak kau berkuasa pada yang di Tangan-Ku?’.

Lalu berfirman pada yang suka berbuat dosa ‘pergilah untuk memasuki surga karena Rahmat-Ku!’.

Dan berfirman untuk lainnya ‘bawalah orang ini (yang rajin beribadah), menuju neraka!’.”

 

 

Abu Hurairah berkomentar, “Demi Allah dia telah berbicara dengan kalimat yang merusak dunia dan akhiratnya.” [2]

 

 


[1] Abud-Darda’ berkata, “Kalau seorang penghuni bumi memasukkan jarinya lalu mengeluarkan dari Misik (surga) itu, niscaya semua yang hidup menghirup harumnya.” [Ibnu Katsir].

[2] Ini bukan Dalil pendorong agar orang berbuat dosa, tetapi Ajaran bahwa menghukumi seorang, “Kau pasti masuk surga,” atau, “Neraka,” dengan melupakan bahwa sebetulnya yang berhak memasukkan surga atau neraka adalah Allah, bisa jadi justru akan masuk neraka.

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/08/kaum-sesat-menuduh-sesat.html

 

 
Doa Penghilang Sedih PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Hadits
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Rabu, 30 Juli 2014 16:55

Jibril datang pada nabi SAW, untuk berkata, “Ya Muhammad. Mutlak, saya belum pernah diutus pada seorang nabi yang lebih saya cintai daripada kau. Mau kan? Saya ajar beberapa Asma Allah, yang lebih dicintai oleh Allah? Jika dipergunakan berdoa padaNya? Katakan:

Yaa Nurassamaawaati wal ardhi, yaa Jabbaras samaawaati wal ardhi, yaa ‘Ammadas samaawaati wal aldhi, yaa Badii’as samaawaati wal ardhi, yaa Qayyuumas samaawaati wal ardhi, yaa Dzal-Jalaali wal ikraami, yaa Ghayyaatsal Mustaghiitsiina, waMuntahal ‘Aabidiiina, Al-Mufarrija ‘anil Makruubiina, Al-Murawwicha ‘anil Maghmuumiina, waMujiiba du’aail Mudhtharriina, waKaasyifal karbi, wayaa Ilaahal ‘Aalamiina, wayaa Archamar Raachimiina, tazuulu biKa kullu chaajah.

 

Artinya:

Ya Penerang beberapa langit dan bumi. Ya Penghias beberapa langit dan bumi. Ya Pemaksa beberapa langit dan bumi. Ya Penyangga beberapa langit dan bumi. Ya Pencipta beberapa langit dan bumi. Ya Perumat beberapa langit dan bumi. Ya Penguasa keagungan dan pemulia. Ya Penolong Kaum yang minta tolong, Paling Pol (bagi) para Hamba. Pemberi jalan keluar Kaum yang kesulitan. Pembuat bahagia Kaum yang dikodar susah. Pengabul doa Kaum Menderita. Penghapus derita. Ya Tuhan seluruh alam. Ya Lebih sayangnya para penyayang. Semua hajat terkabul karena Kau.

 

Arabnya:

يَا نُورَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا زَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا جَبَّارَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا عَماَّدَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا قَيُّومَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا ذَا الْجِلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا صَرِيخَ الْمُسْتَصْرِخِينَ، وَيَا غَياَّثَ الْمُسْتَغِيثِينَ، ومُنْتَهَى الْعَابِدِينَ، الْمُفَرِّجَ عَنِ الْمَكْرُوبِينَ، الْمُرَوَّحَ عَنِ الْمَغْمُومِينَ، ومُجِيبَ دُعَاءِ الْمُضْطَرِّينَ، وكاشِفَ الْكَرْبِ، وَيَا إِلَهَ الْعَالَمِينَ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. تَزُولُ بِكَ كُلُّ حَاجَةٍ. [1]

 


[1] المعجم الأوسط (1/ 52)

145 - حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ خَالِدِ بْنِ حَيَّانَ قَالَ: نا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ الْجُعْفِيُّ قَالَ: نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمُحَارِبِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ سَلَّامَ بْنَ سُلَيْمٍ، يَذْكُرُ عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ: جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «يَا مُحَمَّدُ مَا بُعِثْتُ إِلَى نَبِيٍّ قَطُّ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْكَ، أَلَا أُعَلِّمُكَ أَسْمَاءً مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ، هُنَّ مِنْ أَحَبِّ أَسْمَائِهِ إِلَيْهِ، أَنْ يُدْعَى بِهِنَّ؟ قُلْ يَا نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا زَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا جَبَّارَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا عِمَادَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا قَيُّومَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا ذَا الْجِلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا صَرِيخَ الْمُسْتَصْرِخِينَ، وَيَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ، ومُنْتَهَى الْعَابِدِينَ، الْمُفَرِّجَ عَنِ الْمَكْرُوبِينَ، الْمُرَوَّحَ عَنِ الْمَغْمُومِينَ، ومُجِيبَ دُعَاءِ الْمُضْطَرِّينَ، وكاشِفَ الْكَرْبِ، وَيَا إِلَهَ الْعَالَمِينَ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. تَزُولُ بِكَ كُلُّ حَاجَةٍ»

لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ مَنْصُورٍ إِلَّا سَلَّامُ بْنُ سَلْمٍ، تَفَرَّدَ بِهِ: الْمُحَارِبِيُّ.

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/07/doa-penghilang-sedih.html

 

 
Doa Agar Bahagia PDF Cetak E-mail
Kisah Islam - Kisah Lainnya
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Sabtu, 26 Juli 2014 11:52

Seorang tabik yang sangat alim, bernama Al-Chasan Al-Bashri, berkisah, “Ketika sumur gelap dimasuki oleh Yusuf AS, airnya menjadi enak. Dan mencukupi kebutuhan makan dan minum. Yusuf ditemani dan dihibur oleh Jibril AS.

Di sore itu, Jibril bangkit untuk keluar dari sumur. Gerakannya terhenti oleh pertanyaan Yusuf AS, ‘kalau kau keluar, saya sendirian di sini?’.

Jibril AS menjawab, ‘kalau kau takut sesuatu’, berdoalah:

‘Ya Shariikhal-Mustasrikhiin! Wayaa Ghayyaatsal-Mustaghiitsiin! Wayaa Mufarrija karbil Makruubiin! Qad Taraa makaanii wachaalii! Walaa yakhfaa alaika syaiun min amrii!’.

Artinya:

Ya Penolong kaum yang minta tolong! Ya Pahlawan kaum yang minta pertolongan! Ya Pembebas kesedihan kaum yang sedih! Sungguh Kau menyaksikan tempat dan keadaan hamba! Tak sedikitpun urusan hamba yang samar atasMu.

Arabnya:

يَا صَرِيْخَ الْمُسْتَصْرِخِيْنَ، وَيَا غَيَّاثَ الْمُسْتَغِيْثِيْنَ، وَيَا مُفَرِّجَ كَرْبِ الْمَكْرُوْبِيْنَ، قَدْ تَرَى مَكاَنِي وَتَعْلَمَ حاَلِيْ وَلَا يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِيْ.

Setelah doa dibaca, Yusuf AS dikerumuni oleh para malaikat, dan merasa tenang.” [1]

 


[1] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 516)

وقال الحسن: لما ألقي يوسف في الجب عذب ماؤه فكان يكفيه عن الطعام والشراب ودخل عليه جبريل فأنس به فلما أمسى نهض جبريل ليذهب فقال له إنك إذا خرجت استوحشت فقال له إذا رهبت شيئا فقل يا صريخ المستصرخين ويا غواث المستغيثين ويا مفرج كرب المكروبين قد ترى مكاني وتعلم حالي ولا يخفى عليك شيء من أمري فلما قالها يوسف حفته الملائكة واستأنس في الجب.

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/07/doa-agar-bahagia.html

 

 
Anak Dibuang Jadi Raja PDF Cetak E-mail
Kisah Islam - Kisah Lainnya
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Minggu, 20 Juli 2014 05:10

Sifat Allah, sifat manusia dan syaitan pada umumnya, harus dikenalkan pada anak, sejak dini. Demikian yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub pada Yusuf kecil AS, yang akhirnya menjadi nabi dan raja Mesir. Ada lagi yang membuat mental Yusuf AS, hebat. Diberi pelajaran Husnudzon (memperbaiki persangkaan) pada Allah, mengenai yang akan terjadi. [1]

Sabda Ya’qub pada Yusuf AS kecil, adalah Dalil Pernyataan di atas:

“Hai Anakku sayang, jangan kau ceritakan! Mimpimu pada saudara-saudaramu! Mereka nanti akan bermakar padamu secara nyata! Sungguh syaitan musuh nyata bagi manusia!.” Dan seterusnya.

 

Semua orang cenderung ingin mengungguli lainnya. Sifat itulah yang membuat dengki. Maka sebaiknya yang memiliki kelebihan, jangan menonjolkan pada orang lain, kecuali pada saat yang tepat. Untuk menjaga perasaan dan akibat jelek yang akan timbul. Mimpi baik termasuk kelebihan yang bisa membuat dengki pada orang lain. Maka Ayah Yusuf melarang Yusuf SA, menceritakan mimpinya pada para kakaknya. Musuh manusia bernama Syaitan selalu berusaha agar manusia tidak rukun, melakukan kejahatan dan kemaksiatan, melalui segala cara.

 

 

Ribuan tahun silam, ada sebuah keluarga yang dikepalai oleh Nabi Ya’qub AS. Tempat tinggal mereka sangat subur, bernama Kan’an. Di situlah Yusuf AS dilahiran oleh wanita sholihat bernama Rachil, istri Nabi Ya’qub AS.

Dalam usia tujuh tahun, Yusuf AS bermimpi melihat sebelas tongkat panjang, tertancap kedalam tanah, membentuk lingkaran. Tiba-tiba muncul tongkat kecil untuk mendekat, dan menghabisi sebelah tongkat tersebut. Setelah dikisahkan, ayahnya melarang, “Jangan kau ceritakan mimpi ini, pada kakak-kakakmu!.” [2]

 

Di keindahan Lailatul-Qadar, malam Jumah, Yusuf AS bermimpi, “Sebelas bintang turun dari langit. Didampingi oleh matahari dan bulan. Semua bersujud homat padanya.” [3]

 

Yusuf AS berkata, “Ayah, sungguh saya telah bermimpi melihat sebelas bintang; matahari; dan bulan, bersujud pada saya.”

Dengan khidmat, Yusuf mendengarkan sabda Ayahnya AS, “Anakku sayang. Mimpi ini jangan kau ceritakan pada saudara- saudaramu! Karena mereka nanti, akan melancarkan makar atas dirimu. Syaithan adalah musuh nyata bagi manusia.” [4]

 

Ajaran Ya’qub AS yang menjadi acuan hidup Yusuf AS, Husnudzon Billah, yakni menyangka baik pada Allah, mengenai yang akan terjadi:

  1. Itulah, Tuhanmu, akan:
  2. Memilih kau.
  3. Mengajar kau, sebagian takwil mimpi.
  4. Memberi kenikmatan sempurna pada kau dan keluarga Ya’qub AS. Seperti dulu sebelum ini, memberi nikmat sempurna pada dua kakekmu, Ibrahim dan Ishaq AS. Sungguh Tuhanmu Maha Alim Maha Bijak.” [5]

 

Sabda Ya’qub AS benar. Setelah mendengar berita Mimpi Yusuf, kakak-kakak Yusuf AS dengki. Mereka: Rubil, Syamun, Lawi, Yahudza, Zabulun, Yasjur, Dan, Naftali, Jad, Asyir. [6]

Yusuf tabah, karena sudah diajar oleh Ayahnya AS, “Allah Maha Alim, artinya akan selalu menindak hamba, berdasaarkan ilmu. Maha Hakim, artinya selalu menqodar dengan hikmah, yakni bertujuan baik dan benar. Dan syaitan selalu berusaha agar manusia tidak rukun, melakukan kemaksiatan dan kejahatan.”

 

Allah berfirman, “Niscaya (kisah) mengenai Yusuf dan para saudaranya, merupakan  Ayat-Ayat (Mukjizat), bagi kaum yang bertanya.”

Maksudnya, ketika kaum Yahudi menanyakan kisah Yusuf, pada Rasulallah SAW. Saat itu ada yang berkata, “Tanya dia! Kenapa Anak-Cucu Ya’qub AS, berpindah dari Kan’an menuju Mesir?.”

Melalui Al-Qur’an, Rasulullah SAW berkisah tentang Yusuf AS. Ternyata kisahnya sama dengan yang dijelaskan di dalam kitab Taurat. Kaum Yahudi heran. [7]

 

Dengan perasaan mendongkokol, kakak-kakak Yusuf AS berkata, “Sungguh Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh Ayah, daripada kita. Padahal kita kumpulan berjumlah banyak. Sungguh Ayah kita dalam kesalahan yang nyata.”

Sebagian mereka menjawab, “Bunuh dia! Atau buanglah ke suatu tempat! Niscaya perhatian Ayah kita akan tercurah pada kita! Setelah itu, kita menjadi kaum Shalih.”

Yahudza atau Rubil mencegah, “Yusuf jangan dibunuh! Masukkan kedalam sumur gelap! Agar diambil oleh Musafir! Jika kalian akan bertindak!.” [8]

Sumur gelap yang dimaksud, tidak berdinding, dan sangat dalam, di daerah Yordan. Berjarak tiga farsakh, dari rumah Ya’qub AS. (Satu farsakh, tiga hingga enam mil). [9]

 

Beruntung, ‘Pembunuhan atas Yusuf AS’ dibatalkan. Karena Allah memberi rahmat pada mereka. Kalau pembunuhan dilakukan, pasti mereka tewas terkena adzab. [10]

 

Di depan Nabi Ya’qub AS, mereka merayu, “Ayah kami? Kenapa Ayah tidak mempercayai kami untuk Yusuf? Padahal kami akan berbuat baik padanya? Bebaskan dia bersama kami! Agar bersenang-senang dan bermain-main. Kami pasti akan berbuat baik pada dia.”

Ya’qub AS menjawab, “Sungguh jika dia kalian bawa pergi, akan membuat saya susah. Lagian saya takut, jika dia dimakan oleh kawanan srigala, di saat perhatian kalian pada dia, lengah.”

Mereka merayu, “Kalau dia dimakan oleh srigala, padahal kami kelompok berjumlah banyak, berarti kami kaum yang rugi.”

 

Kejadian paling pahit dan menyedihkan, melanda Yusuf AS. Mereka berhasil membawa dia pergi, dan telah sepakat akan memasukkan dia kedalam sumur gelap. Namun Allah memberi wahyu padanya:

“Sungguh kau nanti, akan menceritakan pada mereka, mengenai perlakuan mereka. Saat itu mereka tidak menyadari.”

 

Kelengkapan kisah yang semuanya menurut Waheb:

  1. Kakak-kakak Yusuf merayu, “Bukankah kau akan bahagia? Jika ikut kami menggembala? Di sana nanti kita akan berburu dan berlomba-lomba?.” Yusuf menjawab, “Ya.” Mereka berkata, “Apa sebaiknya kami minta agar Ayah memberi ijin kau? Agar pergi bersama kami?.” Setelah menjawab, “Silahkan” Yusuf bergabung bersama mereka, menghadap Nabi Ya’qub AS. Mereka berkata, “Ayah. Sungguh Yusuf ingin keluar bersama kami, untuk menggembala.” Ya’qub bertanya Yusuf, “Apa betul?.” Yusuf menjawab, “Betul Ayah. Saya merasakan kakak-kakak lembut dan sayang pada saya. Semoga Ayah memberi saya ijin.” Sebetulnya Ya’qub tak mau berpisah dari Yusuf AS, namun ingin putranya berbahagia. Maka memutuskan Yusuf AS Diberi Ijin, agar bergabung pada mereka. Ya’qub bahagia saat melihat Yusuf AS digendong bergantian, di atas pundak, oleh kakak-kakaknya. Ketika perjalanan telah jauh, Yusuf dijatuhkan ketanah. Mereka mulai menampakkan kebencian. Beberapa orang membentak-bentak; beberapa lainnya memukul. Tiap berlari pada seorang yang diharap akan mengasihani, justru Yusuf AS dipukul. Ketika menyadari bahwa akan dibunuh, Yusuf menangis, “Ayah! Kalau kau melihat saya dikeroyok, pasti sedih dan menangis! Mereka telah melupakan janji yang mereka berikan pada Ayah! Mereka telah menyia-nyiakan pesan Ayah!.” Yusuf menangis sedih. Namun disergap dan dibanting ketanah, oleh Rubil. Dadanya diduduki dan akan dibunuh. Yusuf menangis, “Sabar! Saya jangan dibunuh!.” Rubil membentak, “Hai Anak Rahil! Kau yang telah bermimpi itu kan? Katakan pada mimpimu! Agar melepaskan kau dari tangan kami!.” Di saat leher hampir tercekik, Yusuf minta tolong pada Yahudza, “Takutlah Allah, untukku! Halang-halangi orang yang akan membunuh saya!.” Yahudza iba dan tidak tega. Dan berkata, “Hai saudara semuanya! Janji kalian pada saya ‘bukan untuk berbuat demikian’. Maukah saya beri tahu ‘tindakan’ yang lebih ringan dan lebih manusiawi?.” Mereka bertanya, “Bagaimana?.” Yahudza menjawab, “Masukkan kedalam sumur gelap! Agar mati di dalamnya, atau diambil oleh Musafir yang datang!.” Mereka bergerak membawa Yusuf, tidak melewati jalan yang ada. Di sumur dalam yang berdasar luas itu, mereka menceburkan Yusuf. Ketika tangannya berpegangan bibir sumur, diikat oleh mereka. Gamis (baju) Yusuf dilepas dengan paksa. Yusuf menangis, “Kakak! Kembalikan gamisku! Agar saya tidak telanjang!.” Mereka menjawab, “Panggil matahari, bulan, dan bintang-bintang! Agar menolong dan melindungi kau!.” Yusuf menangis, “Di sini tidak ada yang bisa menolong!.” Mereka menceburkan Yusuf kedalam sumur. Di dalam sumur, Yusuf menangis, “Kakak! Masyak saya ditinggalkan sendirian di sini?.”
  2. Mereka memasukkan Yusuf kedalam sumur, dengan tali. Diturunkan kebawah. Tali dilepas, ketika Yusuf di pertengahan, agar jatuh dan tewas. Setelah tubuh menghantam permukaan air, Yusuf naik di atas batu besar, di dalamnya.
  3. Malaikat turun untuk melepas tali pengikat tangan Yusuf AS. Lalu mengeluarkan batu besar agar digunakan duduk oleh Yusuf AS.
  4. Ketika dimasukkan kedalam sumur, Yusuf menangis; kakak-kakaknya memanggil. Karena menyangka mereka masih punya rasa kasihan, Yusuf menjawab. Beberapa orang bergerak untuk menjatuhkan batu besar. Tapi dihalang-halangi oleh Yahudza.
  5. Ketika Yusuf pergi bersama kakak-kakaknya, Ya’qub memberi kalung berliontin peti kecil dari perak. Di dalamnya ada gamis warisan dari Ibrahim AS. Gamis Surga itu pemberian Allah, ketika Ibrahim dibakar (oleh Raja Namrud). Malaikat mengeluarkan gamis dari liontin, yang menggelayut leher, agar dipakai oleh Yusuf AS. Gamis bersinar menerangi dasar sumur. [11]

 

Semua kisah yang ada adalah pelajaran untuk kita, bahwa Segala Sesuatu Dijaga oleh malaikat, agar berjalan sesuai dengan Kodrat Allah. Bagi yang:

  1. Menjalani kehidupan dengan penuh perhitungan, karena takut Adzab Allah.
  2. Sabar dan tabah dalam menjalani cobaan, dan beramal sesuai dengan Kehendak Allah.

Dipastikan akan dibimbing oleh Allah, menuju Kejayaan Surga, dan Kejayaan Dunia.

 

In syaa Allah bersambung

 


[1] {قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ () وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ()} [يوسف: 5، 6].

[2] مراح لبيد لكشف معنى القرآن المجيد (1/ 522)

قال وهب: رأى يوسف عليه السلام وهو ابن سبع سنين أن إحدى عشرة عصا طوالا كانت مركوزة في الأرض كهيئة الدائرة وإذا عصا صغيرة وثبت عليها حتى ابتلعتها، فذكر ذلك لأبيه فقال: إياك أن تذكر هذا لإخوتك، ثم رأى وهو ابن ثنتي عشرة الشمس والقمر والكواكب تسجد له فقصها على أبيه فقال: لا تذكرها لهم فيبغوا لك الغوائل.

 

[3] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 511)

قال أهل التفسير: رأى يوسف في منامه كأن أحد عشر كوكبا نزلت من السماء ومعها الشمس والقمر فسجدوا له وكانت هذه الرؤيا ليلة الجمعة وكانت ليلة القدر وكان النجوم في التأويل إخوته وكانوا أحد عشر رجلا يستضاء بهم كما يستضاء بالنجوم والشمس أبوه والقمر أمه في قول قتادة.

[4] Pengamalan dari kisah dalam ayat di atas, “Jangan menceritakan Mimpi Menyenangkan! Kecuali pada orang yang cinta. Jika bermimpi menakutkan, maka hendaklah meludah kekiri 3X. Dan berlindung pada Allah dari Syaitan yang dirajam.” تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 512)

عن أبي قتادة قال: كنت أرى الرؤيا تمرضني حتى سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول «الرؤيا الصالحة من الله والرؤيا السوء من الشيطان فإذا رأى أحدكم ما يحب فلا يحدث بها إلا من يحب وإذا رأى أحدكم ما يكره فليتفل عن يساره ثلاثا وليتعوذ بالله من الشيطان الرجيم وشرها فإنها لن تضره».

[5] {وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ} [يوسف: 6].

[6] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 513)

 وأسماؤهم روبيل وهو أكبرهم وشمعون ولاوى ويهوذا وزبولون ويشجر وأمهم ليا بنت ليان وهي ابنة خال يعقوب وولد يعقوب من سريتين اسم إحداهما زلفة والأخرى بلهة أربعة أولاد وأسماؤهم دان ونفتالي وجاد وآشر، ثم توفيت ليا فتزوج يعقوب أختها راحيل، فولدت له يوسف وبنيامين فهؤلاء بنو ليعقوب وهم الأسباط.

[7] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 513)

 وذلك أن اليهود لما سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن قصة يوسف وقيل سألوه عن سبب انتقال ولد يعقوب من أرض كنعان إلى أرض مصر ذكر قصة يوسف مع إخوته فوجدوها موافقة لما في التوراة فعجبوا منه فعلى هذا تكون هذه القصة دالة على نبوة رسول الله صلى الله عليه وسلم لأنه لم يقرأ الكتب المتقدمة ولم يجالس العلماء والأحبار، ولم يأخذ عن أحد منهم شيئا فدل ذلك على أن ما أتي به وحي سماوي وعلم قدسي أوحاه الله إليه وشرفه به.

[8] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 514)

قالَ قائِلٌ مِنْهُمْ لا تَقْتُلُوا يُوسُفَ يعني قال قائل من إخوة يوسف وهو يهوذا، وقال قتادة: هو روبيل وهو ابن خالته وكان أكبرهم سنا وأحسنهم رأيا فيه فنهاهم عن قتله.

[9] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 515)

وقال وهب: هو في أرض الأردن وقال مقاتل هو في أرض الأردن على ثلاثة فراسخ من منزل يعقوب.

[10] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 515)

وقال بعض أهل العلم عزموا على قتله وعصمهم الله رحمة بهم ولو فعلوا ذلك لهلكوا جميعا.

[11] تفسير الخازن = لباب التأويل في معاني التنزيل (2/ 516)

 قال وهب، وغيره من أهل السير والأخبار: إن إخوة يوسف قالوا له أما تشتاق أن تخرج معنا إلى مواشينا فنصيد ونستبق قال بلى قالوا له أنسأل أباك أن يرسلك معنا، قال يوسف: افعلوا فدخلوا بجماعتهم على يعقوب، فقالوا: يا أبانا إن يوسف قد أحب أن يخرج معنا إلى مواشينا فقال يعقوب: ما تقول يا بني؟ قال: نعم يا أبت إني أرى من إخوتي اللين واللطف فأحب أن تأذن لي، وكان يعقوب يكره مفارقته ويحب مرضاته فأذن له وأرسله معهم فلما خرجوا به من عند يعقوب جعلوا يحملونه على رقابهم ويعقوب ينظر إليهم فلما بعدوا عنه وصاروا إلى الصحراء وألقوه على الأرض وأظهروا له ما في أنفسهم من العداوة وأغلظوا له القول وجعلوا يضربونه فجعل كلما جاء إلى واحد منهم واستغاث به ضربه فلما فطن لما عزموا عليه من قتله جعل ينادي يا أبتاه يا يعقوب لو رأيت يوسف وما نزل به من إخوته لأحزنك ذلك وأبكاك يا أبتاه ما أسرع ما نسوا عهدك وضيعوا وصيتك وجعل يبكي بكاء شديدا فأخذه روبيل وجلد به الأرض ثم جثم على صدره وأراد قتله، فقال له يوسف: مهلا يا أخي لا تقتلني، فقال له: يا ابن راحيل أنت صاحب الأحلام قل لرؤياك تخلصك من أيدينا ولوى عنقه، فاستغاث يوسف بيهوذا وقال له اتق الله فيّ وحلّ بيني وبين من يريد قتلي فأدركته رحمة الإخوة ورق له فقال يهوذا يا إخوتي ما على هذا عاهدتموني ألا أدلكم على ما هو أهون لكم وأرفق به فقالوا وما هو قال تلقونه في هذا الجبّ إما أن يموت أو يلتقطه بعض السيارة فانطلقوا به إلى بئر هناك على غير الطريق واسع الأسفل ضيق الرأس فجعلوا يدلونه في البئر فتعلق بشفيرها فربطوا يديه ونزعوا قميصه فقال يا إخوتاه ردوا عليّ قميصي لأستتر به في الجب فقالوا ادع الشمس والقمر والكواكب تخلصك وتؤنسك فقال إني لم أر شيئا فألقوه فيها ثم قال لهم يا إخوتاه أتدعوني فيها فريدا وحيدا وقيل جعلوه في دلو ثم أرسلوه فيها، فلما بلغ نصفها ألقوه إرادة أن يموت وكان في البئر ماء فسقط فيه ثم آوى إلى صخرة كانت في البئر فقام عليها وقيل نزل عليه ملك فحل يديه وأخرج له صخرة من البئر فأجلسه عليها، وقيل إنهم لما ألقوه في الجب جعل يبكي فنادوه فظن أنها رحمة أدركته فأجابهم فأرادوا أن يرضخوه بصخرة ليقتلوه فمنعهم يهوذا من ذلك وقيل إن يعقوب لما بعثه مع أخوته أخرج له قميص إبراهيم الذي كساه الله إياه من الجنة حين ألقي في النار فجعله يعقوب في قصبة فضة وجعلها في عنق يوسف فألبسه الملك إياه حين ألقي في الجب فأضاء له الجب.

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/07/anak-dibuang-jadi-raja.html

 

Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 22 Juli 2014 16:17
 
Asal Alimtum Ilmun (Ilmu) PDF Cetak E-mail
Bahasa Arab - Bahasa Arab Umum
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Rabu, 16 Juli 2014 13:08

Kenapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Yusuf AS, pada para saudaranya, menggunakan lafal, “Alimtum maa faaltum?.” Lengkapnya pertanyaan, “Hal alimtum maa faaltum biYuusufa waakhiihi idz antum Jaahiluuun?.” [1]

Jawabannya, “Karena alimtum berasal dari ilmun (ilmu), yakni mashdar (kata dasar)nya. Ini sebagai dalil bahwa Yusuf AS sangat alim (berilmu tinggi). Beliau tergolong Kaum yang meyakini bahwa semua amalan atau pekerjaan harus dilambari ilmu, agar tidak salah langkah. Ini pelajaran dari ayahnya sejak dia masih remaja. Firman Allah, “Inna Robbaka ‘Aliimun Chakiim,” dalam surat Yusuf, cukup sebagai dalil dari uraian ini. [2]

 


[1] {قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ } [يوسف: 89].

[2] {إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ} [يوسف: 6].

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/07/asal-alimtum-ilmun-ilmu.html

 

 
« MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir »

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Latest News

Popular


Diperkuat dengan Joomla!. Designed by: joomla themes movie stars Valid XHTML and CSS.