Jadwal Kegiatan

<< Desember 2014 >> 
 Se  Se  Ra  Ka  Ju  Sa  Mi 
  1  2  3  4  5  6  7
  8  91011121314
15161718192021
22232425262728
293031    

Pilih Artikel

Statistik


Kunjungan hari ini:0
Kunjungan kemarin:61
Kunjungan bulan ini:1213
Kunjungan bulan lalu:1973
Kunjungan tahun ini:21983
Kunjungan total74783
Jadwal : Klik tanggal yang ditandai pada kalender JADWAL KEGIATAN di sebelah kiri
Kallaa Bal Roona PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Kamis, 18 Desember 2014 08:24

Arti roona, kotor atau ‘mengotori?’

Ya jelas ‘telah mengotori’

Karena itu fiil madhi

Kata kerja lampau disebut fiil madhi

 

Dasar Haditnya:

سنن الترمذي (5/ 434)

3334 - حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ، عَنْ القَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14] . «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ»

__________

 

[حكم الألباني] : حسن

 
Mengikuti KehendakNya PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Kamis, 18 Desember 2014 07:31

Semua berubah mengikuti KehendakNya

Allah yang mengatur semuanya

Ada yang dijadikan menakjubkan

Ada yang dijadikan mengejutkan

Bahkan ada yang dijadiakan

Penyebab kematian

Tentang itu, Allah berfirman:

Lillahil amru min qoblu wamin bakdu

Segala perkara yang terjadi mulai dari sejak itu

Dan yang setelah itu

Terserah Allah kama roaitu

 

Rujukan: {لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ} [الروم: 4].

 
Malu di Hadapan Kaum PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Kamis, 11 Desember 2014 15:25

 

Dalam kehidupan sehari-hari, nabi SAW juga pernah melakukan perbuatan yang membuat malu. Di antaranya ketika nabi SAW menyalahkan Qatadah bin Numan yang sebetulnya benar dalam laporannya; dan ketika beliau SAW membela keluarga Ubairiq yang sebetulnya justru pengkhianat jahat. Saat itu nabi SAW sangat malu, karena Allah menegur dan menyuruh istighfar padanya SAW atas kesalahannya, melaui beberapa ayat yang turun beruntun:

 

{ إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا} [النساء: 105]

 

Artinya:

Sungguh Kami telah menurunkan kitab dengan hak atasmu, agar kau menerapkan hukum dengan dasar pandangan yang telah Allah berikan padamu. Namun jangan membela para pengkhianat! Istighfarlah pada Allah! Sungguh Allah Maha pengampun Maha penyayang. Dan jangan membela untuk kaum yang mengkhianati diri! Sungguh Allah tidak senang pengkhianat yang banyak dosa.

 

Baginda SAW juga pernah sangat malu hingga mengilak semua istrinya selama sebulan. [1]Hingga para sahabat RA banyak yang menangis di dalam Masjid Nabawi. Hingga Umar RA membela nabi SAW dan marah-marah pada putrinya bernama Chafshah. Yang pasti tentang peristiwa itu, Nasai meriwayatkan dalam Haditsnya, “Saat itu Masjid Nabawi ‘malaanun minannas (مَلْآنٌ مِنْ النَّاسِ)’, (artinya ‘penuh manusia hingga berjejal-jejal)’.”

Karena mereka mengecek kebeneran berita 'kepastian nabi  SAW mentalak istri-istrinya’, apa tidak?. Penyebab lainnya karena mereka takut Allah murka, karena kemurkaan RasulNya SAW pada istri-istrinya yang keluarga atau anak perempuan mereka.

 

Abu Bakr juga pernah malu karena marah-marah pada Misthach yang telah melakukan kesalahan besar, yaitu terpengaruh Abdullah bin Ubai yang memfitnah Aisyah, putrinya RA. Abu Bakr bersumpah, “Demi Allah! Saya takkan memberi nafkah lagi pada Misthach untuk selamanya.”

Beliau terkejut dan malu, ketika Allah menegur:

 

ولَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ  [النور/22].

 

Artinya:

“Kaum dari kalian, yang memiliki keutamaan dan keluasan, jangan mengilak! (Dengan cara) tidak memberi nafkah para kerabat, kaum miskin, dan para Muhajiriin! Hendaklah memaafkan dan berbuat baik! Bukankah kalian senang jika Allah mengampuni pada kalian? Allah Maha pengampun Maha penyayang.”

 

Umar juga pernah malu karena telah lepas kontrol ketika berbicara pada orang banyak. Ini terjadi pada saat umat Islam surprise karena mendapatkan kemenangan akbar. Saat itu, kaum Muslimiin berjumlah banyak sekali mengalir menuju Madinah, untuk mendengarkan langsung Pembacaan Surat Khalid dari Syam, yang menjelaskan Kemenangan Akbar. Pembacaan surat didengar Jamaah sangat banyak. Dari Makkah, Chijaz, dan Yaman.

Mereka ingin lebih yakin bahwa Allah benar-benar memberi kemenangan akbar pada kaum Muslimiin. Dan memberi rampasan perang dalam jumlah banyak sekali.

Hari-hari selanjutnya kaum Muslimiin ingin bergabung berjihad, dan ingin bergabung berperang ke Syam. Rasanya ingin sekali mendapat kemenangan dan pahala seperti mereka.

Penduduk Makkah yang berdatangan ke Madinah semakin banyak, bagaikan sungai. Bahkan tokoh-tokoh besar mereka tak ketinggalan. Berkendaraan kuda, membawa panah dan peralatan perang lainnya. Di rombongan paling depan, tokoh besar bernama Abu Sufyan, dan Ghidaq bin Wa’il.

Sesampai di Madinah, mereka menemui Abu Bakr RA, agar diberi idzin bergabung perang ke kota Syam. Namun Umar RA tidak memberi idzin pada mereka. Pada Abu Bakr, dia berkata, “Orang-orang yang belum bisa mengatasi dendam-kesumat, jangan baginda beri idzin! Segala puji bagi Allah yang Kalimat (maksudnya Ajaran)-Nya sangat tinggi! Sedangkan kalimat (maksudnya faham) yang dianut oleh kaum Musyrikiin ‘sangat rendah’. Mereka ingin memadamkan Nur Allah dengan mulut mereka. Namun Allah bertekat menyempurnakan Nur-Nya. Oleh karena itu kita meyakini tiada penakluk selain Allah! Ketika Allah telah menjayakan agama kita dan memperkuat syari’at kita; mereka masuk Islam karena takut pedang! Setelah mendengar berita Pasukan Allah menaklukkan kaum Romawi yang mereka anggap dahsyat, mereka datang pada kita untuk minta diperintah memerangi musuh, agar mendapatkan bagian yang sama dengan para pendahulu mereka! Yang benar kita tidak boleh menempatkan mereka ini, di dekat mereka.”

Abu Bakr menjawab, “Saya takkan menyelisihi maupun menentang kemauanmu.”

 

Dalam waktu cepat, ucapan Umar RA sampai ke telinga penduduk Makkah. Mereka merasa tersinggung sehingga harus datang ke Madinah bebodong-bondong banyak sekali. Tujuan mereka akan menemui Abu Bakr RA yang sedang di dalam Masjid, dikerumuni Jamaah Muslimiin. Di dalam Masjid yang dipenuhi Muslimiin itu suaranya sangat riuh. Pembicaraan mereka berkisar mengenai kemenangan akbar untuk Muslimiin. Umar mendampingi di sebelah kiri Abu Bakr; Ali di sebelah kanannya.

 

Rombongan tamu berjumlah banyak sekali itu mendekati Abu Bakr. Setelah salam dijawab, mereka duduk di hadapan Abu Bakr RA. Mereka berembuk sejenak mengenai siapa yang akan mewakili mereka berbicara. Ternyata Abu Sufyan yang mengawali mereka berbicara.

Pembicaraan dialamatkan pada Umar, “Hai Umar! Di zaman Jahiliyyah dulu kau kami benci! Setelah Allah memberi hidayah pada kami! Kami menghapus kebencian kami padamu! Karena Iman memberantas syirik! Namun kenapa kau kini membuat kami marah!? Sebetulnya apa yang mendorong kau memusuhi dan menyingkirkan kami ini, hai putra Khotthob?! Apa kau belum mencuci dendam dalam hatimu?! Kami semua menyadari bahwa kau lebih utama dan lebih duluan beriman dan berjihad! Kami juga tahu kedudukanmu yang sangat tinggi!.”

Umar RA diam tidak menjawab, karena malu, dimarahi oleh Abu Sufyan, di hadapan orang banyak sekali.   

 

Tekat mereka yang melaut itu telah bulat, ingin bergabung berjuang ke negri Syam. Suara Abu Sufyan menarik perhatian Majlis: “Sungguh saya mempersaksikan pada kalian bahwa, saya bertekat berjihad di Jalan Allah!.”

Tak lama kemudian sejumlah tokoh Makkah juga menyatakan, “Saya juga begitu!” Menggemuruh.

Suara Abu Bakr RA sangat berwibawa namun sejuk: “Ya Allah! Sampaikan mereka pada yang mereka inginkan yang lebih utama. Dan berilah pahala yang mereka amalkan dengan baik. Berilah mereka ini kemampuan menaklukkan lawan. Jangan kau beri kesempatan pada musuh untuk menaklukkan mereka. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” 

Banyak hadirin yang mata mereka berkaca-kaca, karena bagi mereka, doa yang diucapkan oleh Abu Bakr terasa sejuk bagai air sorgawi.

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2011/05/kw-34-ingin-bergabung-berjuang.html



[1] Mengilak adalah merenggangkan cinta-kasih. Sumpah ilak artinya sumpah untuk merenggankan cinta-kasih.

 

 
Tokoh-Tokoh setelah Musa AS PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Rabu, 10 Desember 2014 11:00

Kajian Bersambung

Surat Al-Baqarah 246

 

{أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ } [البقرة: 246].

 

Artinya:

Apa kau tidak memperhatikan pada tokoh-tokoh dari Bani Israil, setelah Musa AS? Ketika itu mereka berkata pada nabi mereka AS, “Angkatlah raja untuk kami. Kami akan berperang di Jalan Allah.”

Dia menjawab, “Bukankah jika peperangan telah diwajibkan atas kalian, kalian ingin ‘tidak ikut perang?’.”

Mereka menjawab, “Bagaimana mungkin kami nanti, tidak berperang di Jalan Allah? Padahal kami benar-benar telah diusir dari kampung-kampung dan anak-anak kami?.”

Maka ketika ‘Perang’ telah diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sangat sedikit dari mereka. Namun Allah Maha Alim mengenai kaum aniaya (lalim). (246).

 

Al-Qurthubi menjelaskan yang artinya:

Ketika itu mereka berkata pada nabi mereka AS, “Angkatlah raja untuk kami.”

Ada yang berkilah, “Dia Nabi Syamwil bin Bal bin Alqomah AS, yang sering disebut ‘putra wanita tua’.”

Tentang itu, ada lagi yang berkilah, “Nabi Syamun AS.”

Assuddi berkata, “Sungguh dia dipanggil ‘putra wanita tua’ karena ibunya tua renta. Namun berdoa agar Allah memberi putra, padahal jelas mandul. Allah memberi anugrah ‘putra’ padanya.”

Ada yang berkilah, “Dia bernama Nabi Syamun AS. Karena ibunya pernah berdoa agar Allah memberi putra. Setelah lahir, diberi nama Samun, yang artinya ‘Allah telah mendengarkan doa saya’. Huruf ‘sin’ Arab, dalam bahasa Ibrani ‘syin’. Beliau cucu Nabi Yaqub AS.”

Muqotil berkata, “Dia termasuk cucu Nabi Harun AS.”

 

Qotadah berkata, “Dia Nabi Yusyak bin Nun AS.”

Ibnu Athiyah berkata, “Namun beberapa penjelasan di atas dhoif, karena jarak waktu mulai Musa hingga Dawud AS, beberapa abad. Sedangkan Yusyak adalah pelayan Musa AS.”

Al-Muhasibi menjelaskan, “Nama dia Nabi Ismail AS.” Namun Allah lebih tahu. [1]

 


[1] تفسير القرطبي (3/ 243)

(إِذْ قالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنا مَلِكاً) قِيلَ: هُوَ شَمْوِيلُ بْنُ بَالَ بْنِ عَلْقَمَةَ وَيُعْرَفُ بابن العجوز. ويقال فيه: شمعون، قال السدى: وإنما قيل: ابن والعجوز لِأَنَّ أُمَّهُ كَانَتْ عَجُوزًا فَسَأَلَتِ اللَّهَ الْوَلَدَ وَقَدْ كَبِرَتْ وَعَقِمَتْ فَوَهَبَهُ اللَّهُ تَعَالَى لَهَا. وَيُقَالُ لَهُ: سَمْعُونُ لِأَنَّهَا دَعَتِ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَهَا الْوَلَدَ فَسَمِعَ دُعَاءَهَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا فَسَمَّتْهُ" سَمْعُونَ"، تَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ دُعَائِي، وَالسِّينُ تَصِيرُ شِينًا بِلُغَةِ الْعِبْرَانِيَّةِ، وَهُوَ مِنْ وَلَدِ يَعْقُوبَ. وَقَالَ مُقَاتِلٌ: هُوَ مِنْ نَسْلِ هَارُونَ عَلَيْهِ السَّلَامُ. وَقَالَ قَتَادَةُ: هُوَ يُوشَعُ بْنُ نُونَ. قَالَ ابْنُ عَطِيَّةَ: وَهَذَا ضَعِيفٌ لِأَنَّ مُدَّةَ دَاوُدَ هِيَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى بِقُرُونٍ مِنَ النَّاسِ، وَيُوشَعُ هُوَ فَتَى مُوسَى. وَذَكَرَ الْمُحَاسِبِيُّ أَنَّ اسْمَهُ إِسْمَاعِيلُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

 

 

 
Rujukan Kaum Syiah PDF Cetak E-mail
Kisah Islam - Kisah Lainnya
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Minggu, 07 Desember 2014 20:29

Dalam Al-Milal wan Nihal, dijelaskan banyak mengenai kaum Syiah. Mereka yakin bahwa Sayyidinaa Ali RA belum wafat. “Yang dibunuh oleh Ibnu Muljam itu bukan Ali RA, tetapi Syaitan. Sedangkan Ali RA naik ke langit, di atas awan” kata mereka.

 

Mereka memiliki syair karya Al-Himyari, yang diyakini, “Benar.”:

Ketahuilah bahwa para pemimpin hanya

Dari kaum Quraisy saja

Yang berhak menjadi pimpinan empat jumlahnya

Yang bertama bernama Ali RA

Yang kedua tiga golongannya

Asbath sebutan mereka

Tak bisa dipungkiri kebenarannya

Golongan pertama golongan iman dan kebaikan

Golongan kedua digoibkan oleh Perang Karbala

Golongan ketiga takkan wafat selamanya

Kecuali bila pasukan berkuda

Telah datang membawa bendera

Barangkali mereka bersembunyi

Apa kalian tak tahu bahwa

Sejak dulu mereka di Dhowa

Di sisi mereka pancaran madu dan aquwa [1]



[1] مناقب الأسد الغالب علي بن أبي طالب لابن الجزري (ص: 76)

وقد ضل الحميري حيث قال:

ألا إن الأئمة من قريش ... لذي التحقيق أربعة سواء

علي والثلاثة من بنيه ... هم الأسباط ليس لهم خفاء

فسبط سبط إيمان وبر ... وسبط غيبته كربلاء

وسبط لا يذوق الموت حتى ... تجئ الخيل بقدمها لواء

لعله توارى ألا تراه من ... زمان به ضوى عنده عسل وماء.

 

 
« MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir »

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Latest News

Popular


Diperkuat dengan Joomla!. Designed by: joomla themes movie stars Valid XHTML and CSS.