Jadwal Kegiatan

<< September 2014 >> 
 Se  Se  Ra  Ka  Ju  Sa  Mi 
  1  2  3  4  5  6  7
  8  91011121314
15161718192021
22232425262728
2930     

Pilih Artikel

Statistik


Kunjungan hari ini:39
Kunjungan kemarin:51
Kunjungan bulan ini:1106
Kunjungan bulan lalu:1854
Kunjungan tahun ini:16027
Kunjungan total68827
Jadwal : Klik tanggal yang ditandai pada kalender JADWAL KEGIATAN di sebelah kiri
Doa Hebat Membuat Terperanjat PDF Cetak E-mail
Kisah Islam - Kisah Lainnya
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Rabu, 17 September 2014 14:34

Sahel bin Ammar pernah menghadiri Majlis (Tempat pertemuan agung)nya Al-Hajjaj bin Yusuf. Saat itu, Al-Hajjaj sedang memamerkan kawanan kudanya. Hadir dalam Majlis, Anas bin Malik RA.

Al-Hajjaj berkata, “Hai Ayah Hamzah, kedudukan kawanan kuda ini? Dibanding dengan kawanan kuda yang dulu di sisi Rasulillah, bagaimana?.”

Anas menjawab, “Yang milik nabi SAW dulu, sebagaiman yang Allah azza wajalla firmankan ‘Siapkan kemampuan kalian, berupa kekuatan dan kawanan kuda! Untuk (menghadapi) mereka!’. Kalau ini dirawat untuk pamer dan sum’ah (terkenal).”

Sontak Al-Hajjaj marah. Dan berkata, “Kalau tidak ada surat Amirul-Mukminiin, Abdul-Malik bin Marwan yang dikirimkan pada saya! Niscaya saya telah menindak! Niscaya saya telah menindak.”

Anas menjawab, “Sungguh kau takkan mampu melakukan demikian! Niscaya Rasulullah SAW telah mengajar saya ‘Doa Penjagaan’ dari Syaitan dirajam, dan dari semua penguasa kejam.”

Sontak Al-Hajjaj bersimpuh, bertumpu dua lututnya. Dan memohon, “Ajarkan pada saya, Paman.”

Anas menjawab, “Kau tak pantas mendapatkan doa ini!.”

Sahel berkata, “Al-Hajjaj memaksa agar anak-cucu dan keluarga Anas, menjelaskan doa tersebut. Namun mereka menolak. Sebagian dari anak-cucunya berkata pada saya ‘menurut Anas kalimat doanya’:

«بِسْمِ اللَّهِ عَلَى نَفْسِي وَدِينِي، بِسْمِ اللَّهِ عَلَى مَا أَعْطَانِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، بِسْمِ اللَّهِ عَلَى أَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ رَبِّي، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، أَجِرْنِي مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ، وَمِنْ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ، إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ، فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ».”

 

Baca:

Bismillaahi ‘alaa nafsii wadiinii. Bismillahi ‘alaa maa a’thaanii Rabbii ‘azza wajalla. Bismillaahi ‘alaa ahlii wamaalii. Allaahu akbar. Allaahu Rabbii. Allaahu akbar. Allaahu Rabbii. Laa usyriku bihii syaiaa. Ajirnii min kulli syaithaanin rajiimin wamin kulli jabbarin ‘aniid. Inna waliyyiyallaahul ladzii nazzalal kitaaba wahuwa yatawallas shaalihiin. Fain tawallau faqul hasbiyallaahu laa Ilaaha illaa Huwa ‘alaihi tawakkaltu wahuwa Rabbul ‘Arsyil Adziiim.

 

Artinya:

Dengan Nama Allah untuk diri dan agamaku. Dengan Nama Allah untuk yang diberikan padaku oleh Tuhanku azza wajalla. Dengan Nama Allah untuk keluarga dan hartaku. Allah lebih besar Allah Tuhanku. Allah lebih besar Allah Tuhanku. Allah Tuhanku, saya takkan menyekutukan Dia pada sesuatu. Selamatkan saya dari segala Syaitan yang dirajam. Dan dari semua penguasa jahat. Sungguh Kekasihku Allah yang telah menurunkan Kitab. Dia pula yang mencintai kaum Shalih. Jika mereka berpaling, katakan! ‘Yang mencukupi saya, Allah’. Tiada Tuhan kecuali Dia. Pada Dia saya berserah. Dan Dialah Tuhan Arasy yang agung. [1]

 


[1] الدعاء للطبراني (ص: 323)

1059 - حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ وَهْبِ بْنِ مُهَاجِرٍ الْقُرَشِيُّ الْمِصْرِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلٍ الْعَمَّارُ، حَدَّثَنِي أَبِي أَنَّهُ كَانَ فِي مَجْلِسِ الْحَجَّاجِ بْنِ يُوسُفَ وَهُوَ يَعْرِضُ خَيْلًا وَعِنْدَهُ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ: يَا أَبَا حَمْزَةَ أَيْنَ هَذِهِ مِنَ الْخَيْلِ الَّتِي كَانَتْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: تِلْكَ وَاللَّهِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ} [الأنفال: 60] وَهَذِهِ هُيِّئَتْ بِالرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ، فَغَضِبَ الْحَجَّاجُ وَقَالَ: لَوْلَا كِتَابُ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ إِلَيَّ لَفَعَلْتُ وَلَفَعَلْتُ، فَقَالَ لَهُ أَنَسٌ: إِنَّكَ لَنْ تُطِيقَ ذَلِكَ لَقَدْ عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَحْتَرِزُ بِهِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ وَمِنْ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ، فَجَثَا الْحَجَّاجُ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَقَالَ: عَلِّمْنِيهِنَّ يَا عَمُّ، فَقَالَ: لَسْتَ لَهَا بِأَهْلٍ قَالَ: فَدَسَّ إِلَى عِيَالِهِ وَوَلَدِهِ فَأَبَوْا عَلَيْهِ، قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلٍ: قَالَ أَبِي: حَدَّثَنِي بَعْضُ بَنِيهِ أَنَّهُ قَالَ: «بِسْمِ اللَّهِ عَلَى نَفْسِي وَدِينِي، بِسْمِ اللَّهِ عَلَى مَا أَعْطَانِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، بِسْمِ اللَّهِ عَلَى أَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ رَبِّي، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، أَجِرْنِي مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ، وَمِنْ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ، إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ، فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ».

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/09/doa-hebat-membuat-terperanjat.html

 
Tertipu Dalil PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Hadits
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Rabu, 17 September 2014 11:08

Sebetulnya Syaitan yang suka menipu. Pada kaum yang membaca dalil pun, Syaitan juga menipu, yakni menyesatkan.

Humran bin Aban pernah datang pada Utsman bin Affan, mengantar air wudhu. Saat itu beliau RA sedang duduk di Madinah, di tempat yang disebut Maqaid (tempat-tempat duduk). Beliau wudhu dengan wudhu yang elok, yakni tertib. Lalu berkata, “Saya pernah menyaksikan nabi SAW berwudhu di Majlis (Tempat Pertemuan) ini. Wudhu beliau SAW  juga elok. Lalu bersabda ‘barangsiapa berwudhu seperti wudhu ini, lalu datang ke Masjid, untuk shalat dua rakaat, lalu duduk, maka dosanya yang telah berlalu diampuni’.”

Utsman menambah, “Beliau bersabda ‘jangan tertipu!’.” [1]

 

Maksudnya jangan hanya melihat dalil, “Maka dosanya yang telah berlalu diampuni!” karena berakibat sembrono hingga melakukan dosa.

 


[1] صحيح البخاري (8/ 92)

6433 - حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ القُرَشِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي مُعَاذُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ حُمْرَانَ بْنَ أَبَانَ، أَخْبَرَهُ قَالَ: أَتَيْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ، بِطَهُورٍ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى المَقَاعِدِ، فَتَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ وَهُوَ فِي هَذَا المَجْلِسِ، فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ ثُمَّ قَالَ: «مَنْ تَوَضَّأَ مِثْلَ هَذَا الوُضُوءِ، ثُمَّ أَتَى المَسْجِدَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ جَلَسَ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» قَالَ: وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ تَغْتَرُّوا»

__________

 

[تعليق مصطفى البغا]

6069 (5/2363) -[ش (بطهور) الماء الذي يتطهر به. (المقاعد) موضع بالمدينة. (لا تغتروا) أي بهذه المغفرة وتعتمدوا عليها فتجسروا على الذنوب]

[ر 158]

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/09/tertipu-dalil.html

 

 
Janda Ditinggal Wafat PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an & Hadits
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Senin, 15 September 2014 09:25

Surat Al-Baqarah 234 - 235

{وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (234) وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ (235)} [البقرة: 234، 235].

 

Artinya:

Orang-orang dari kalian yang diwafatkan, meninggalkan istri-istri. Maka (mereka istri) menunggu dengan diri mereka, 4 bulan 10 hari. Ketika telah sampai ajal (iddah), maka mengenai yang mereka (istri) amalkan bil-makruf, tiada dosa atas kalian. Dan Allah Maha Meliput pada yang kalian amalkan. (234)

Ibnu Katsir berkata, “Ini perintah dari Allah untuk para wanita, yang ditinggal wafat oleh suami. Agar menjalani iddah ‘empat bulan sepuluh hari’. Hukum ini meliputi para istri yang telah maupun belum dijimak. Sandaran dalil bahwa hukum ini meliputi ‘janda yang belum dijimak’ umumnya ayat mulia ini, ditambah Hadits nanti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para penulis Kitab Sunan. Tirmidzi menilai Hadits ini shohih:

Sungguh Ibnu Masud pernah ditanya mengenai pria yang menikahi wanita, lalu wafat. Padahal belum menjimak, dan belum menentukan maskawin. Mereka berkali-kali datang padanya untuk menanyakan hukum tersebut. Beliau berkata, “Saya akan menjawab persoalan ini dengan rokyu (pendapat) saya. Jika benar, berarti dari Allah. Jika salah, berarti dari saya dan dari Syaitan. Allah dan RasulNya lepas dari urusan tersebut. Saya berpandangan ‘wanita’ itu berhak mendapatkan maskawin sempurna. (Dalam lafal lain ‘wanita itu berhak mendapatkan maskawin seperti wanita lainnya. Tidak kurang dan tidak lebih. Berkewajiban melakukan iddah, juga berhak mendapatkan waris)’.”

Maqil bin Sinan Al-Asyjai berdiri, untuk berkata, “Saya pernah mendengar Rasulallah SAW menghukumi demikian pada Barwa binti Wasyiq.”

Sontak Abdullah berbahagia maksimal, karena persaksian tersebut. (Dalam riwayat lain, ‘Sontak beberapa pria dari Asyja berdiri’, untuk berkata, “Kami bersaksi bahwa Rasulullah SAW pernah menghukumi demikian pada Barwa binti Wasyiq.”

Yang hukumnya tidak  termuat di sini, hanya janda ditinggal wafat, dalam keadaan hamil. Sunggguh iddahnya melahirkan hamilan. Walaupun melahirkannya hanya sekerlingan, setelah wafat suami. Berdasarkan umumnya Ayat, “Dan ibu-ibu hamil, ajal (iddah)nya melahirkan hamilan mereka.” QS Atthalaq ayat 4. [1]

Tiada dosa atas kalian, mengenai yang kalian sindirkan, berupa ‘melamar wanita’ atau ‘menyembunyikan’ di dalam diri kalian. Allah tahu bahwa sungguh kalian akan ingat mereka (janda). Namun jangan berjanji pada mereka dengan rahasia. Kecuali jika kalian (hanya) mengucapkan perkataan baik. Jangan sengaja pada ‘Akad Nikah!’ hingga catatan (iddah) telah sampai ajal (tempo)nya. Ketahuilah bahwa sungguh Allah tahu yang di dalam diri kalian! Maka waspadalah padaNya! Dan ketahuilah bahwa sungguh Allah Maha Pengampun Maha Aris (Santun). (235)

 


[1] تفسير ابن كثير (1/ 635)

هَذَا أَمْرٌ مِنَ اللَّهِ لِلنِّسَاءِ اللَّاتِي يُتَوّفى عَنْهُنَّ أَزْوَاجُهُنَّ: أَنْ يَعْتَدِدْنَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرَ لَيَالٍ وَهَذَا الْحُكْمُ يَشْمَلُ الزَّوْجَاتِ الْمَدْخُولَ بِهِنَّ وَغَيْرَ الْمَدْخُولِ بِهِنَّ بالإجماع، ومستنده في غير الْمَدْخُولِ بِهَا عُمُوم الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ، وَهَذَا الْحَدِيثُ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَهْلُ السُّنَنِ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ: أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ سُئِل عَنْ رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً فَمَاتَ وَلَمْ يَدْخُلْ بِهَا، وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا؟ فَتَرَدَّدُوا إِلَيْهِ مِرَارًا فِي ذَلِكَ فَقَالَ: أَقُولُ فِيهَا بِرَأْيِي، فَإِنْ يَكُنْ صَوَابًا فَمِنَ اللَّهِ، وَإِنْ يكُن خَطَأً فَمِنِّي وَمِنَ الشَّيْطَانِ، وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ بَرِيئَانِ مِنْهُ: [أَرَى] لَهَا الصَّدَاقَ كَامِلًا. وَفِي لَفْظٍ: لَهَا صَدَاقُ مِثْلِهَا، لَا وَكْسَ، وَلَا شَطَط، وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ، وَلَهَا الْمِيرَاثُ. فَقَامَ مَعْقِلُ بْنُ سِنَانٍ الْأَشْجَعِيُّ فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم قَضى بِهِ فِي بَرْوَع بِنْتِ وَاشِقٍ. فَفَرِحَ عَبْدُ اللَّهِ بِذَلِكَ فَرَحًا شَدِيدًا. وَفِي رِوَايَةٍ: فَقَامَ رِجَالٌ مِنْ أَشْجَعَ، فَقَالُوا: نَشْهَدُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى بِهِ فِي بَرْوَع بِنْتِ وَاشِق وَلَا يَخْرُجُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا، وَهِيَ حَامِلٌ، فَإِنَّ عِدَّتَهَا بِوَضْعِ الْحَمْلِ، وَلَوْ لَمْ تَمْكُثْ بَعْدَهُ سِوَى لَحْظَةٍ؛ لِعُمُومِ قَوْلِهِ: {وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ} [الطَّلَاق: 4].

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/09/janda-ditinggal-wafat.html

 

 
Sungguh Kalau Mereka Beriman PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Minggu, 14 September 2014 13:24

{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [الأعراف: 96].

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

 

Apapun komentar anda mengenai terjemah ayat ini, tetap saja penerjemahnya ‘hebat’, karena telah ‘berijtihad’. Memang sulit menerjemahkan ayat ini. Hanya kalau tahu bahwa kaum Arab memastikan peletakan ‘lau’ lalu ‘anna’. meskipun mereka mengatakan ‘sungguh kalau’. Tidak seperti bangsa Indonesia, sering berkata ‘sungguh’ lalu ‘kalau’. In syaa Allah, pasti mengurangi ‘kebingungan’ atau ‘kesulitan’ yang ada. Apalagi jika tahu bahwa ‘al’ dalam ‘al-quraa’ adalah ahdiyyah (untuk menunjuk ‘itu’ atau ‘tersebut’). Pasti akan plong. Ada lagi yang mungkin dilupakan oleh penerjemah, lafal ‘lafatahnaa’ diartikan ‘pastilah Kami akan melimpahkan’. Padahal fiil madhi (kata kerja lampau). Mestinya ‘pastilah Kami telah melimpahkan’ atau kalimat sepadan itu.

 

Rujukan kami: تفسير الزمخشري = الكشاف عن حقائق غوامض التنزيل (2/ 133)

اللام في القرى: إشارة إلى القرى التي دل عليها قوله وَما أَرْسَلْنا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ كأنه قال ولو أنّ أهل تلك القرى الذين كذبوا وأهلكوا آمَنُوا بدل كفرهم وَاتَّقَوْا المعاصي مكان ارتكابها لَفَتَحْنا عَلَيْهِمْ بَرَكاتٍ مِنَ السَّماءِ وَالْأَرْضِ لآتيناهم بالخير من كل وجه. وقيل أراد المطر والنبات وَلكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْناهُمْ بسوء كسبهم ويجوز أن تكون اللام في القرى للجنس. فإن قلت: ما معنى فتح البركات عليهم؟ قلت: تيسيرها عليهم كما ييسر أمر الأبواب المستغلقة بفتحها. ومنه قولهم: فتحت على القارئ، إذا تعذرت عليه القراءة فيسرتها عليه بالتلقين. http://mulya-abadi.blogspot.com/2011/05/arti-lau-anna.html. http://mulya-abadi.blogspot.com/2013/11/lau-anna.html.

 
Sejelek-Jelek Kalian Kaum Bujang PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Hadits
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Sabtu, 13 September 2014 10:08

Seorang pria bernama Akkaf bin Bisyr Attamimi memasuki rumah Rasulillah SAW. Padanya, nabi bersabda, “Ya Akkaf! Apa kau memiliki istri?.”

Dia menjawab, “Tidak.”

Nabi bertanya, “Budak perempuan?.”

Dia menjawab, “Juga tiak punya.”

Nabi bertanya, “Padahal kau kaya? Dalam keadaan normal?.”

Dia menjawab, “Saya kaya dan normal.”

Nabi bersabda, “Berarti kau termasuk saudara para Syaitan. Kalau kau Nashrani, pasti tergolong Rahib mereka. Sunnahan kita, menikah. Sejelek-jelek kalian kaum Bujang. Serendah-rendah mayat kalian, kaum Bujang. Masyak kalian bercengkerama dengan para syaitan? Syaitan tidak memiliki pedang yang lebih tajam, untuk (melukai) kaum Shalih, daripada ‘Wanita’. Kecuali mereka yang beristri. Mereka kaum Disucikan, diselamatkan dari porno. Kasihan kau ya Akkaf! (Para wanita adalah sahabat Nabi Ayub, Nabi Dawud, Nabi Yusuf AS, dan Kursuf.”

Bisyr bin Athiyah bertanya, “Siapakah Kursuf? Ya Rasulallah?.”

Nabi bersabda, “Lelaki yang dulu tinggal di sebuah pantai. Selama tigaratus tahun dia menyembah Allah. Di waktu siang dia berpuasa, jika malam, dia shalat. Lalu dia mengkufuri Alah yang Maha Agung. Penyebabnya terpengaruh wanita mempesona. Kebiasaan beribadah dia tinggalkan. Lalu Allah membuat dia kembali lagi pada amalannya. Allah menerima ‘tobat dia’. Kasihan kau Akkaf! Menikahlah! Jika tidak kau lakukan, kau tergolong kaum Bimbang!.”

Akkaf berkata, “Nikahkan saya, ya Rasulallah!.”

Nabi bersabda, “Sungguh aku menikahkan kau dengan Kaimah binti Kultsum Al-Himyari.”

 

Rujukan: مسند أحمد (35/ 355)

21450 - حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَاشِدٍ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ: عَكَّافُ بْنُ بِشْرٍ التَّمِيمِيُّ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا عَكَّافُ، هَلْ لَكَ مِنْ زَوْجَةٍ؟ " قَالَ: لَا. قَالَ: "وَلَا جَارِيَةٍ؟ " قَالَ: وَلَا جَارِيَةَ. قَالَ: "وَأَنْتَ مُوسِرٌ بِخَيْرٍ؟ " قَالَ: وَأَنَا مُوسِرٌ بِخَيْرٍ. قَالَ: "أَنْتَ إِذًا مِنْ إِخْوَانِ الشَّيَاطِينِ، لَوْ كُنْتَ فِي النَّصَارَى كُنْتَ مِنْ رُهْبَانِهِمْ، إِنَّ سُنَّتَنَا النِّكَاحُ، شِرَارُكُمْ عُزَّابُكُمْ، وَأَرَاذِلُ مَوْتَاكُمْ عُزَّابُكُمْ، أَبِالشَّيْطَانِ تَمَرَّسُونَ مَا لِلشَّيْطَانِ مِنْ سِلَاحٍ أَبْلَغُ فِي الصَّالِحِينَ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا الْمُتَزَوِّجُونَ، أُولَئِكَ الْمُطَهَّرُونَ الْمُبَرَّؤُونَ مِنَ الْخَنَا، وَيْحَكَ يَا عَكَّافُ، إِنَّهُنَّ صَوَاحِبُ أَيُّوبَ وَدَاوُدَ، وَيُوسُفَ وَكُرْسُفَ ". فَقَالَ لَهُ بِشْرُ بْنُ عَطِيَّةَ: وَمَنْ كُرْسُفُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: "رَجُلٌ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ بِسَاحِلٍ مِنْ سَوَاحِلِ الْبَحْرِ ثَلَاثَ مِائَةِ عَامٍ، يَصُومُ النَّهَارَ، وَيَقُومُ اللَّيْلَ، ثُمَّ إِنَّهُ كَفَرَ بِاللهِ الْعَظِيمِ فِي سَبَبِ امْرَأَةٍ عَشِقَهَا، وَتَرَكَ مَا كَانَ عَلَيْهِ مِنْ عِبَادَةِ اللهِ، ثُمَّ اسْتَدْرَكَ اللهُ بِبَعْضِ مَا كَانَ مِنْهُ فَتَابَ عَلَيْهِ، وَيْحَكَ يَا عَكَّافُ تَزَوَّجْ، وَإِلَّا فَأَنْتَ مِنَ الْمُذَبْذَبِينَ " قَالَ: زَوِّجْنِي يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: "قَدْ زَوَّجْتُكَ كَرِيمَةَ بِنْتَ كُلْثُومٍ الْحِمْيَرِيِّ ")

__________

Hadits ini Dhoif, karena murid Abi Dzarr tidak dikenal, oleh kaum Muhadditsiin. Dan karena isnad-isnadnya tidak bisa dipastikan (Idhthirob). Ibnu Hajar berkata, “Hadits Munkar.”

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2014/09/sejelek-jelek-kalian-kaum-bujang.html

Terakhir Diperbaharui pada Sabtu, 13 September 2014 10:43
 
« MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir »

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Latest News

Popular


Diperkuat dengan Joomla!. Designed by: joomla themes movie stars Valid XHTML and CSS.