Jadwal Kegiatan

<< May 2012 >> 
 Se  Se  Ra  Ka  Ju  Sa  Mi 
   1  2  3  4  5  6
  8  910111213
14151617181920
21222324252627
28293031   

Pilih Artikel

Sponsor

Statistik


Kunjungan hari ini:14
Kunjungan kemarin:43
Kunjungan bulan ini:1011
Kunjungan bulan lalu:1574
Kunjungan tahun ini:8169
Kunjungan total11886
Jadwal : Klik tanggal yang ditandai pada kalender JADWAL KEGIATAN di sebelah kiri
Mengejar Asa Direnggut Maut PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam   
Senin, 30 April 2012 23:57

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Firaun direnggut oleh maut ketika sedang mengejar asa berbentuk keinginan menindas dan menyerang Musa AS dan kaumnya. Sebuah riwayat menjelaskan: saat itu Firaun menggerakkan duajuta pasukan berkuda untuk mengejar Musa AS dan kaumnya.

Beberapa orang terkejut ketika Musa AS mengayunkan tongkat untuk membelah lautan. Tiba-tiba ada suara, “Blang,” membahana yang mengejutkan. Bumi bergoncang dan beberapa ombak membumbung jauh bagai gunung-gunung yang tinggi.

Dengan gerak cepat, Musa AS dan kaumnya segera memasuki dan menyusuri 12 lorong panjang sebagai jalan di pertengahan lautan.[1] Mereka berlari cepat sekali menyusuri jalan-jalan yang berdinding ombak di kiri dan kanannya. Di bagian belakang mereka, ada kuda betina birahi yang sangat menggiurkan bagi kuda jantan kendaraan Firaun yang berada di belakang.

Emosi yang memuncak mendorong Firaun dan kaumnya memacu kuda secepat-cepatnya, mengejar Musa AS dan kaumnya yang akan dihukum seberat-beratnya.

Sebetulnya hingga kapanpun, kisah terindah yang melukiskan kejadian saat itu adalah Firman Allah:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آَمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آَمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ آَلْآَنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آَيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آَيَاتِنَا لَغَافِلُونَ [يونس/90-92].

Artinya:

Dan Kami telah menyeberangkan Bani Israil pada lautan. Sontak Firaun dan pasukannya mengikuti mereka untuk menindas dan menyerang.[2] Hingga ketika tenggelam telah menyergap dia (Firaun); dia berkata, “Saya telah beriman bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali yang telah diimani oleh kaum Israil. Dan saya tergolong Muslimiin.”

(Allah menegur), “Masyak sekarang (kau sedang beriman)? Padahal sebelum ini kau telah maksiat? Dan kau telah tergolong kaum yang berbuat kerusakan!. Di hari ini Kami menyelamatkanmu dengan badanmu, agar menjadi ayat (mukjizat) bagi orang yang di belakangmu. Sungguh kebanyakan dari manusia niscaya lupa terhadap ayat-ayat (mukjizat-mukjizat) Kami.”

Kesimpulan:

  1. Wajaawaznaa bi Baniii Israiiilal bachr (وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ / Dan Kami telah menyeberangkan Bani Israil pada lautan). Adalah dalil bahwa yang menyeberangkan Bani Israil pada lautan adalah Allah, sehingga lari mereka cepat sekali.
  2. Faatbaahum Firaunu wajunuduhuu baghyan waadwan (فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا / Sontak Firaun dan pasukannya mengikuti mereka untuk menindas dan menyerang). Adalah dalil bahwa tujuan Firaun mengejar Musa AS dan kaumnya adalah mengejar asa. Hanya karena dia jahat, maka asanya juga jahat (berbentuk keinginan menindas dan menyerang).
  3. Chattaa idzaa adrakahul gharaqu qaala aamantu annahuu laaa Ilaaha illalladzii aamanat bihii Banuu Israaiiila waana minal Muslimiin (حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آَمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آَمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ /Hingga ketika tenggelam telah menyergap dia (Firaun); dia berkata, “Saya telah beriman bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali yang telah diimani oleh kaum Israil. Dan saya tergolong Muslimiin).” Adalah dalil bahwa pengejaran tersebut berjalan cukup lama. Dan bahwa Firaun bersyahadat mengenai keesaan Allah, bertepatan ketika dia telah tenggelam dan sakarat. Saat itu Firaun sangat ketakutan pada Tuhan.
  4. Aalaana waqad ashaita qablu wakunta minal mufsidiin (آَلْآَنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ / Allah menegur, “Masyak sekarang (kau sedang beriman)? Padahal sebelum ini kau telah maksiat? Dan kau telah tergolong kaum yang berbuat kerusakan!.” Adalah dalil bahwa Allah murka pada Firaun. Tentunya, pada kaum Firaun juga murka. Melalui Firman ini kita bisa membayangkan bahwa Firaun tersiksa oleh teguran Allah yang Maha Dahsyat. Para malaikat saja pingsan jika Allah berfirman, karena Allah dan FirmanNya Maha Dahsyat. Apalagi jika FirmanNya difirmankan dengan murka pada musuhNya.
  5. Falyauma Nunajjiika bibadanika litakuuna liman khalfaka aayatan wainna katsiiran minannaasi an aayaatiNaa laghaafiluun (فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آَيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آَيَاتِنَا لَغَافِلُونَ / Di hari ini Kami menyelamatkanmu dengan badanmu, agar menjadi ayat (mukjizat) bagi orang yang di belakangmu. Sungguh kebanyakan dari manusia niscaya lupa terhadap ayat-ayat (mukjizat-mukjizat) Kami).” Adalah dalil bahwa:
  • Badan Firaun sengaja dijaga keawetannya oleh Allah agar menjadi ayat (mukjizat) Muhammad SAW berbentuk ramalan (nubuwat), yang telah menjadi kenyataan.
  • Sesungguhnya ayat (mukjizat) sebagai pemberitahuan nyata bahwa Allah Maha Esa lagi Maha Kuasa, sangat banyak. Tetapi kebanyakan manusia melupakannya.

 


[1] Jumlah pasukan Musa AS saat itu menurut Ibnu Katsir, “Enamratus ribu; para wanita dan anak-anak tidak dihitung. Mereka membawa barang pinjaman berbentuk perhiasan dari kaum Qibthi (Mesir), berjumlah sangat banyak. Ibnu Katsir juga menulis: تفسير ابن كثير - (ج 4 / ص 292)

وجازت بنو إسرائيل البحر، فلما خرج آخرهم منه انتهى فرعون وجنوده إلى حافته من الناحية الأخرى، وهو في مائة ألف أدهم سوى بقية الألوان، فلما رأى ذلك هاله وأحجم وهاب وهم بالرجوع، وهيهات ولات حين مناص، نفذ القدر، واستجيبت الدعوة. وجاء جبريل، عليه السلام، على فرس -وديق حائل -فمر إلى جانب حصان فرعون فحمحم إليها وتقدم جبريل فاقتحم البحر ودخله، فاقْتحم الحصان وراءه، ولم يبق فرعون يملك من نفسه شيئا، فتجلد لأمرائه، وقال لهم: ليس بنو إسرائيل بأحق بالبحر منا، فاقتحموا كلهم عن آخرهم وميكائيل في ساقتهم، لا يترك أحدا منهم، إلا ألحقه بهم. فلما استوسقوا فيه وتكاملوا، وهم أولهم بالخروج منه، أمر اللهُ القدير البحرَ أن يرتطم عليهم، فارتطم عليهم، فلم ينج منهم أحد، وجعلت الأمواج ترفعهم وتخفضهم، وتراكمت الأمواج فوق فرعون، وغشيته سكرات الموت.

 

Artinya:

Banu Israil menyeberangi lautan. Ketika terakhir mereka telah sampai seberang; Firaun dan pasukanya yang mengejar, baru sampai pinggir lautan. Firaun dan pasukan khususnya mengendarai 100.000 kuda hitam; warna kuda pasukan dia selain itu bermacam-macam.

Firaun terkejut ketika melihat Bani Israil telah menyeberangi lautan yang membelah menjadi 12 jalan. Dengan mata terbelalak dia takut dan hampir pulang. Kemenangan yang akan diraih oleh Firaun menjauh, dan dia tidak bisa menghindari kodar. Doa Musa dikabulkan oleh Allah.

Jibril AS datang berkendaraan kuda, berlari melewati kuda jantan Firaun. Dengan kuda betina birahi yang belum dikawini, Jibril menyeberangi belahan laut yang telah menjadi jalan. Dengan bergegas dan tidak bisa dikendalikan, kuda Firaun mengejar kuda Jibril AS. Firaun berteriak pada kaumnya, “Bukan hanya Bani Israil saja yang bisa melewati jalan-jalan di lautan ini!.”

Sontak pasukan Firaun sama memacu kuda mereka menyusuri lorong-lorong berdinding ombak itu. Mikail AS berlari di belakang menggiring mereka semuanya.

Orang-orang yang di depan akan kembali lagi, tetapi Allah yang Maha Kuasa perintah agar lautan menangkap mereka. Sontak air lautan menangkap dan menghempas-hempaskan mereka semuanya. Mereka timbul-tenggelam. Ada setumpuk ombak yang loncat keatas untuk menubruk dan menyelimuti Firaun. Firaun tenggelam hingga sakarat.

 

[2] Fa (فَ) dalam lafal faatbaahum (فَأَتْبَعَهُمْ) diartikan sontak, karena takqib litartib.

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2012/05/mengejar-asa-direnggut-maut.html

 
Bedah Qurthubi PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam   
Senin, 30 April 2012 16:44

Nabi Idris AS Dibawa Terbang

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ada sebuah tafsir Al-Qur’an yang diberi nama Qurthubi, karena penulisnya berasal dari Kordoba. Membaca kitab ini; membuat ingatan kita melayang ke waktu KH Abdu Adlohir (عبد الظاهر) Muhammad Suwaih membacakan Hadits Abu Dawud di hadapan ribuan Jamaah. Saat itu beliau menjelaskan, “Nabi Idris AS pernah tersengat oleh terik matahari,” dan seterusnya. Inilah beberapa rujukan tentang Idris AS Dibawa Terbang, dari yang beliau sampaikan saat itu: تفسير القرطبي - (ج 11 / ص 118)

وكان سبب رفعه على ما قال ابن عباس وكعب وغيرهما: أنه سار ذات يوم في حاجة فأصابه وهج الشمس، فقال: (يا رب أنا مشيت يوما فكيف بمن يحملها خمسمائة عام في يوم واحد ! اللهم خفف عنه من ثقلها يعني الملك الموكل بفلك الشمس)، يقول إدريس: اللهم خفف عنه من ثقلها واحمل عنه من حرها فلما أصبح الملك وجد من خفة الشمس والظل مالا يعرف فقال: يا رب خلقتني لحمل الشمس فما الذي قضيت فيه ؟ فقال الله تعالى: " أما إن عبدي إدريس سألني أن أخفف عنك حملها وحرها فأجبته " فقال: يا رب اجمع بينى وبينه، واجعل بينى وبينه خلة فأذن الله له حتى أتى إدريس، وكان إدريس عليه السلام يسأله فقال أخبرت أنك أكرم الملائكة وأمكنهم عند ملك الموت، فاشفع لي إليه ليؤخر أجلي، فأزداد شكرا وعبادة فقال الملك: لا يؤخر الله نفسا إذا جاء أجلها فقال للملك: قد علمت ذلك ولكنه أطيب لنفسي قال نعم ثم حمله على جناحه فرفعه إلى السماء ووضعه عند مطلع الشمس، ثم قال لملك الموت: لي صديق من بني آدم تشفع بي إليك لتؤخر أجله فقال: ليس ذلك إلي ولكن إن أحببت علمه أعلمته متى يموت قال ": " نعم " ثم نظر في ديوانه، فقال: إنك تسألني عن إنسان ما أراه يموت أبدا قال " وكيف " ؟ قال: لا أجده يموت إلا عند مطلع الشمس قال: فإني أتيتك وتركته هناك، قال: انطلق فما أراك تجده إلا وقد مات فوالله ما بقى من أجل إدريس شئ فرجع الملك فوجده ميتا وقال السدي: إنه نام ذات يوم، واشتد عليه حر الشمس، فقام وهو منها في كرب فقال: اللهم خفف عن ملك الشمس حرها، وأعنه على ثقلها، فإنه يمارس نارا حامية فأصبح ملك الشمس وقد نصب له كرسي من نور عنده سبعون ألف ملك عن يمينه، ومثلها عن يساره يخدمونه، ويتولون أمره وعمله من تحت حكمه، فقال ملك الشمس: يا رب من أين لي هذا ؟ قال " دعا لك رجل من بني آدم يقال له إدريس " ثم ذكر نحو حديث كعب قال فقال له ملك الشمس: أتريد حاجة ؟ قال: نعم وددت أني لو رأيت الجنة قال: فرفعه على جناحه، ثم طار به، فبينما هو في السماء الرابعة التقى بملك الموت ينظر في السماء، ينظر يمينا وشمالا، فسلم عليه ملك الشمس، وقال: يا إدريس هذا ملك الموت فسلم عليه فقال ملك الموت: سبحان الله ! ولاي معنى رفعته هاهنا ؟ قال: رفعته لاريه الجنة. قال: فإن الله تعالى أمرني أن أقبض روح إدريس في السماء الرابعة. قلت: يا رب وأين إدريس من السماء الرابعة، فنزلت فإذا هو معك، فقبض روحه فرفعها إلى الجنة، ودفنت الملائكة جثته في السماء الرابعة، فذلك قوله تعالى: " ورفعناه مكانا عليا " قال وهب بن منبه: كان يرفع لادريس كل يوم من العبادة مثل ما يرفع لاهل الارض في زمانه، فعجب منه الملائكة واشتاق إليه ملك الموت، فاستأذن ربه في زيارته فأذن له، فأتاه في صورة آدمي، وكان إدريس عليه السلام يصوم النهار، فلما كان وقت إفطاره دعاه إلى طعامه فأبى أن يأكل. ففعل به ذلك ثلاث ليال فأنكره إدريس، وقال له: من أنت ! قال أنا ملك الموت، أستأذنت ربي أن أصحبك فأذن لى، فقال: إن لي إليك حاجة. قال: وما هي ؟ قال: أن تقبض روحي. فأوحى الله تعالى إليه أن اقبض روحه، فقبضه ورده الله إليه بعد ساعة، وقال له ملك الموت: ما الفائدة في قبض روحك ؟ قال لا ذوق كرب الموت فأكون له أشد استعدادا. ثم قال له إدريس بعد ساعة: إن لي إليك حاجة أخرى. قال: وما هي ؟ قال أن ترفعني إلى السماء فأنظر إلى الجنة والنار، فأذن الله تعالى له في رفعه إلى السموات، فرأى النار فصعق، فلما أفاق قال أرني الجنة، فأدخله الجنة، ثم قال له ملك الموت: أخرج لتعود إلى مقرك. فتعلق بشجرة وقال: لا أخرج منها. فبعث الله تعالى بينهما ملكا حكما، فقال مالك لا تخرج ؟ قال: لان الله تعالى قال: "  كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ "  [ آل عمران: 185 ] وأنا ذقته، وقال: " وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا"  [ مريم: 71 ] وقد وردتها، وقال: " وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ"  [ الحجر: 48 ] فكيف أخرج ؟ قال الله تبارك وتعالى لملك الموت: " بإذني دخل الجنة وبأمري يخرج " فهو حي هنالك فذلك قوله تعالى " وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا " قال النَّحَّاس: قول إدريس: " وما هم منها بمخرجين " يجوز أن يكون الله أعلم هذا إدريس، ثم نزل القرآن به. قال وهب ابن منبه: فإدريس تارة يرتع في الجنة، وتارة يعبد الله تعالى مع الملائكة في السماء..

 

Artinya:

(Riwayat pertama), konon penyebab Nabi Idris AS diangkat ke langit menurut Ibnu Abbas, Kaeb RA, dan lainnya: “Suatu hari Idris AS berjalan untuk sebuah keperluan. Tiba-tiba dia tersengat oleh teriknya matahari. Dia berdoa ‘ya Robbi! Saya hanya berjalan (di bawah terik matahari) sehari saja, rasanya sudah begini? Lalu bagaimana rasanya bagi malaikat yang membawa matahari selama limaratus tahun? Maksud saya untuk sehari saja?. Ya Allah! Ringankanlah beban dia! Dan hilangkanlah panasnya matahari untuk dia’.

Di pagi itu, malaikat pembawa matahari merasakan matahari tiba-tiba redup; sangat ringan. Dia berdoa ‘ya Robbi! Kau telah perintah agar saya membawa matahari. Apakah yang Kau lakukan terhadap matahari ini?’.

Allah berfirman ‘ketahuilah! Sungguh Idris AS hambaKu, telah berdoa agar Aku memperringan dalam kau membawa matahari, dan agar mengurangi panasnya, untuk kau. Aku telah mengabulkan donya’.

Malaikat pembawa matahari AS, berdoa ‘ya Robbi! Pertemukan saya dan dia! Agar saya bisa berduaan dengannya’.

Allah memberi idzin, hingga malaikat pembawa matahari AS mendatangi Idris AS.

Konon Idris AS bertanya padanya, “Saya telah mendapatkan khabar bahwa kaulah malaikat yang lebih mulia dan lebih terhormat bagi malaikat maut?’. Sampaikan padanya agar umur saya diperpanjang! Agar saya bertambah syukur dan ibadahnya’.

Malaikat menjawab ‘jika ajal kematian seorang makhluq telah tiba, Allah tak mungkin mengundurkannya’. Idris AS menjawab ‘saya telah tahu mengenai itu. Namun jika permintaan saya disampaikan padanya, akan membuat hati saya lebih lega’. Malaikat menjawab ‘ya’.

Malaikat membawa Idris AS di atas punggungnya untuk dibawa terbang. Dan Idris AS diletakkan di sisi tempat terbitnya matahari. Malaikat itu berkata pada malaikat maut ‘saya punya teman dari cucu Nabi Adam AS yang minta, agar saya mempertemukan dia padamu. Tujuannya agar kau mau mengundurkan waktu pencabutan ruhnya.

Malaikat maut menjawab ‘saya tidak berhak melakukan demikian. Jika amalan Idris AS saya senangi’, saya hanya bisa memberi tahu dia ‘kapan dia akan wafat?’.

Teman Idris AS menjawab ‘ya’.

Malaikat maut membuka diwan (kitab besar). Kitab itu menyatakan ‘kau bertanya padaku mengenai manusia yang menurutku selamanya takkan wafat’.

Teman Idris AS bertanya ‘bagaimana maksudnya?’.

Kitab itu menjawab ‘saya takkan menjumpai Idris AS wafat, kecuali di sisi terbitnya matahari’.

(Malaikat) teman Idris AS berkata ‘saya datang kemari dan telah meninggalkan Idris AS di sana’.

Malaikat maut perintah ‘pergilah kesana! Kau akan menjumpai Idris AS sudah wafat! Demi Allah ajal kematian dia telah tiba waktunya’.

Setelah (malaikat) teman Idris AS datang; Idris AS telah wafat.”

 

(Riwayat kedua dari Assuddi (السُّدِّيِّ)).[1] Beliau berkata, “Sungguh suatu hari, Idris AS tidur dalam keadaan pengap dan panas, akibat sengatan matahari. Beliau bangun dalam keadaan sangat susah. Beliau berdoa ‘ya Allah! Kurangilah panasnya matahari untuk malaikat yang membawanya! Dan tolonglah dia dalam membawa matahari! Matahari menyerupai api yang sangat panas’.

Tiba-tiba di pagi itu, malaikat pembawa matahari terkejut oleh kursi dari nur yang diletakkan di depannya. Di kanan kursi itu ada 70.000 malaikat; di kirinya juga ada 70.000 malaikat. Mereka siap melayani dan melaksanakan perintahnya. Malaikat pembawa matahari berdoa ‘ya Robbi! Kenapa tiba-tiba tugas saya menjadi ringan seperti ini?’.

Allah berfirman ‘seorang cucu Adam AS bernama Idris AS, telah berdoa untukmu’.”

Assuddi melanjutkan kisah ini mirip seperti kisahnya Kaeb di atas. Hanya menurut Assuddi, “Malaikat penjaga matahari bertanya pada Idris AS ‘bukankah kau punya keinginan?’.

Idris AS menjawab ‘betul! Saya ingin melihat surga’.

Malaikat pembawa matahari membawa Idris AS di atas punggunya, untuk dibawa tebang. Di langit keempat dia menyaksikan malaikat maut, sedang mencari-cari sesuatu, sambil memandang kekanan dan kekiri. Malaikat yang membawa Idris AS mengucapkan salam padanya, lalu berkata pada Idris AS ‘ya Idris! Inilah malaikat maut! Ucapkan salam padanya!’.

Malaikat maut bertasbih ‘subhanallah! Untuk apa kau membawa manusia kesini?’. Malaikat yang membawa Idris AS menjawab ‘dia akan saya tunjukkan surga’.

Malaikat maut berkata ‘tadi Allah perintah agar saya mencabut ruh Idris AS’ di langit keempat. Saya berdoa ‘ya Robb! Idris di langit keempat bagian mana?’. Sontak saya turun untuk mencarinya; ternyata dia telah naik kesini bersama kau’.

Malaikat maut mencabut ruh Idris AS, untuk dibawa kesurga. Para malaikat mengubur jasad Idris AS, di langit keempat.

Itulah yang dimaksud oleh Firman Taala ‘warafa’naahu makaanan ‘aliyyaa (Dan Kami telah mengangkat dia (Idris AS) pada tempat yang sangat tinggi)’.

 

Riwayat ketiga dari Wahb bin Munabbih (وَهْب بْن مُنَبِّهٍ).[2] Beliau berkata, “Konon Idris AS pernah diberitahu bahwa ‘amal ibadahnya sama dengan amalan penduduk bumi pada zamannya’. Sontak para malaikat sama takjub; malaikat maut ingin sekali bertemu pada Idris AS.

Malaikat maut berdoa agar Tuhannya memberi idzin dia menjumpai Idris AS. Setelah diberi idzin, dia menjelma manusia, dan datang pada Idris AS yang berpuasa setiap hari.

Ketika waktu berbuka telah tiba, malaikat maut diajak menemani berbuka oleh Idris AS; namun menolak. Hingga tiga hari malaikat maut tidak makan. Dan selalu menolak jika diajak menemani berbuka puasa.

Idris AS ingkar pada perbuatan dia, dan bertanya ‘sebetulnya kau ini siapa?’. Idris AS (terkejut ketika) dijawab ‘saya malaikat maut. Saya telah memohon idzin pada Tuhanku untuk melakukan kunjungan persahabataan pada kau. Dan telah dikabulkan’.

Idris AS segera berkata ‘saya memiliki keinginan pada kau’.

Malaikat menjawab ‘apa keinginamu?’.

Idris AS menjawab ‘cabutlah ruhku!’.

Allah Taala segera perintah ‘cabutlah ruhnya!’. Sontak malaikat maut mencabut ruhnya. Sesaat kemudian, Allah mengembalikan lagi ruh Idris AS.

Malaikat maut bertanya ‘apa faidahnya saya mencabut ruhmu?’. Idris AS menjawab ‘agar saya merasakan kematian. Agar nantinya saya lebih serius di dalam menghadapi kematian’. Idris AS berkata ‘saya punya keinginan lain padamu’.

Malaikat maut bertanya ‘apa itu?’.

Idris AS berkata ‘angkatlah saya kelangit! Untuk melihat surga dan neraka’. Allah memberi idzin dia agar dinaikkan ke beberapa langit. Idris AS pingsan ketika melihat neraka. Ketika telah sadar, berkata ‘tunjukkan saya pada surga!’.

Malaikat maut memasukkan Idris AS kedalam surga. Sejenak kemudian, dia berkata ‘keluarlah untuk pulang kerumahmu!’. Namun Idris AS berpegangan erat pada pohon sambil berkata ‘saya takkan keluar dari surga!’. (Idris dan malaikat maut AS berdebat).

Allah Taala mengutus seorang malaikat agar mengadili mereka berdua. Malaikat itu berkata pada Idris AS ‘kenapa kau tak mau keluar?’. Idris AS menjawab ‘karena Allah’ telah berfirman ‘kullu nafsin dzaaiqatul-maut (semua jiwa pasti merasakan mati)’, dan saya telah merasakannya’. Allah juga berfirman ‘wain minkum illaa waariduhaa (tak seorangpun dari kalian kecuali pasti datang pada neraka)’, padahal ‘sungguh saya telah mendatanginya’. Allah Taala juga berfirman ‘wamaahum minhaa bimukhrojiiin (dan mereka takkan dikeluarkan dari surga)’, bagaimana mungkin ‘saya justru akan disuruh keluar?’.

Allah Tabaraka wa Taala berfirman pada malaikat maut ‘dia masuk surga karena IdzinKu, dan hanya dengan PerintahKu dia akan keluar’.

Idris AS hidup di dalam surga. Itulah pengertian FirmanNya Taala ‘warafa’naahu makaanan ‘aliyyaa (dan Kami telah mengangkat dia pada tempat yang sangat tinggi)’.”

Annachas (النَّحَّاس) berkata, “Idris AS mendalil ‘wamaahum minhaa bimukhrojiiin (dan mereka takkan dikeluarkan dari surga)’, bisa jadi Allah Taala yang memberitahukan dalil itu pada idris AS. Lalu menurunkan lagi dalil tersebut dalam Al-Qur’an, juga begitu.”[3]

Wahb bin Munabbih (وَهْب بْن مُنَبِّهٍ) berkata, “Di langit (surga), terkadang Idris AS memetik buah-buahan. Terkadang menyembah Allah bersama para malaikat.”

 


[1] Assuddi (السُّدِّيِّ) murid Abdillah Al-Bahi murid Aisyah RA.

[2] Wahb bin Munabbih (وَهْب بْن مُنَبِّهٍ) murid Ibnu Abbas RA.

[3] Annachas (النَّحَّاس), alim sohor yang sering disebut Abu Jafar Annachas (أَبُو جَعْفَر النَّحَّاس). Ibnu Chajar menulis tentang ajaran beliau: فتح الباري لابن حجر - (ج 10 / ص 234)

قَدْ قَالَ أَبُو جَعْفَر النَّحَّاس : إِنَّ هَذَا لَا يُعْرَف فِي اللُّغَة ، وَإِنَّمَا الْكَهْل عِنْدهمْ مَنْ نَاهَزَ الْأَرْبَعِينَ أَوْ قَارَبَهَا ، وَقِيلَ : مَنْ جَاوَزَ الثَّلَاثِينَ وَقِيلَ اِبْن ثَلَاث وَثَلَاثِينَ اِنْتَهَى . وَالَّذِي يَظْهَر أَنَّ مُجَاهِدًا فَسَّرَهُ بِلَازِمِهِ الْغَالِب ، لِأَنَّ الْكَهْل غَالِبًا يَكُون فِيهِ وَقَار وَسَكِينَة.

Artinya:

Sungguh Abu Jafar Annachas (أَبُو جَعْفَر النَّحَّاس) telah berkata, “Sungguh ini tidak diketahui di dalam lughah (bahasa). Sungguh ‘Al-Kahl (الْكَهْل)’ menurut mereka ‘orang yang memasuki usia 40 tahun atau mendekatinya. Ada yang menyatakan ‘orang yang telah melewati usia 30 tahun’. Ada yang menyatakan ‘orang yang berumur 33 tahun. Sedangkan pengertian yang masyhur, sungguh Mujahid telah menafsirkan kalimat ayat itu ‘Al-Kahl (الْكَهْل)’ dengan pengertian yang yang umum, secara umum Al-Kahl adalah yang memiliki sifat berwibawa dan tenang.”

 

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2012/04/bedah-qurthubi.html

 
BI 5: Bedah Ibnu Katsir PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam   
Rabu, 25 April 2012 12:24

Keindahan Bahasa Al-Qur’an

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Al-Qur’an diturunkan pada waktu ilmu kesusastraan bangsa Arab matang atau sempurna. Bangsa Arab senang dengan kalimat indah berbentuk syair pendek maupun panjang. Di antara para penyair kondang saat itu bernama Umayah bin Abisshalt, Labid, dan lainnya.[1]

Bangsa Arab sangat terkejut pada Al-Qur’an yang dibaca oleh nabi SAW pada mereka, karena ternyata jauh lebih indah dan lebih berbobot daripada syair yang mereka susun. Ayah Khalid bin Al-Walid, bernama Walid bin Al-Mughirah (الوليد بن المغيرة), juga tergolong tokoh Arab yang sangat pandai mengeni syair.

Ibnu Katsir menukil Hadits Ibnu Jarir tentang keindahan Al-Qur’an menurut pernyataan Al-Walid musuh Allah dan musuh Islam: تفسير ابن كثير - (ج 8 / ص 267)

قال ابن جرير: حدثنا ابن عبد الأعلى، أخبرنا محمد بن ثور، عن مَعْمَر، عن عَبَّاد بن منصور، عن عكرمة: أن الوليد بن المغيرة جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقرأ عليه القرآن، فكأنه رق له. فبلغ ذلك أبا جهل بن هشام، فأتاه فقال: أي عم، إن قومك يريدون أن يجمعوا لك مالا. قال: لم؟ قال: يعطونكه، فإنك أتيت محمدًا تَتَعَرض لما قبله. قال: قد علمت قريش أني أكثرها مالا. قال: فقل فيه قولا يعلم قومك أنك منكر لما قال، وأنك كاره له. قال: فماذا أقول فيه؟ فوالله ما منكم رجل أعلم بالأشعار مني، ولا أعلم برجزه ولا بقصيده ولا بأشعار الجن، والله ما يشبه الذي يقوله شيئًا من ذلك. والله إن لقوله الذي يقول لحلاوة، وإنه ليحطم ما تحته، وإنه ليعلو وما يعلى. وقال: والله لا يرضى قومك حتى تقول فيه. قال: فدعني حتى أفكر فيه. فلما فكر قال: إن هذا سحر يأثره عن غيره. فنزلت: { ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا } [قال قتادة: خرج من بطن أمه وحيدا] حتى بلغ: { تِسْعَةَ عَشَرَ }

وقد ذكر محمد بن إسحاق وغير واحد نحوا من هذا. وقد زعم السدي أنهم لما اجتمعوا في دار الندوة ليجمعوا رأيهم على قول يقولونه فيه، قبل أن يقدم عليهم وفودُ العرب للحج ليصدّوهُم عنه، فقال قائلون: شاعر. وقال آخرون: ساحر. وقال آخرون: كاهن. وقال آخرون: مجنون. كما قال تعالى: { انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الأمْثَالَ فَضَلُّوا فَلا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلا } [ الإسراء: 48] كل هذا والوليد يفكر فيما يقوله فيه، ففكر وقدر، ونظر وعبس وبسر، فقال: { إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ يُؤْثَرُ إِنْ هَذَا إِلا قَوْلُ الْبَشَرِ قال الله عز وجل: { سَأُصْلِيهِ سَقَرَ } أي: سأغمره فيها من جميع جهاته }.

Arti (selain isnad)nya:

Ikrimah berkata, “Sesungguhnya Al-Walid bin Al-Mughirah telah datang pada nabi SAW, untuk mendengarkan pembacaan Al-Qur’an. Saat itu, sungguh Al-Walid mirip seperti sangat sopan padanya SAW.

Setelah berita tersebut sampai pada Abu Jahl bin Hisyam, Abu Jahl segera mendatangi untuk berkata pada Al-Walid: ‘Hai paman! Sungguh kaummu akan mengumpulkan harta untukmu’.

Al-Walid menjawab ‘untuk apa?’.

Abu Jahl berkata ‘untuk diberikan padamu. Agar kau pergunakan mempengaruhi Muhammad’.

Al-Walid menjawab ‘sungguh kaum Quraisy telah tahu bahwa; sayalah yang paling banyak harta mereka’.

Abu Jahl berkata ‘kalau begitu! Ucapkanlah kalimat! Agar kaummu tahu bahwa kau benci yang diucapkan oleh Muhammad! Dan benci pada Muhammad!’.

Al-Walid bertanya ‘saya disuruh berkata bagaimana? Mengenai dia? Demi Allah tak seorangpun lelaki dari kalian, kecuali pasti telah tahu bahwa tidak ada yang lebih tahu mengenai syair-syair daripada saya! baik mengenai syair rajaz, qasidah, maupun syair-syair jin! Demi Allah yang dia ucapkan tidak menyerupai itu semuanya! Demi Allah untaian perkataannya niscaya manis sekali! Demi Allah yang dia baca akan menghancurkan keyakinan yang nilainya di bawahnya! Sungguh yang dia baca menjulang tinggi, takkan tertandingi!’.

Abu Jahl berkata ‘demi Allah! Kaummu takkan ridho sebelum kau mengatakan jelek tentang dia!’.

Al-Walid berkata ‘tinggalkan saya! Akan saya pikirkan susunan kalimat tentang itu untuk dia’. Setelah berpikir serius, dia berkata ‘yang diucapkan oleh dia adalah sihir pilihan yang mengalahkan lainnya’.

Maka turun firman, “Biarkan Aku dan orang yang telah Kucipta dengan sendirian!.”

Qatadah menjelaskan, “Maksudnya ‘dia keluar dari perut ibunya sendirian’.”

Muhammad bin Ischaq dan ulama berjumlah lebih dari seorang, juga telah menjelaskan sepadan ini. Bahasan ini sampai kalimat ayat: تِسْعَةَ عَشَرَ.

Sungguh Assuddi (السُّدِّيّ) telah meyakini bahwa ketika mereka berkumpul di Darunnadwah (دار الندوة), untuk bermufakat mengenai tuduhan yang akan dilontarkan atas nabi SAW; sebelum tamu-tamu utusan datang pada mereka untuk berhaji. Tuduhan kejam itu akan disampaikan pada mereka, sebagai upaya agar mereka tidak menjadi pengikutnya SAW.

Mereka berkata, “Dia penyair.”

Selain mereka sama berkata, “Dia penyihir.”

Ada lagi yang sama berkata, “Dia paranormal.”

Ada lagi yang sama berkata, “Dia orang gila.”

Kenyataan ini mirip seperti yang difirmankan oleh Allah, “Perhatikan! Bagaimana mereka membuat gambaran? Maka mereka tak mampu (berjalan) pada jalan.”

Semua tuduhan ini telah direncanakan oleh Al-Walid. Tentang hal ini Allah berfirman, “Maka dia berpikir dan mempertimbangkan. Berpikir cermat, bermuka masam dan cemberut. Lalu berkata ‘ini tiada lain kecuali sihir yang diunggulkan! Ini tiada lain kecuali ucapan manusia’.”

Allah azza wajalla berfirman, “Dia akan Kumasukkan ke dalam neraka Saqar.”

Maksudnya: Dia akan Kumasukkan di dalamnya dari seluruh bagiannya.

 

Kesimpulan: Al-Walid dan orang pandai lainnya banyak yang bersaksi bahwa keindahan Al-Qur’an, sangat sempurna. Bahkan isinya sangat berbobot, karena Ilmu Allah.

Ada yang bertanya, “Sayangnya dalam bahasa Arab, terlalu banyak mempergunakan huruf ‘wa (وَ)’ yang artinya ‘dan?’.”

Ada yang menjawab, “Jangan disamakan bahasa Arab dengan bahasa Indonesia atau bahasa lainnya! ‘Wa (وَ)’ dalam bahasa Arab, artinya bermacam-macam: dan, namun, bersama, tanda titik, tanda koma, tanda persepadanan, ketika dia dalam keadaan, padahal, sementara, demi.”

 


[1] Menurut Ibnu Chajar di dalam Fatchul-Bari (فتح الباري لابن حجر - (ج 11 / ص 158)): “Labid adalah penyair terkenal yang syairnya pernah dibantah oleh Utsman bin Madzun (عُثْمَان بْن مَظْعُون), yang saat itu sudah beriman.”

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2012/04/bi-5-bedah-ibnu-katsir.html

 
Malu karena Ketahuan PDF Cetak E-mail
Artikel Lainnya - Artikel Umum
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam   
Kamis, 19 April 2012 14:13

 

Dalam kehidupan sehari-hari nabi SAW juga pernah melakukan perbuatan yang membuat malu. Di antaranya ketika nabi SAW menyalahkan Qatadah bin Numan yang sebetulnya benar dalam laporannya; dan membela keluarga Ubairiq yang sebetulnya justru pengkhianat jahat. Saat itu nabi SAW sangat malu, karena Allah menegur dan menyuruh istighfar padanya SAW atas kesalahannya, melaui beberapa ayat yang turun beruntun:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا [النساء.

Artinya:

Sungguh Kami telah menurunkan kitab dengan hak atasmu, agar kau menerapkan hukum dengan dasar pandangan yang telah Allah berikan padamu. Namun jangan membela orang-orang khianat! Istighfarlah pada Allah! Sungguh Allah telah Maha pengampun Maha penyayang. Dan jangan membela untuk orang-orang yang mengkhianati diri mereka! Sungguh Allah tidak senang orang pengkhianat yang banyak dosa.

Baginda SAW juga pernah sangat malu hingga mengilak pada semua istrinya selama sebulan.[1] Hingga para sahabat banyak yang menangis di dalam Masjid Nabawi. Hingga Umar RA marah-marah pada putrinya bernama Chafshah, karena Umar RA membela nabi SAW. Yang pasti tentang peristiwa itu, Nasai meriwayatkan dalam Haditsnya, “Saat itu Masjid Nabawi ‘malaanun minannas (مَلْآنٌ مِنْ النَّاسِ)’, (artinya ‘penuh manusia hingga berjejal-jejal)’.”

Karena mereka mengecek kebeneran berita mengenai kepastian nabi  SAW mentalak istri-istrinya? Apa tidak?. Penyebab lainnya karena mereka takut jika Allah murka karena kemurkaan RasulNya SAW pada istri-istrinya yang keluarga atau anak perempuan mereka.

Abu Bakr juga pernah malu karena marah-marah pada Misthach yang telah melakukan kesalahan besar, yaitu terpengaruh Abdullan bin Ubai yang memfitnah Aisyah RA. Abu Bakr bersumpah, “Demi Allah! Saya takkan memberi nafkah lagi pada Misthach untuk selamanya.”

Beliau terkejut dan malu, ketika Allah menegur beliau:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ  [النور/22]

Artinya:

“Orang-orang yang memiliki keutamaan dan keluasan dari kalian, jangan mengilak! (Dengan cara) tidak memberi para pemilik kerabat! Dan orang-orang miskin! Dan para Muhajiriin! Hendaklah memaafkan dan berbuat baik! Bukankah kalian senang jika Allah mengampuni pada kalian? Allah Maha pengampun Maha penyayang.”

Umar juga pernah malu karena telah lepas kontrol ketika berbicara pada orang banyak. Ini terjadi pada saat umat Islam surprise karena mendapatkan kemenangan akbar. Saat itu, kaum Muslimiin berjumlah banyak sekali mengalir menuju Madinah, untuk mendengar langsung bembacaan surat Khalid dari Syam, yang menjelaskan tentang Kemenangan Akbar tersebut. Pembacaan surat didengar Jamaah sangat banyak: dari Makkah, Chijaz, dan Yaman.

Mereka ingin lebih yakin bahwa Allah benar-benar memberi kemenangan akbar pada kaum Muslimiin. Dan memberi rampasan perang dalam jumlah banyak sekali.

Hari-hari selanjutnya kaum Muslimiin ingin bergabung berjihad, dan ingin datang menuju Syam. Rasanya ingin sekali mendapat kemenangan dan pahala seperti mereka.

Penduduk Makkah yang berdatangan ke Madinah semakin banyak, bagaikan sungai. Bahkan tokoh-tokoh mereka tak ketinggalan. Mereka berkendaraan kuda membawa panah dan peralatan perang lainnya. Di rombongan paling depan ada tokoh besar bernama Abu Sufyan, dan Ghidaq bin Wa’il.

Sesampai di Madinah, mereka menemui Abu Bakr RA, agar diberi idzin bergabung ke kota Syam. Namun Umar RA tidak memberi idzin pada mereka. Dia berkata pada Abu Bakr, “Orang-orang yang belum bisa mengatasi dendam-kesumat, jangan baginda beri idzin! Segala puji bagi Allah yang Kalimat-Nya sangat tinggi! Sedangkan kalimat yang dianut oleh kaum Musyrikiin sangat rendah. Mereka ingin memadamkan Nur Allah dengan mulut mereka; namun Allah bertekat menyempurnakan Nur-Nya. Oleh karena itu kita meyakini tiada penakluk selain Allah! Ketika Allah telah menjayakan agama kita dan memperkuat syari’at kita; mereka masuk Islam karena takut pedang! Setelah mereka mendengar berita Pasukan Allah menaklukkan kaum Romawi yang mereka anggap dahsyat, mereka datang pada kita untuk minta diperintah memerangi musuh, agar mendapatkan bagian yang sama dengan para pendahulu mereka! Yang benar kita tidak boleh menempatkan mereka ini di dekat mereka itu.”

Abu Bakr menjawab, “Saya takkan menyelisihi maupun menentang kemauanmu.”

Dalam waktu cepat ucapan Umar RA sampai ke telinga penduduk Makkah. Mereka merasa tersinggung sehingga harus datang ke Madinah bebodong-bondong banyak sekali. Tujuan mereka akan menemui Abu Bakr RA yang sedang di dalam Masjid, dikerumuni Jamaah Muslimiin. Di dalam Masjid yang dipenuhi Muslimiin itu suaranya sangat riuh. Pembicaraan mereka berkisar mengenai kemenangan akbar yang dianugrahkan atas Muslimiin. Umar mendampingi di sebelah kiri Abu Bakr; Ali di sebelah kanan Abu Bakr RA.

 

Rombongan tamu dari kaum Quraisy berjumlah banyak sekali itu mendekati Abu Bakr. Setelah salam mereka dijawab, mereka duduk di hadapan Abu Bakr RA. Mereka berembuk sejenak mengenai siapa yang akan mewakili mereka berbicara. Ternyata Abu Sufyan yang mengawali mereka berbicara.

Pembicaraan dialamatkan pada Umar, “Hai Umar! Di zaman Jahiliyyah dulu kau kami benci! Setelah Allah memberi kami hidayah! Kami memberantas kebencian kami padamu! Karena Iman memberantas syirik! Namun kenapa kau kini membuat kami marah!? Sebetulnya apa yang mendorong kau memusuhi dan menyingkirkan kami ini hai putra Khotthob?! Apa kau belum mencuci dendam dalam hatimu?! Kami semua menyadari bahwa kau lebih utama dan lebih duluan beriman dan berjihad! Kami juga tahu kedudukanmu yang sangat tinggi!.”

Umar RA diam tidak menjawab karena malu dimarahi oleh Abu Sufyan di hadapan orang banyak sekali.   

Tekat kaum Muslimiin yang melaut itu telah bulat; ingin bergabung berjuang ke negri Syam. Suara Abu Sufyan menarik perhatian Majlis: “Sungguh saya mempersaksikan pada kalian bahwa saya bertekat berjihad di Jalan Allah!.”

Tak lama kemudian sejumlah tokoh Makkah juga menyatakan, “Saya juga begitu!” Menggemuruh.

Suara Abu Bakr RA sangat berwibawa namun sejuk: “Ya Allah! Sampaikanlah mereka pada lebih utamanya yang mereka inginkan. Dan berilah pahala yang mereka amalkan dengan baik. Berilah mereka ini kemampuan menaklukkan lawan. Jangan kau beri kesempatan pada musuh untuk menaklukkan mereka. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” 

Banyak hadirin yang matanya berkaca-kaca karena doa yang diucapkan oleh Abu Bakr terasa sejuk bagai air sorgawi, bagi mereka.

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2011/05/kw-34-ingin-bergabung-berjuang.html

 


[1] Mengilak adalah merenggangkan cinta-kasih. Sumpah ilak artinya sumpah untuk merenggankan cinta-kasih.

 

 
Seni Menegur PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Qur'an
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam   
Rabu, 18 April 2012 00:51

Bedah Ayat Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, terdapat banyak contoh cara menegur orang salah atau mendidik orang, dengan cara indah. Di antaranya teguran Allah yang dilontarkan pada pertengahan bulan Syawal tahun tiga Hijriyah, yaitu setelah Perang Uhud yang bersejarah. Teguran indah ini di alamatkan secara khusus pada Jabir bin Abdillah dan keluargnya yang terdiri dari dua golongan, yang keberanian mereka kurang:

إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [آل عمران/122، 123].

Artinya:

Ketika itu dua golongan dari kalian telah sengaja mengecut, padahal Allah kekasih dua golongan tersebut.[1] Dan hendaklah orang-orang iman bertawakkal pada Allah! Padahal niscaya sungguh Allah telah menolong kalian di dalam Perang Badar ketika kalian dalam keadaan hina![2] Maka takutlah Allah! Agar kalian bersyukur!.”

Kiranya tidak ada teguran yang lebih indah daripada teguran melalui dua ayat di atas. Bagi Jabir bin Abdillah dan keluarganya teguran tersebut pasti terukir di dinding hati mereka dan takkan dilupakan sepanjang hidup mereka. Bahkan teguran tersebut menjadi hiburan yang selalu diingat-ingat setiap saat.

Bukhari meriwayatkan pernyataan Jabir berkenaan ayat tersebut: صحيح البخاري - (ج 12 / ص 446)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ ابْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِينَا { إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا } بَنِي سَلِمَةَ وَبَنِي حَارِثَةَ وَمَا أُحِبُّ أَنَّهَا لَمْ تَنْزِلْ وَاللَّهُ يَقُولُ { وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا }.

Arti (selain isnad)nya:

Dari Jabir RA: “Ayat ini (إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا/Ketika itu dua golongan dari kalian telah sengaja mengecut (dan seterusnya)), turun mengenai kami keluarga Bani Salimah dan Bani Charitsah. Namun saya justru tidak senang jika ayat tersebut tidak diturunkan. Keadaan Allah (saat itu) berfirman padahal Allah kekasih dua golongan tersebut (وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا)’.”

 

Kesimpulan:

  1. Pastikan orang yang ditegur atau dididik tahu bahwa kita berniat baik dan cinta atau perhatian padanya.
  2. Hargailah atu berilah penghargaan pada orang yang ditegur atau dididik tersebut. Pernyataan, “Saya senang berteman dengan kau. Saya merasa beruntung bisa bersalaman dengan kau,” termasuk penghargaan.
  3. Sampaikan pesan dengan bahasa yang indah dan singkat. Kecuali jika dia ingin penjelasan yang lebih panjang.
  4. Pesan indah terkadang tidak diterima karena waktu dan keadaan saat penyampaian, kurang tepat.
  5. Menyampaikan ajaran atau anjuran dengan tutur kata yang indah termasuk ajaran dari Allah, Rasulillah SAW, dan para sahabat nabi SAW.

 


[1] Wa (وَ) dalam lafal wallohu (وَاللَّهُ) diartikan padahal karena haliyah.

[2] Wa (وَ) dalam huruf walaqad (وَلَقَدْ) diartikan padahal karena haliyah. Wa (وَ) dalam lafal waantum (وَأَنْتُمْ) diartikan ketika kalian dalam keadaan, karena untuk menjelaskan keadaan saat itu (haliyah).

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2012/04/seni-menegur.html

 
« MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir »

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Latest News

Popular


Diperkuat dengan Joomla!. Designed by: joomla themes movie stars Valid XHTML and CSS.