|
Kisah Islam -
Kholid Bin Walid
|
|
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam
|
|
Minggu, 08 Januari 2012 03:45 |
|
(Bagian ke-174 dari seri tulisan Khalid bin Walid)
Umar menahan Zaid yang hampir berangkat: “Sebentar! Umar akan memberimu bekal ala kadar.” Umar mendekamkan untanya untuk mengeluarkan dan memberikan kurma satu shak (صاع), dan tepung satu shak (صاع)pada Zaid . Lalu berkata, “Maaf, yang saya miliki hanya ini.”
Zaid bertambah terkejut dan terharu hingga menangis karena Umar mencium rambutnya. Dia berkata, “Ya Amiral mu’miniin, saya hanya rakyat jelata yang tak pantas mendapat ciuman dari baginda yang Amirul mu’miniin bahkan sahabat tuan besar para rasul. Bagindalah orang yang ke empatpuluh dalam urutannya masuk Islam.”
Kaum Muslimiin terperangah menyaksikan Umar menangis dan berkata pada Zaid, “Saya berharap Allah mengampuni dosa Umar karena menolongmu berjihad.”
Zaid segera mengendarai kendaraannya; Umar mendoakan, “Ya Allah bawalah dia dengan perantaraan kendaraan itu dalam keadaan selamat. Dan lipatlah yang jauh agar menjadi dekat. Dan permudahkanlah dia dalam menempuh perjalanan. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Zaid bertambah senang karena didoakan oleh Umar yang doanya mustajabah karena sangat taat pada Tuhannya dan mengikuti sunnah NabiNya.
Subhanallah, kendaraan Zaid melesat cepat. Dalam waktu hanya tiga hari Zaid sudah sampai ke hadapan Abu Ubaidah yang telah meninggalkan negri Anthakiyah menuju Chazim (حازم). Zaid terkejut ketika mendekati pasukan Muslimiin yang derap kaki kuda mereka membahana.
Zaid menjumpai lelaki dari Yaman untuk bertanya, “Ada apa?.” Dia menjawab, “Allah telah memberi lagi kemenangan pada pasukan Muslimiin. Khalid dan pasukan Zachfi (pengobrak-abrik)nya baru datang membawa kemenangan atas penduduk pinggir sungai Al-Furat (الفرات /Efrat).”
Tanggal 15 Mucharram tahun 18 Hijriyah adalah hari indah yang bersejarah bagia kaum Muslimiin: penduduk Manbij (مَنْبِجَ), Buzaah (بُزاعَةَ) dan Balis (بَالِسَ) telah menyerah dan mengajukan permohonan damai, bahkan menyerahkan kota-kota mereka. Bahkan istana Najem (نجمٌ) juga telah direbut kaum Muslimiin.
|