Pilih Artikel
Sponsor
Statistik
| Kunjungan hari ini: | 14 |
| Kunjungan kemarin: | 43 |
| Kunjungan bulan ini: | 1011 |
| Kunjungan bulan lalu: | 1574 |
| Kunjungan tahun ini: | 8169 |
| Kunjungan total | 11886 |
Artikel Terakhir
| KW 186: Petolongan Datang tak Terduga |
|
|
|
| Kisah Islam - Kholid Bin Walid |
| Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam |
| Selasa, 07 Februari 2012 22:18 |
|
(Bagian ke-186 dari seri tulisan Khalid bin Walid) Ketika Hiraqla perintah agar putranya yang bernama Filasthin pergi ke Qaisariyah (Caesarea), Hiraqla juga perintah agar seorang bathriq agung bernama Qidamun (قيدمون) mendampingi Filasthin. Qidamun termasuk tokoh Romawi yang firasatnya selalu tepat. Ada yang bilang, “Dia paman Filasthin dari jalur ibu, veteran Perang Persia, Turki dan Jaramiqah, yang menguasai berbagai bahasa.” Qidamun yang tingggi besar itu muncul dengan busana dan perhiasan yang gemerlapan, untuk menantang berperang. Beberapa pasukan Muslimiin bergerak untuk mengabulkan tantangannya sambil membaca: “Laa Ilaaha illaa Allah,” bersaut-sautan. Beberapa pasukan yang akan mengepung Qidamun mendengar Amer berteriak, “Pahala dari Allah jauh lebih baik daripada busana dan perhiasan yang dia kenakan. Yang akan memerangi dia jangan hanya karena ingin rampasannya! Saya pernah mendengar Rasulallah SAW bersabda ‘Barang siapa hijrahnya menuju Allah dan RasulNya maka akan sampai pada Allah dan RasulNya. Barang siapa hijrahnya karena dunia maka akan mendapatkan dunia. Kalau bertujuan mendapatkan wanita, maka akan menikahinya. Orang akan sampai pada yang dituju’.” Seorang pemuda dari Yaman maju untuk melayani tantangan Qidamun. Dialah lelaki yang datang ke Syam bersama ibu dan sudara perempuannya. Sudara perempuannya pernah berkata, “Hai putra ibu! Ayo perjalanan ini kita percepat agar kita segera menikmati rizqi yang berada di Syam!.” Dia menjawab, “Saya datang kemari untuk mencari keridhoan Allah azza wajalla. Saya pernah mendengar Muadz bin Jabal berkata ‘sesungguhnya orang-orang yang mati sebagai syuhada, mendapat rizqi di sisi Tuhan mereka’.” Saudara perempuannya membantah, “Bagaimana mungkin orang-orang mati mendapat rizqi?.” Dia menjawab, “Muadz berkata ‘sesungguhnya Allah Taala memasukkan ruh para syuhada di dalam tubuh burung-burung surga, menikmati buah-buahan dan air surga. Itulah rizqi dari Allah untuk mereka’.”
Lelaki itu berpamitan pada ibu dan saudara perempuannya: “Saya akan menghadap Allah dengan jalan berperang membela AgamaNya. Saya akan menunggu kalian berdua di telaga Rasulillah SAW.” Ibu dan saudara perempuannya menangis dan air mata mereka membasahi pipi; lelaki itu bergerak melangkahkan kaki untuk pergi ke medan perang. Ibu dan sudaranya ditinggalkan dalam keadaan menangis dan berdoa. Air mata ibu dan saudaranya yang tumpah semakin banyak, ketika pemuda itu telah memacu kuda dengan memegang tombaknya.
Pemuda itu menyerang dengan tombaknya ke arah dada Bathriq Qidamun. Dia kesulitan melepaskan tombaknya yang menancap, dan terkejut oleh tebasan pedang Qidamun yang mematahkan tombaknya lalu bergerak cepat sekali membelah kepalanya. Atas Rahmat Allah pemuda itu gugur dengan kepala terbelah. Qidamun menginjak mayat dan menantang berkelahi pada pasukan Muslimiin. Ibnu Qutsam datang untuk melawan tetapi pedang Qidamun menebas hingga dia tewas sebagai syahid yang kedua. Qidamun membusungkan dada, semakin sombong.
Syurachbil memaki dirinya sendiri: “Kenapa kau membiarkan penjahat itu membunuh dua orang Muslimiin?.” Lalu keluar dari barisan untuk menyerang dengan membawa panji pemberian Abu Bakr Asshiddiq RA. Amer menegur, “Hai hamba Allah! tancapkan panjimu di tanah agar tidak mengganggumu dalam berperang!.” Syurachbil menancapkan panjinya yang panjang ke celah-celah bebatuan. Dia yakin bahwa dirinya akan mampu manaklukkan lawan karena pertolongan Tuhan. Ketika kuda Syurachbil membawa lari mendekati Qidamun yang di atas kudanya; pasukan Muslimiin berdoa agar Syurachbil menang. Qidamun laknat yang berperawakan tinggi besar mentertawakan Syurachbil yang lebih kecil dan kerempeng karena rajin berpuasa dan shalat malam. Pedang dan perisai mereka berdua bergerak-gerak dengan berdenting karena berkali-kali berbenturan. Pedang Syurachbil tak mampu melukai kulit yang dilindungi baju perang dan tak mampu membelah helm perang Qidamun. Bahkan dia terkejut oleh sambaran pedang Qidamun yang menggores kulit meskipun telah menghindar. Di atas kuda mereka berdua berkelahi semakin seru; hujan deras mengguyur bumi. Tempat berperang makin becek hingga mereka berdua turun dari kuda dan bergulat di lumpur. Syurachbil dipukul perutnya dan dibanting lalu dadanya diduduki oleh Qidamun. Tangan Qidamun telah bergerak mengambil belati untuk menyembelih Syurachbil. Syurachbil berdebar dan berdoa, “Ya Penolong orang-orang yang memohon pertolongan!.” Sebelum doa yang dia baca selesai, muncul lelaki berkuda dari pasukan Romawi. Qidamun terkejut, menyangka lelaki berkuda itu akan menyerahkan kuda dan akan menolongnya. Qidamun bergerak, tak sadar bahwa Syurachbil di bawahnya tahu-tahu lolos dan bangkit, menghunus dan mengayunkan pedang sekuat tenaga hingga leher Qidamun putus dan darahnya tumpah. Syurachbil perintah padal lelaki yang barusan datang: “Ya abdallah! Rampaslah yang dia miliki!.” Syurachbil bertanya, “Demi Allah menurutku tak ada yang lebih menakjubkan dari pada ini. Kenapa kau muncul dari pasukan Romawi?.” Syurachbil terperangah oleh jawabannya, “Saya orang keparat yang dibenci oleh Muslimiin. Nama saya Thalchah bin Khuwailid (طلحة بن خويلد) yang pernah mengaku sebagai nabi setelah Rasulallah SAW, yang pernah berdusta dengan mengatas namakan Allah. Yang pernah mengaku mendapatkan wahuyu dari langit.” Syurachbil berkata, “Saudara! Sungguh Rahmat Allah dekat pada orang-orang yang berbuat ihsan. Sungguh RahmatNya memuat segala sesuatu, barang siapa bertobat pasti Allah menerima tobatnya dan mengampuninya. Nabi juga bersabda ‘tobat melebur dosa sebelumnya’. Tak tahukah kau bahwa ketika Allah menurunkan Firman ‘وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ’ yang artinya: dan RahmatKu telah memuat segala sesuatu.[1] Segala sesuatu hingga Iblis pun berharap mendapatkan rahmat itu. Ketika Allah menurunkan Firman ‘فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ’, yang artinya: Maka rahmat itu akan Aku pastikan untuk orang-orang yang bertaqwa dan menunaikan zakat.[2] Kaum Yahudi berkata ‘kami memberikan zakat dan bersodaqah’. Ketika Allah menurunkan Firman ‘وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ’ yang artinya: dan orang-orang yang beriman pada ayat-ayat Kami.[3] Kaum Yahudi berkata ‘kami beriman pada yang Allah turunkan di dalam shuchuf dan Taurat’. Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Firman itu ialah umat Muhammad SAW secara khusus: ‘الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ’ artinya: yaitu orang-orang yang mengikti rasul nabi ummi yang mereka jumpai tertulis di sisi mereka di dalam Taurat dan Injil. Yang perintah agar mereka melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan menghalalkan kebaikan-kebaikan pada mereka dan mengharamkan kejelekan-kejelekan. Dan membebaskan dosa dan belenggu yang telah membelenggu mereka. Orang-orang yang telah beriman padanya dan mengikuti nur yang diturunkan bersamanya, merekalah orang-orang yang beruntung.”[4] Air mata Thalchah berderai karena terharu oleh penjelasan Surachbil. Tetapi lalu berkata, “Tidak! Saya sudah malu jika memasuki agama Islam lagi!.” Dan kakinya diayunkan untuk berlari, tetapi Suhrachbil menahannya dan berkata, “Thalchah! Saya takkan membiarkanmu! Kau harus bergabung dengan pasukanku!.” Thalchah berkata, “Terus terang saya takut dimarahi dan dibunuh oleh Khalid bin Al-Walid yang pendek itu.” Syurachbil menghibur, “Sudahlah! Beliau tidak ada di dalam pasukan kami. Yang memimpin pasukan ini adalah Amer bin Al-Ash.” Thalchah mengikuti Syurachbil untuk bergabung pada pasukan Muslimiiin. Kedatangan Syurachbil disambut dengan bahagia oleh pasukan Muslimiin. Mereka bertanya, “Hai Syurachbil! Siapa yang telah menolongmu ini?.” Thalchah sengaja menutupi wajahnya dengan sebagian kain surbannya. Syurachbil menjawab, “Inilah Thalchah bin Khuwailid yang pernah mengaku sebagai nabi.” Mereka berkata, “Apa dia telah bertobat pada Allah?.” Thalchah berkata, “Saya telah bertobat pada Allah.” Syurachbil membawa Thalchah menuju Amer bin Al-Ash. Thalchah mengucapkan salam: “Assalamu alaikum, selamat beremu lagi,” pada Amer.
[1] وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ [الأعراف/156]. [2] فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ [الأعراف/156]. [3] وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ [الأعراف/156]. [4] الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [الأعراف/157].
Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2012/02/kw-186-petolongan-datang-tak-terduga.html
|
| Terakhir Diperbaharui pada Minggu, 12 Februari 2012 08:15 |



