Pilih Artikel
Sponsor
Statistik
| Kunjungan hari ini: | 14 |
| Kunjungan kemarin: | 43 |
| Kunjungan bulan ini: | 1011 |
| Kunjungan bulan lalu: | 1574 |
| Kunjungan tahun ini: | 8169 |
| Kunjungan total | 11886 |
Artikel Terakhir
| KW 189: Yuqana Bersiasat |
|
|
|
| Kisah Islam - Kholid Bin Walid |
| Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam |
| Senin, 20 Februari 2012 09:38 |
|
(Bagian ke-189 dari seri tulisan Khalid bin Walid)
Ketika Abu Ubaidah telah membaca surat, maka berbahagia atas berita selamatnya Amer dan pasukan yang dipimpin. Lalu menulis surat jawaban: “Jika suratku telah kau baca, segeralah kembali ke Qaisariyah! Saya akan segera memberangkatkan pasukan untuk menggempur kaum Shaur (صور), Akka (عَكّاءَ), Tharabulus (طرابُلُس), dan Qaisariyah (قَيْسارِيَةَ), yang tidak mau mentaati Allah.”
Abu Ubaidah perintah agar pasukannya bersiap untuk berangkat ke Sachil. Abdullah Yuqana raja Chalab (Aleppo) berdiri untuk berkata, “Yang mulia, Allah telah menggulingkan kekufuran dan menjayakan ketauhidan. Saya ingin berangkat mendahului menuju kesana, dengan harapan bisa mendahului berperang sebelum lainnya.” Abu Ubaidah menjawab, “Ya Abdallah! Kalau memang tujuanmu untuk mendekat pada Allah, pasti Allah juga akan mendekatimu. Silahkan!.” Abdullah Yuqana bergegas menyiapkan pasukannya yang terdiri dari kaum Chalab. Mereka berjumlah 4.000 pasukan berkuda. Derap kaki kuda mereka membahana dan debu-debu beterbangan. Mereka mendahului Abu Ubaidah dan pasukannya.
Di antara pasukan Abu Ubaidah yang dibawa oleh Abdullah Yuqana, ada 3.000 bathriq yang telah Islam dan telah bertekat ikut berjihad dibawah pimpinan Jufas (جوفاس). Mereka telah menyadari bahwa agama Islam adalah kelanjutan dari agama Isa bin Maryam AS. Dan telah sadar bahwa Allah lah satu-satunya Tuhan yang harus disembah yang mutlak tidak berputra dan diputrakan.
Setelah Filasthin dan 80.000 pasukanya kabur dari Jabiyah menuju kerajaan Qaisariyah, lalu perintah agar 3.000 pasukan berkuda dari kota Tharabulus datang untuk memperkuat pertahanan kerajaan. Arak-arakan pasukan berkuda dari Tharabulus berbondong-bondong mengabulkan undangan Filasthin. Dalam perjalanan yang panjang itu, mereka istirahat di hutan dan mengikat kuda mereka. Tiba-tiba Raja Yuqana dan pasukannya muncul. Di dalam pasukan Yuqana ada raja Romawi bernama Filanthinus dan Jirfas pimpinan para bathriq yang telah Islam. Tadinya Filanthinus bertemu di jalan lalu bergabung pada pasukan Muslimiin di bawah pimpinan Yuqana. Jirfas memacu kudanya untuk mendekati pasukan dari Tharabulus, lalu mengucapkan salam dan bertanya, “Siapa kalian?.” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tadinya berlindung pada kaum Arab karena kami menyangka mereka baik. Ternyata mereka jahat dan agamanya jelek. Kami kaum Chalab (Aleppo), Qinasrin, Izaz, Darim, dan Anthakiyah, yang akan menghadap pada Raja Hiraqla.” Jirfas lega ketika mendengar jawaban mereka. Lalu berkata dengan lembut: “Istirahatlah di sisi kami sejenak untuk menghilangkan lelah. Kalian pasti khawatir pada serangan kaum Arab.” Jirfas yakin mereka tidak curiga bahwa dirinya telah Islam. Yuqana juga bertanya pada mereka: “Kalian akan diutus kemana?.” Mereka menjawab, “Raja Filasthin perintah agar kami ke Tharabulus.” Yuqana berkata, “Hati-hati! Setahu kami Abu Ubaidah berencana pergi ke Sachil.” Jirfas berkata, “Kekuasaan kita telah hilang dan hari-hari indah kita tinggal kenangan. Ternyata Salib yang kita sembah tidak bisa menolong kita.”
Arak-arakan kaum Romawi itu mau istirahat di sisi kaum Muslimiin yang dipimpin oleh Yuqana. Setelah capeknya hilang dan telah diberi makanan oleh pasukan Muslimiin, mereka pergi meneruskan perjalanan. Hampir saja Jirfas mengejar mereka, tetapi dihalang-halangi oleh Yuqana: “Jangan! Suruhlah pasukanmu agar mengenakan busana terbaik, agar orang-orang sungkan pada kalian.”
Setelah rencana muslihatnya matang, Yuqana membawa pasukan menuju Sachil (pantai) untuk menangkap sejumlah orang di bawah pimpinan Al-Charits bin Sulaim. Tangan mereka diikat erat hingga belikat. Ketika malam tiba, mereka dikumpulkan untuk diberi tahu, “Maaf saudara sekalian! Ini hanya siasat. Saya tidak murtad dari Islam, dan takkan mencelakai kalian. Ini siasat agar kaum Romawi menyangka saya telah menyerbu dan menangkap kalian kaum Arab.” Setelah tahu maksud Yuqana, Al-Charits dan tawanan lainnya menjadi tenang. Mereka berkata, “Kalau tujuan kau bersiasat untuk menegakkan Agama Allah maka Allah akan menolong kau mengalahkan musuh-musuh.” Beberapa pria disuruh oleh Yuqana agar berpura-pura membawa harta rampasan. Jirfas merasa tenang pada Yuqana karena para tawanan dan binatang para tawanan hanya dikumpulkan tidak dirampas. Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2012/02/kw-189-yuqana-bersiasat.html |



