Pilih Artikel
Sponsor
Statistik
| Kunjungan hari ini: | 17 |
| Kunjungan kemarin: | 43 |
| Kunjungan bulan ini: | 1014 |
| Kunjungan bulan lalu: | 1574 |
| Kunjungan tahun ini: | 8172 |
| Kunjungan total | 11889 |
Artikel Terakhir
| Allah yang Terkuat |
|
|
|
| Kajian Agama - Kajian Qur'an |
| Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam |
| Selasa, 21 Februari 2012 09:55 |
|
Perang terbesar sepanjang sejarah adalah Perang Badar yang terjadi pada hari Jumah tanggal 17 Ramadlan tahun 2 Hijriyah. Karena kaum Muslimiin dan para malaikat yang ikut dalam perang tersebut, dari kalangan yang paling mulia. Perang Badar terdiri dua kubu: kaum Muslimiin dipimpin oleh Rasulallah SAW didukung oleh Allah yang terkuat dan para malaikatNya; kaum Musyrik dipimpin Abu Jahl didukung oleh Syaitan dan pasukannya.
Sebetulnya perang itu telah direncanakan oleh kaum Musyrik. Abu Sufyan telah menarik saham dari seluruh kaum Musyrik di Makkah untuk modal berdagang ke Syam yang labanya akan dipergunakan sebagai berbekalan memerangi kaum Muslimiin. Nabi SAW tahu bahwa Abu Sufyan dan kafilahnya dari Syam akan lewat, sehingga bersbda pada para sahabatnya; “Saya mendapatkan laporan bahwa kafilah Abu Sufyan akan lewat. Bukankah kalian mau? Saya ajak menghadang mereka dengan harapan semoga Allah memberikan rampasan perang dari mereka untuk kita?.” Nabi SAW dan para sahabat berbondong-bondong akan menyongsong kafilah Abu Sufyan. Ternyata Abu Sufyan tahu kalau rombongannya akan dihalang-halangi, karena laporan dari mata-mata. Abu Sufyan berbelok untuk menyusuri jalan pantai, menghindari serangan nabi SAW dan para sahabatnya.
Melalui teriakan seorang utusan, Abu Jahl dan pasukannya tahu bahwa sahabat mereka bernama Abu Sufyan dan rombongannya yang membawa harta berjumlah banyak, dihalang-halangi oleh Muslimiin. Abu Jahl segera memberangkatkan pasukannya untuk melindungi kafilah Abu Sufyan dari serangan Muslimiin. Di tengah perjalanan Abu Jahl tahu bahwa kafilah Abu Sufyan telah selamat dan telah kabur melalui pantai, namun dia bersikeras memberangkatkan pasukannya menuju Badr. Dia berkata, “Tidak! Saya takkan pulang sebelum datang ke mata-air Badr untuk berpesta daging unta dan arak, sambil menikmati nyanyian biduanita kita.” Lalu mengarak pasukannya dengan menabuh genderang perang, dengan congkak dan sombong. Dan yakin bahwa mereka pasti akan menjadi pemenang.
Ketika kaum Muslimiin tahu bahwa Abu Sufyan dan rombongan telah kabur, dan bahwa Abu Jahl yang tidak diperhitungkan ternyata justru telah datang; berdebar-debar ketakutan bahkan yakin bahwa diri mereka akan segera tewas oleh keganasan serangan Abu Jahl dan pasukannya.
Perang yang mendebarkan itu berakhir dengan kemenangan Muslimiin atas kaum Musyrik. Kemenangan akbar itu diketahui telah direncanakan oleh Allah, karena setelah itu Allah berfirman: وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ [الأنفال/7، 8]. Artinya: Ketika itu Allah menjanjikan ‘salah satu dua golongan’ untuk kalian: “Sungguh itu untuk kalian.” Namun kalian senang bahwa sungguh selain yang memiliki senjata (kafilah Abu Sufyan) yang untuk kalian. Padahal Allah menginginkan menghakkan kebenaran dengan KalimatNya, dan menumpas akar kaum kafir. Untuk menghakkan kebenaran dan membatalkan barang batal, walaupun kaum yang berdosa benci. [Qs Al-Anfal 7-8].
Maksud penulis sederhana: “Di balik kehidupan yang nyata ini ada kehidupan yang tidak tampak: Allah yang terkuat, para malaikat, dan para syaitan. Allah terkuat yang selalu disembah oleh para malaikat selalu mendukung para hambaNya yang mentaatiNya; sedangkan syaitan selalu menggoda agar hamba-hamba Allah menetang Allah dan Rasulallah SAW.” Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2012/02/allah-yang-terkuat.html |



