Jadwal Kegiatan

<< November 2014 >> 
 Se  Se  Ra  Ka  Ju  Sa  Mi 
       1  2
  3  4  5  6  7  8  9
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Pilih Artikel

Statistik


Kunjungan hari ini:10
Kunjungan kemarin:64
Kunjungan bulan ini:1448
Kunjungan bulan lalu:1973
Kunjungan tahun ini:20245
Kunjungan total73045
Mengenal Hadits Shahih PDF Cetak E-mail
Kajian Agama - Kajian Hadits
Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam (merupakan salah satu ulama LDII dan Penulis Misteri Bilangan 7)   
Jumat, 09 Maret 2012 14:40

Kajian kitab Muqaddamah Ibnu Asshalach

 

Meskipun KH Nurhasan telah menyampaikan kajian Hadits yang shahih dan manfaatnya luar biasa yaitu Bukhari dan Muslim, bahkan kutubussittah. Namun para muballigh dan muballighat masih juga merasa kurang puas dengan penjelasan mengenai Hadits shahih, chasan, dan dhaif.

Ibnu Asshalach membedah tentang tiga pengertian itu di dalam kitabnya yang artinya:

Semoga Allah mengajar kau dan diriku secara khusus. Ketahuilah bahwa sungguh menurut para ahli Hadits, “Secara garis besar Hadits terbagi menjadi tiga: shahih, hasan, dan dhaif.

Hadits shahih ialah yang musnad (disandaran pada perowi) dan muttashil (bersambung) dari kemangkulan orang adil yang dhabith, dari guru-guru yang adil dan dhabith hingga selesai. Tidak ada yang syadza (salah baca), tidak ada yang illah (cacat). Syarat selain itu, selamat dari mursal (tidak mendengar pada sahabat), munqathi (tidak mendengar pada tabi), dan muadhal (isnadnya lepas lebih dari dua).”

 

Beberapa orang bertanya, “Kenapa di dalam Bukhari terdapat Hadits yang tidak shahih?.”

Jawabannya, “Walau begitu Bukhari meletakkan pada tempat yang paling tepat, sehingga justru menjadikan indah dan bermafaat. Contoh: صحيح البخاري - (ج 21 / ص 207)

قُلْتُ وَقَدْ كَانَ فِي هَذَا سُنَّةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهِ نَفَرٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَتَحَدَّثُوا عِنْدَهُ فَخَرَجَ رَجُلٌ مِنْهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فَقُتِلَ فَخَرَجُوا بَعْدَهُ فَإِذَا هُمْ بِصَاحِبِهِمْ يَتَشَحَّطُ فِي الدَّمِ فَرَجَعُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَاحِبُنَا كَانَ تَحَدَّثَ مَعَنَا فَخَرَجَ بَيْنَ أَيْدِينَا فَإِذَا نَحْنُ بِهِ يَتَشَحَّطُ فِي الدَّمِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بِمَنْ تَظُنُّونَ أَوْ مَنْ تَرَوْنَ قَتَلَهُ قَالُوا نَرَى أَنَّ الْيَهُودَ قَتَلَتْهُ فَأَرْسَلَ إِلَى الْيَهُودِ فَدَعَاهُمْ فَقَالَ آنْتُمْ قَتَلْتُمْ هَذَا قَالُوا لَا قَالَ أَتَرْضَوْنَ نَفَلَ خَمْسِينَ مِنْ الْيَهُودِ مَا قَتَلُوهُ فَقَالُوا مَا يُبَالُونَ أَنْ يَقْتُلُونَا أَجْمَعِينَ ثُمَّ يَنْتَفِلُونَ قَالَ أَفَتَسْتَحِقُّونَ الدِّيَةَ بِأَيْمَانِ خَمْسِينَ مِنْكُمْ قَالُوا مَا كُنَّا لِنَحْلِفَ فَوَدَاهُ مِنْ عِنْدِهِ قُلْتُ وَقَدْ كَانَتْ هُذَيْلٌ خَلَعُوا خَلِيعًا لَهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَطَرَقَ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ الْيَمَنِ بِالْبَطْحَاءِ فَانْتَبَهَ لَهُ رَجُلٌ مِنْهُمْ فَحَذَفَهُ بِالسَّيْفِ فَقَتَلَهُ فَجَاءَتْ هُذَيْلٌ فَأَخَذُوا الْيَمَانِيَّ فَرَفَعُوهُ إِلَى عُمَرَ بِالْمَوْسِمِ وَقَالُوا قَتَلَ صَاحِبَنَا فَقَالَ إِنَّهُمْ قَدْ خَلَعُوهُ فَقَالَ يُقْسِمُ خَمْسُونَ مِنْ هُذَيْلٍ مَا خَلَعُوهُ قَالَ فَأَقْسَمَ مِنْهُمْ تِسْعَةٌ وَأَرْبَعُونَ رَجُلًا وَقَدِمَ رَجُلٌ مِنْهُمْ مِنْ الشَّأْمِ فَسَأَلُوهُ أَنْ يُقْسِمَ فَافْتَدَى يَمِينَهُ مِنْهُمْ بِأَلْفِ دِرْهَمٍ فَأَدْخَلُوا مَكَانَهُ رَجُلًا آخَرَ فَدَفَعَهُ إِلَى أَخِي الْمَقْتُولِ فَقُرِنَتْ يَدُهُ بِيَدِهِ قَالُوا فَانْطَلَقَا وَالْخَمْسُونَ الَّذِينَ أَقْسَمُوا حَتَّى إِذَا كَانُوا بِنَخْلَةَ أَخَذَتْهُمْ السَّمَاءُ فَدَخَلُوا فِي غَارٍ فِي الْجَبَلِ فَانْهَجَمَ الْغَارُ عَلَى الْخَمْسِينَ الَّذِينَ أَقْسَمُوا فَمَاتُوا جَمِيعًا وَأَفْلَتَ الْقَرِينَانِ وَاتَّبَعَهُمَا حَجَرٌ فَكَسَرَ رِجْلَ أَخِي الْمَقْتُولِ فَعَاشَ حَوْلًا ثُمَّ مَاتَ قُلْتُ وَقَدْ كَانَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَرْوَانَ أَقَادَ رَجُلًا بِالْقَسَامَةِ ثُمَّ نَدِمَ بَعْدَ مَا صَنَعَ فَأَمَرَ بِالْخَمْسِينَ الَّذِينَ أَقْسَمُوا فَمُحُوا مِنْ الدِّيوَانِ وَسَيَّرَهُمْ إِلَى الشَّأْمِ.

 

Meskipun potongan Hadits ini mursal, tetapi karena dikaitkan dengan Hadits sebelumnya yang shahih, maka bisa diterima. Penentuan hukum seperti ini juga diikuti oleh Muslim.

Contoh Hadits dhaif karena tidak muttashil sampai Rasulillah SAW, tetapi disampaikan oleh Bukhari karena bermanfaat: صحيح البخاري - (ج 16 / ص 23)

قَالَ الشَّعْبِيُّ خُذْهَا بِغَيْرِ شَيْءٍ قَدْ كَانَ الرَّجُلُ يَرْحَلُ فِيمَا دُونَهَا إِلَى الْمَدِينَةِ

وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْتَقَهَا ثُمَّ أَصْدَقَهَا.

Artinya:

Assyabi berkata, “Ambillah riwayat ini tanpa ongkos. Sungguh seorang pria telah pergi ke Madinah hanya untuk mencari riwayat Hadits yang nilainya lebih redah daripada ini.”

Abu Bakr murid abi Chashin murid Abi Burdah murid ayahnya mendapatkan riwayat ini dari nabi SAW: “Dia memerdekakan lalu memberi maskawin pada wanita itu.”

Maksudnya pada zaman tabiin, orang-orang Khurasan dan lainnya yang mencari ilmu, mau menempuh perjalanan jauh hinga kota Madinah, yang tentunya biayanya banyak dan perjalanannya berat. Padahal yang mereka dapat hanya Hadits yang keshahihannya hanya di bawah yang diajarkan oleh Assyabi.

Rujukan: http://mulya-abadi.blogspot.com/2012/03/mengenal-hadits-shahih.html

 


Diperkuat dengan Joomla!. Designed by: joomla themes movie stars Valid XHTML and CSS.